Simpang Empat,- (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat melalui Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura meminta para petani jagung tidak memakai benih yang murah dan tidak jelas dari mana produksinya agar produksi tetap terjaga.
"Jika memakai benih unggul produksi jagung bisa mencapai 5-7 ton per hektare. Jika benihnya tidak jelas maka produksinya akan jauh di bawah itu," kata Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Pasaman Barat Doddy San Ismail di Simpang Empat, Sumbar, Senin.
Menurut dia, secara umum petani harus bisa membedakan mana benih unggul mana yang tidak. Diantara cara membedakan adalah lihat bentuk benihnya, kode dimana produksi dan harganya.
"Itu secara umum ciri-cirinya. Penyuluh kita terus akan menyampaikan ke para petani dan kelompok tani yang ada," katanya.
Untuk target produksi jagung 2025, pihaknya menetapkan 223.236 ton di 11 kecamatan yang ada.
"Target produksi kita tingkatkan dibandingkan pada 2024 lalu yang realisasinya 212.993 ton," katanya.
Untuk mencapai target produksi itu, pihaknya akan melakukan sejumlah upaya diantaranya pemberian bantuan sarana produksi pertanian berupa benih, pupuk, dan obat-obatan melalui dana APBN, bantuan pupuk bersubsidi dan menambah luas tanam jagung
Lalu memberdayakan penyuluh dengan memberikan sosialisasi mengenai tanaman jagung.
Ia menyebutkan sentra produksi jagung terbesar berada di Kecamatan Luhak Nan Duo, disusul oleh Kecamatan Pasaman dan Kecamatan Talamau.
Lalu, Kecamatan Ranah Batahan, Kecamatan Kinali, Kecamatan Koto Balingka, dan Kecamatan Sungai Beremas.
Selanjutnya, produksi jagung juga ada Kecamatan Sungai Aur, Kecamatan Lembah Melintang, Kecamatan Gunung Tuleh, dan Kecamatan Sasak Ranah Pasisia.
"Pada umumnya tanaman jagung cukup diminati oleh masyarakat karena harganya relatif stabil," ujarnya.