Dermaga Terapung rusak, Pariaman alihkan pemberangkatan kapal wisata ke Muaro

id Genius Umar

Wakil Wali Kota Pariaman, Genius Umar. (Antara Sumbar/Muhammd Zulfikar)

BPBD memiliki informasi tentang keadaan cuaca, apabila bendera merah berkibar artinya setiap pengusaha kapal wisata maupun nelayan dilarang ke laut karena cuaca tidak mendukung
Pariaman, (Antaranews Sumbar) - Pemerintah Kota Pariaman, Sumatera Barat, mengalihkan lokasi pemberangkatan kapal wisata dari Dermaga Terapung di Pantai Gandoriah ke Muaro Pariaman untuk memperlancar transportasi ke pulau wisata daerah itu.

"Pengalihan ini ditujukan agar akses kunjungan wisata ke Pulau Angso Duo tidak terputus akibat kerusakan dermaga terapung yang terjadi beberapa waktu lalu," kata Wakil Wali Kota Pariaman, Genius Umar di Pariaman, Senin.

Ia mengatakan sebagai salah satu tempat wisata unggulan di daerah itu, akses pariwisata menuju Pulau Angso Duo diharapkan tidak terputus dengan mencarikan alternatif lokasi pemberangkatan lain.

Apalagi katanya, Muaro Pariaman sebelumnya juga sudah menjadi tempat pemberangkatan wisatawan ke Pulau Angso Duo sebelum adanya dermaga terapung.

Namun ujar dia, pengalihan pemberangkatan tersebut hanya diizinkan apabila cuaca di daerah itu normal, dan pengusaha kapal wisata mentaati arahan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk menghindari kecelakaan transportasi laut.

"BPBD memiliki informasi tentang keadaan cuaca, apabila bendera merah berkibar artinya setiap pengusaha kapal wisata maupun nelayan dilarang ke laut karena cuaca tidak mendukung," ujarnya.

Terkait kerusakan dermaga terapung yang berada di bibir Pantai Gandoriah katanya, pemerintah daerah telah meminta bantuan tenaga ahli dari Universitas Andalas untuk membaca situasi arus laut.

Sementara Wakil Ketua DPRD Kota Pariaman, Syafinal Akbar juga menyarankan agar pemberangkatan kapal wisata dialihkan ke Muaro Pariaman.

"Pengalihan tersebut agar wisata ke Pulau Angso Duo tetap jalan sehingga pemasukan daerah terus berjalan," katanya.

DPRD Pariaman ujar dia, segera memanggil dinas terkait untuk meminta keterangan terkait kerusakan dermaga yang baru saja dibangun tersebut.

"Segera kami panggil karena ini dipertanyakan, serah terima dermaga terapung pada 1 Februari namun sudah rusak parah 4 Agustus 2018," katanya.

Pihaknya juga mempertanyakan apakah material yang digunakan dalam pembangunan tersebut sudah sesuai dengan volume yang tercantum.

"Perencanaan pembangunan dermaga terapung ini juga menjadi pertanyaan besar yang harus dijawab oleh pihak rekanan dan dinas terkait," kata dia.

Kepala Bidang Pengairan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR) Kota Pariaman Feri Andri mengatakan pembangunan dermaga terapung tersebut menghabiskan biaya mencapai Rp5,7 miliar yang bersumberkan APBD.

Terkait kerusakan tiga tiang pancang utama tersebut ujarnya, diduga akibat pengaruh cuaca buruk dan gelombang tinggi yang melanda daerah itu beberapa waktu terakhir. (*)
Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar