Saksikan perjalanan peristiwa penting Kota Padang di pentas teater komunitas "Nan Tumpah"

id berita padang,berita sumbar,teater

Saksikan perjalanan peristiwa penting Kota Padang di pentas teater komunitas "Nan Tumpah"

Poster pertunjukan yang akan digelar Komunitas Seni Nan Tumpah. (ANTARASUMBAR/HO-KomunitasSeniNanTumpah)

Persiapan serta penggarapan karya ini sudah dilakukan dalam tiga bulan terakhir demi menyuguhkan pertunjukan menawan bagi penonton,
Padang (ANTARA) - Komunitas Seni Nan Tumpah didukung Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI akan mengisahkan perjalanan serta peristiwa-peristiwa penting Kota Padang sejak masa lampau lewat pertunjukan teater.

Karya dengan judul “Catatan si Padang" itu akan dipentaskan di Gedung Genta Budaya Padang yang berlangsung 23-25 Oktober 2021 pukul 20.00 WIB.

"Persiapan serta penggarapan karya ini sudah dilakukan dalam tiga bulan terakhir demi menyuguhkan pertunjukan menawan bagi penonton," kata Sutradara pentas ini Mamatma Muhammad saat memaparkan persiapan teater di kafe Kopi Batigo, Kamis.

Ia menjelaskan “Catatan si Padang" akan menghidangkan karya pertunjukan untuk menangkap dinamika, ragam peristiwa, serta perkembangan Padang sebagai sebuah kota. Mulai dari masa penjajahan Belanda, Jepang, hingga hari ini.

Beberapa lintasan peristiwa penting yang diklaim punya andil dalam pembangunan kota itu diinterpretasikan dalam wujud fragmen-fragmen pertunjukan oleh 30 pemain.

Ia mengatakan pertunjukkan yang secara keseluruhan melibatkan 80 orang tersebut juga mengakomodir banyak unsur kebudayaan, etnis-etnis yang pernah dan masih menjadi bagian dari perkembangan Kota Padang.

Sebut saja balanse madam, saluang dan dendang Pauah, Barongsai, Tari India, tari Sampan, tari piriang, silek Pauah, dan lainnya.

Selain gagasan dan capaian artistik, gagasan yang ingin diusung dalam pertunjukan ini adalah perihal semangat kerja kolektif lintas disiplin bidang seni, budaya, dan latar belakang sosial. Apalagi perjalanan Padang tak bisa lepas dari banyak peristiwa dan budaya.

Pertunjukan dengan durasi sekitar satu jam itu digarap berdasarkan teks dramatik yang ditulis oleh Muhammad Ibrahim Ilyas.

Pemimpin produksi Ismail Idola menjelaskan pertunjukan ini awalnya disiapkan dalam format video untuk disiarkan di situs web Indonesiana.tv.

Dalam rangkaian Festival Bumi Rempah Nusantara untuk Dunia yang diadakan oleh Dirjen Kebudayaan Kemenristekdikti di 13 titik simpul Festival Jalur Rempah seluruh Indonesia.

Namun demi menjawab antusiasme rekan-rekan penikmat dan pegiat seni di Padang, mereka memutuskan untuk menyelenggarakan pertunjukan secara langsung.

Banyak komunitas seni terlibat dalam pementasan itu seperti Komunitas Tari Galang, Ruang Fine Art Villa A, Komunitas Sarimata, Rumah Drama Imaji, Impessa Dance Company, 3AM Studio, Komunitas Lembar Seni, Rotan Artwork, Komunitas Minang Bagurau Mendunia, Grup Maena dan Balanse Rancak Basamo, serta individu dari lintas disiplin bidang seni.

Sedikit sinopsis dari Catatan si Padang yakni bercerita tentang perjalanan seorang anak menyusuri kawasan Kota Tua Padang dengan alur mundur.

Dalam perjalanannya anak tersebut akan "ditarik" masuk ke dimensi-dimensi masa lalu, yang di dalamnya terdapat penggalan kisah lampau sejak abad ke-15 yang dikenal sebagai simpul perdagangan.

"Namun demikian kami tidak ingin mengambil porsi dalam pertunjukan berbau sejarah, titik beratnya adalah reaksi masyarakat saat itu terhadap peristiwa yang terjadi," jelasnya.

Kegiatan tersebut juga disokong oleh Forum Sumbar Kreatif selaku asosiasi wadah bagi komunitas yang bergerak di bidang seni dan Ekraf di Sumatera Barat.

"Kami mengapresiasi serta mendukung kegiatan ini demi memberi ruang bagi para seniman untuk mengekspresikan karyanya," jelasnya.

Ia optimis Sumbar adalah gudang para seniman dan pelaku seni kreatif, dan secara kolektif akan menciptakan iklim kesenian yang baik di Sumbar.