Berziarah ke makam Puteri Kaca Mayang di Kabupaten Siak, Riau

id Makam Putri Kaca Mayang,pariwisata riau,wisata religi riau,objek wisata riau

Sejumlah pengunjung berziarah ke Makam Puteri Kacang Mayang di Koto Gasib Kabupaten Siak, Riau, Kamis (27/6/2019). Makam Putri Kaca Mayang adalah salah satu makam bersejarah peninggalan Kerajaan Gasib di Provinsi Riau, yang kini merupakan objek wisata religi dan dikelola oleh perusahaan kelapa sawit PT. Kimia Tirta Utama karena makam itu berada di dalam hak guna usaha perusahaan.(ANTARA/FB Anggoro)

Pekanbaru, (ANTARA) - Provinsi Riau memiliki satu wisata religi unik yang berada di tengah perkebunan kelapa sawit, yakni makam Puteri Kaca Mayang.

Antara sempat menyambangi situs makam tersebut pada Kamis (27/6), dan untuk mencapainya butuh waktu tempuh sekitar dua jam jalan darat dari Kota Pekanbaru. Makam tersebut tepatnya berlokasi di Desa Gasib Kecamatan Koto Gasib, Kabupaten Siak. Makam tersebut terletak di dalam areal perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Kimia Tirta Utama (KTU).

Meski begitu, petugas keamanan mempersilakan setiap pengunjung dan wisatawan yang ingin berziarah ke situs makam tersebut.

Makam itu terletak di atas sebuah bukit kecil, pengunjung harus menaiki 20-an anak tangga untuk mencapainya. Situs makam terdapat beberapa bangunan dengan makam menjadi pusatnya di tengah.

Bangunan utama berbentuk benteng tanpa atap yang mengelilingi makam. Bangunan itu berwarna hijau muda dengan batu bata terekspos warna merah.

Di bagian kanan dari pintu masuk makam ada bangunan mushalla yang mungil, sedangkan bagian kiri makam terdapat saung-saung untuk pengunjung beristirahat. Suasana makam cukup teduh karena terdapat beberapa pohon.

Pada bagian tengah bangunan utama terdapat makam Puteri Kaca Mayang yang dihiasi undakan dengan keramik putih. Makam tersebut bernuansa hijau muda seperti warna benteng.

“Saya baru tahu ternyata Putri Kaca Mayang benar ada makamnya. Selama ini saya kira hanya legenda,” kata Herlina, seorang wisatawan dari Kota Pekanbaru.

Administratur PT KTU, A Zulkarnain, mengatakan makam tersebut memang berada di dalam hak guna usaha perusahaan. Ketika perusahaan mulai membuka kebun sekitar tahun 1994 makam tersebut awalnya jadi lokasi pembangunan pabrik kelapa sawit. “Tapi karena ada makam akhirnya tidak jadi dan lokasi pabriknya digeser,” kata Zulkarnain.

Karena makam tersebut memiliki nilai sejarah bagi masyarakat Riau, khususnya Siak. Perusahaan membangun sekelilingnya agar indah, dan nyaman bagi pengunjung. Makam tersebut biasanya ramai dikunjungi pada hari Jumat terutama pengunjung dari Kabupaten Siak.

“Pada masa Pilkada 2019 banyak sekali yang datang membawa bermacam-macam makanan diletakan di sekitar makam. Tujuannya apa, saya juga kurang tahu,” katanya.

Makam Puteri Kaca Mayang dikaitkan dengan legenda Kerajaan Gasib di Siak. Namun, kisahnya hanya diturunkan dari cerita mulut ke mulut, tidak pernah ditemukan artefak pasti untuk mengetahui persis keberadaan kerajaan itu.

Puteri Kaca Mayang menurut legenda adalah puteri Raja Gasib yang cantik jelita. Karena kecantikannya, seorang Raja Aceh nekad menculiknya setelah keinginannya meminang Puteri Kaca Mayang ditolak oleh Raja Gasib.

Puteri Kaca Mayang berhasil diselamatkan oleh orang kepercayaan bernama Panglima Gimpam yang dikisahkan sakti dan pemberani. Namun, puteri menderita sakit parah selama perjalanan pulang dari Aceh dan meninggal sebelum tiba di Gasib.

Panglima Gimpam tetap membawa jenazah Puteri Kaca Mayang pulang, dan seluruh kerajaan termasuk Raja Gasib sangat berduka. Putri Kaca Mayang akhirnya dimakamkan di kerajaan itu, namun Raja Gasib yang sangat sedih memilih meninggalkan tahta dan menyepi ke Gunung Ledang, Malaka.

Panglima Gimpam yang diwariskan tahta kerajaan juga tidak mau meneruskan Kerajaan Gasib dan memilih membuka perkampungan baru, yang dipercaya sebagai cikal bakal Kota Pekanbaru sekarang. Nama Kaca Mayang pernah digunakan sebagai nama taman hiburan di Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru, namun sudah diruntuhkan dan berganti jadi ruang terbuka hijau dengan nama yang sama. (*)

Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar