Masyarakat mulai bosan, TdS 2019 butuh penyegaran

id singkarak,balap sepeda

Sejumlah warga melihat pebalap Tour de Singkarak 2018 pada etape delapan, melintas di daerah Teluk Bayur, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, Minggu (11/11/2018). Pada etape ke delapan yang dimulai dari Kabupaten Pesisir Selatan menuju Kota Pariaman, diikuti sebanyak 76 peserta dengan jarak tempuh 158 kilometer, pembalap Australia Jesse Ewart yang memperkuat tim Malaysia Sapura Cycling menjadi yang terbaik. (ANTARA FOTO/Muhammad Arif Pribadi/aww.)

Padang, (ANTARA) - Ajang balap sepeda internasional kategori 2.2, Tour de Singkarak (TdS) yang akan memasuki "usia" 11 tahun pada 2019 agaknya sudah membutuhkan penyegaran agar manfaatnya untuk daerah terutama untuk menarik datangnya wisatawan, tidak hanya sekadar harapan tetapi benar-benar dirasakan dan bisa terukur.

TdS saat "kelahirannya" pada 2009 memang ditujukan untuk dua hal. Selain balapan sepeda bergengsi, ajang itu juga dimaksudkan untuk memperkenalkan dan mempromosikan pariwisata Sumatera Barat (Sumbar) ke dunia internasional.

Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui, begitulah kira-kira filosofinya. Kabupaten dan kota di provinsi itu sangat bersemangat menjadi lokasi start atau finish dan berlomba-lomba menonjolkan potensi seni budaya dan keindahan daerah.

Harapan itu, semakin mekar saat Menteri Pariwisata Arief Yahya pada TdS 2015 menyebut ajang itu mampu menjaring 550.000 penonton di seluruh dunia dan mencatatkan diri sebagai peringkat kelima dunia dalam hal jumlah penonton pada ajang balap sepeda.

Penontonnya hanya kalah dari Tour de France (Prancis) yakni 12 juta penonton, Giro d'Italia (Italia) 8 juta orang, Vuelta a Espana (Spanyol) 5 juta orang, Santos Tour Down Under (Australia) 750.000 orang.

Hal itu tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi pemerintah daerah dan masyarakat Ranah Minang. Setidaknya, 550.000 orang itu telah mengetahui bahwa pada satu titik di dunia, di Indonesia, ada satu daerah bernama Sumatera Barat yang memiliki keindahan alam luar biasa dan seni budaya yang memikat.

Muaranya jelas, kunjungan wisatawan ke Sumbar terus meningkat sehingga manfaatnya secara ekonomi bisa langsung dirasakan oleh masyarakat. Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di bidang pariwisata berkembang, hotel dan penginapan bertambah, tenaga kerja terserap dan roda perekonomian bergerak makin mantap.

Data Dinas Pariwisata setempat, jumlah wisatawan terus meningkat setiap tahun. Pada 2017 tercatat 7,6 juta wisatawan mengunjungi Sumbar dan naik menjadi sekitar 8,2 juta pada 2018. Pada 2019 ditargetkan 8,6 juta orang bisa datang dengan rincian 8,5 juta wisatawan nusantara dan 100 ribu wisatawan asing.

Namun seberapa besar kontribusi Tour de Singkarak atas kenaikan jumlah wisatawan itu belum bisa diukur. Sementara sejumlah kekurangan dalam rentang sepuluh kali pelaksanaan mulai menjadi sorotan.

Pakar komunikasi Unand DR Emeraldi Chatra mengatakan "pesan" yang diterima oleh masyarakat Sumbar saat ini terkait pelaksanaan TdS saat ini belum benar-benar positif, terutama karena banyaknya terjadi kemacetan pada jalur yang dilewati pebalap.

Antusiasme yang muncul saat awal-awal TdS digelar mulai tergerus oleh fakta yang ditemui maupun informasi yang beredar di media sosial tentang kemacetan akibat even itu.

Saat ini dalam benak masyarakat "image" TdS itu makin bergeser dari even kebanggaan daerah menjadi kegiatan yang membuat pengalihan arus, penutupan jalan dan kemacetan.

"Image" itu tidak boleh dibiarkan dan harus diantisipasi agar TdS sebagai salah satu ajang yang dibanggakan daerah tidak "punah".

