Pertandingan tinju kualifikasi Olimpiade 2020 di London digelar tanpa penonton

id kualifikasi olimpiade tinju, turnamen tinju london, olahraga terdampak corona, farid walizadeh

Pertandingan tinju kualifikasi Olimpiade 2020 di London digelar tanpa penonton

Web. Logo Olimpiade Tokyo 2020 (tokyo2020)

Jakarta, (ANTARA) - Pertandingan tinju kualifikasi Olimpiade 2020 di Eropa akan tertutup bagi penonton mulai Senin karena wabah virus corona, kata penyelenggara, seperti disiarkan Reutersyang dipantau dari Jakarta, Senin.

Satuan tugas tinju Komite Olimpiade Internasional (IOC) yang menyelenggarakan pertandingan tersebut di Copper Box, Queen Elizabeth Olympic Park, London, Inggris mengatakan keputusan tersebut dibuat karena "kekhawatiran bagi publik, atlet dan sukarelawan".

Pertandingan tinju tersebut juga akan disiarkan langsung oleh Olympic Channel, dengan 53 pertandingan dijadwalkan pada Senin.

Minggu adalah hari kedua kompetisi, yang dihadiri 342 petinju putra dan putri dari 43 negara memperebutkan 77 tempat di Olimpiade.

Kualifikasi lainnya dijadwalkan di Paris pada Mei, namun itu masih belum pasti karena olahraga di seluruh benua tersebut dibatalkan karena wabah virus corona.

Kekecewaan dialami para pendukung tuan rumah ketika petinju putri Inggris dari kelas welter Rosie Eccles tersingkir dengan hasil penilaian 4-1 melawan unggulan keempat asal Rusia Saadat Dalgatova, yang mencapai perempat final.

"Berpotensi satu peluang lagi... tapi saya harus membuktikan sekarang setelah penampilan itu bahwa saya juga mendapat tempat pada kualifikasi kedua. Saya berharap mimpi Olimpiade saya tidak berakhir dan ini hanya guncangan dalam perjalanan," kata Eccles kepada BBC.

Harapan pengungsi asal Afghanistan yang tidak punya negara Farid Walizadeh untuk bertarung pada Olimpiade Tokyo 2020 mengalami pukulan setelah cedera membuatnya absen dari pertandingan kelas ringan.

Petinju Polandia Damian Durkacz mendapat kemenangan WO (walkover) ke babak 16 besar pada kategori 57-63kg karena petinju berusia 22 tahun tersebut tidak tampil.

Walizadeh, yang melarikan diri dari Afghanistan dengan berjalan kaki saat berusia tujuh tahun dan berakhir di panti asuhan di Istanbul sebelum direlokasi ke Portugal, juga masih bisa lolos di Paris.

Namun, mencapai Tokyo selalu merupakan jalan panjang, bagi anak muda yang menerima beasiswa dari Komite Olimpiade Internasional (IOC) Maret lalu untuk berlatih penuh waktu.

"Ketika bertinju, saya sepenuhnya fokus pada apa yang saya lakukan, sehingga saya lupa dengan apa yang terjadi di masa lalu. Dan itu membantu saya dalam trauma. Sekarang saya berlatih," kata Walizadeh kepada Reuters di Lisabon bulan lalu.

"Saya bekerja keras dan ingin menginspirasi orang bahwa selalu ada kesempatan kedua jika mereka menginginkannya. Saya ingin menginspirasi, memotivasi orang untuk tidak mengatakan 'OK, sudah selesai, saya telah kehilangan segalanya'.

"Ya, saya telah kehilangan rumah saya, ya saya kehilangan masa kecil saya, saya kehilangan hidup saya, negara saya, kota saya, keluarga saya, tapi Kamu bisa membangun semuanya lagi."

Olimpiade Tokyo rencananya dimulai pada Juli.

Turnamen London diselenggarakan oleh satuan tugas IOC setelah penangguhan federasi internasional AIBA Juni lalu karena masalah tata kelola dan keuangan. (*)

Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar