Padang, (Antara) - Menhir atau batu besar seperti tiang atau tugu peninggalan kebudayaan megalit di Nagari Mahat, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, 80 persen belum tergali. "Sekitar 80 persen menhir di sini belum tergali, yang ada sekarang baru 20 persen kekayaan peradaban prasejarah di Maek," kata Koordinator Juru Pelihara Kenagarian Mahek dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Batusangkar yang meliputi Sumbar, Riau dan Kepulauan Riau, Zelpenedri saat dikonfirmasikan dari Padang, Senin. Menhir menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah batu besar seperti tiang atau tugu, yang ditegakkan di atas tanah, hasil kebudayaan megalit, sebagai tanda peringatan dan lambang arwah nenek moyang. Zelpenedri mengatakan menhir yang dilindungi pemerintah baru 840 buah sedangkan yang belum dipugar dan belum terawat jumlahnya hampir ribuan. "Usia menhir yang ditemukan di Kanagarian Mahat sekitar 3.000 tahun Sebelum Masehi,"ungkap dia. Mahat juga memiliki situs peninggalan kepurbakalaan yang dapat dijadikan sebagai objek wisata budaya dan penelitian. "Di Kabupaten Lima Puluh Kota, Nagari Mahat menjadi istimewa, karena memiliki menhir terbanyak di Kabupaten Lima Puluh Kota hingga dijuluki Nagari Seribu Menhir yang tersebar di setiap jorong nagari mahat," jelas Zelpenedri. Dia mengatakan, hanya di dua daerah Limapuluh Kota yakni Situjuh dan Luhak tidak ditemukan Menhir. "Maek punya menhir tertua di Sumbar, Menhir di Balubuih itu 1500 sebelum Masehi, tapi status menhir sebagai benda cagar budaya (BCB) belum final, akibatnya pengelolaan masih rutinitas belum ada program sebagaimana BCB yang sudah jelas statusnya," ujarnya. Menurut dia, berdasarkan dari penelitian pakar arkeologi, Menhir Mahat punya tiga makna, sebagai tanda makam karena ditemukan tulang belulang manusia, dan kedua sebagai tanda penghormatan. "Ketiga adalah sebagai tanda kepercayaan, karena menhir itu satu arah ke Gunung Sago,"jelas dia. Namun dari cerita turun termurun warga Koto Gadang Mahat, ada balai batu di lokasi menhir. Balai itu lambang pemerintahan, tempat raja yang secala berkala menggelar rapat pemerintahan yang kekuasaannya hingga ke Riau dan Jambi. Bahkan di balai batu juga dilakukan pembantaian sapi hitam. Ada batu di sini yang bila terjadi bencana, batu itu merunduk ke arah daerah bencana. Orangh zaman dulu menyembelih sapi hitam untuk tolak bala. "Tapi setelah Islam masuk sesajian seperti itu dikatakan musyrik sehingga budaya itu punah," jelas Zelpenedri.(*/sun)
Berita Terkait
PLN UP3 Solok Perkuat Budaya K3 lewat Apel dan Edukasi Bulan K3 Nasional 2026
Jumat, 30 Januari 2026 18:52 Wib
Wawako Hadiri Khatam Alqur'an Ke IV MDTA Masjid Istiqomah Tanah Garam
Jumat, 30 Januari 2026 18:49 Wib
Wawako Solok Serahkan Bantuan Bedah Rumah Baznas
Jumat, 30 Januari 2026 18:37 Wib
Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solok Terima Kunjungan Survei Lapangan SPAM Perumda Air Minum Pincuran Gadang
Jumat, 30 Januari 2026 18:29 Wib
Wako Hadiri Pisah Sambut Kepala Kementerian Agama Kota Solok
Jumat, 30 Januari 2026 18:23 Wib
Wako Padang Panjang ajukan pembangunan dan rehabilitasi infrastruktur ke Menteri PU
Jumat, 30 Januari 2026 18:10 Wib
Wako Solok hadiri penyerahan santunan dan makan bersama Anak Yatim
Jumat, 30 Januari 2026 18:07 Wib
Pariaman ajukan proposal pembangunan infrastruktur rusak akibat bencana ke Menteri PU
Jumat, 30 Januari 2026 18:06 Wib