Pandangan yang kurang positif itu tidak hanya menjangkiti masyarakat, tetapi juga pemerintah daerah. Kabupaten dan kota di Sumbar juga mulai tidak terlalu bersemangat dengan TdS, terbukti tidak semua daerah yang menganggarkan dana pelaksanaannya dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) murni, hingga Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit mencak-mencak.

Ia menilai TdS adalah harga diri Sumbar dan harus dipertahankan, tidak boleh sampai terhenti meski sejak 2018 hampir seluruh anggaran dibebankan pada daerah.

Bagaimanapun fenomena lesunya dukungan terhadap TdS itu harus diterima sebagai sebuah tantangan, alih-alih kendala, bagi Pemerintah Provinsi Sumbar untuk "menyelamatkan" TdS.

Inovasi dan kreatifitas harus dikedepankan. Sesuatu yang baru harus dimunculkan supaya masyarakat kembali antusias dan mendukung TdS.

Salah satu kebaruan yang kemungkinan diusung dalam TdS 2019 adalah rute balapan yang tidak hanya berada di Sumbar, tetapi dikembangkan ke provinsi tetangga, Jambi.

Kesepakatan antara Sumbar dan Jambi tentang pelaksanaan itu telah tercapai dan diharapkan pada TdS 2019 sudah ada dua daerah di Jambi yang ikut menjadi tuan rumah, yaitu Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh.

Apalagi menurut Gubernur Jambi Fachrori Umar Kerinci dan Sungai Penuh juga mengandalkan sektor pariwisata sebagai potensi pengembangan ekonomi daerah, sehingga memiliki kesamaan dengan sebagian besar wilayah Sumbar yang dilalui pebalap TdS.

Ia berharap keikutsertaan dua daerah itu berdampak positif terhadap pengembangan pariwisata dan perekonomian masyarakat setempat.

Kepala Dinas Pariwisata Sumbar Oni Yulfian menilai masuknya dua daerah dari Jambi dalam TdS 2019 harus dijadikan sebuah momentum untuk menyegarkan pelaksanaan TdS.

Selain rute itu nanti juga diharapkan ada juga konsep-konsep baru yang muncul terkait kegiatan pendukung TdS di masing-masing daerah.

Bahkan mungkin dalam perjalanannya akan ada solusi terhadap mekanisme buka tutup jalan untuk pebalap sehingga tidak mengganggu aktivitas masyarakat.

Ia mengakui sejak even itu diserahkan sepenuhnya kepada daerah, cukup banyak tantangan yang dihadapi. Salah satunya adalah promosi pada media internasional.

Pada 2015, Kementerian Pariwisata menyebut menggelontorkan hingga Rp10 miliar untuk promosi TdS pada saluran televisi di berbagai negara di dunia. Hasilnya segera terlihat dengan jumlah penonton yang menduduki peringkat lima terbanyak di dunia untuk balap sepeda.

Pada TdS 2018, anggaran hampir seluruhnya dibebankan pada APBD provinsi dan kabupaten/kota sehingga promosi yang jor-joran itu sulit dilaksanakan.

Sebagai perbandingan anggaran yang disediakan dalam APBD Sumbar 2018 mencapai Rp8 miliar. Jumlah itu masih lebih sedikit dari anggaran promosi TdS saat masih dikelola pusat.

Meski demikian, pelaksanaannya pada 2018 tergolong sukses sehingga UCI memberikan penilaian positif. Bahkan organisasi itu mendorong agar kelas TdS bisa dinaikkan dari 2.2 menjadi 2.1 karena dinilai sudah layak.

Merujuk data TdS sejak 2009 hingga 2018, sebenarnya penyegaran itu sudah mulai terjadi, terutama dalam hal patahnya dominasi pebalap Iran dalam ajang itu.

Sejak dimulai 2009 hingga pelaksanaan ke-10 pada 2018, pebalap Iran terlihat sangat mendominasi dengan delapan kali menjadi kampiun. Bahkan jika melihat tim, pebalap Spanyol yang menang pada 2012 yaitu Óscar Pujol juga berasal dari Azad University Cross Team Iran.

Namun pada 2018, semua dipatahkan oleh pebalap dari Australia Jesse Ewart yang tergabung dalam Team Sapura Cycling. Mungkinkah juara baru dan rute baru itu akan bisa menjadi momentum untuk TdS yang "baru" pula? Yang lebih segar dan mendapat dukungan dari semua pihak? Itu patut ditunggu pada 2-10 Nofember 2019. (*)
Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar