Peningkatan literasi bukan sekadar tingkatkan daya baca, kata pengamat UNP

id UNP,Pendidikan,Literasi

Guru Besar Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang (UNP) Sumatera Barat Prof Sufyarma Marsidin (ANTARA SUMBAR/Mario S Nasution)

Padang (ANTARA) - Peningkatan daya literasi anak bukan sekadar meningkatkan daya baca namun lebih kepada cara pembelajaran, kata pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Padang (UNP) Sumatera Barat Prof Sufyarma Marsidin.

“Literasi bukan hanya persoalan membaca saja namun lebih menitikberatkan pada budaya belajar dan pembentukannya harus dilakukan secara berkelanjutan,” katanya di Padang, Minggu.

Menurut dia, dalam meningkatkan daya literasi anak harus ditopang oleh tiga zona, yakni zona sekolah, zona masyarakat, dan zona keluarga yang saling menguatkan sehingga proses pembelajaran anak menjadi sempurna.

Ia mengatakan selama ini sekolah telah mengambil perannya dalam peningkatkan daya baca namun peran masyarakat dan keluarga yang masih rendah.

“Ketiga zona tersebut merupakan kesatuan yang utuh dan saling menopang satu dengan yang lainnya. Jika sekolah saja yang bekerja dan yang lain tidak tentu target yang kita inginkan tidak akan terwujud,” katanya.

Apalagi, katanya, khususnya di setiap keluarga, seharusnya orang tua mulai dari ayah dan ibu harus mengambil peranuntuk meningkatkan daya baca anak di rumah.

Ia menilai selama ini banyak orang tua yang abai karenamereka masing-masing sibuk dengan ponsel pintar mereka danpekerjaan yang dibawa ke rumah sehingga tidak terjalin komunikasi yang baik dengan anak-anaknya.

“Selain komunikasi, pembelajaran dari orang tua kepada anak tidak terjadi. Ruang makan merupakan tempat yang tepat untuk membicarakan semua, termasuk mendidik anak-anak. Ini yang harus diperhatikan,” katanya.

Ia menilai untuk Sumatera Barat, masyarakatnya lebih senang bercerita dan melalui ceritalah orang tua dapat memindahkan pengalaman yang mereka miliki kepada anak-anak mereka.

“Mulai membicarakan adat, budaya, pendidikan semuanya bisa diceritakan namun yang terpenting adalah bukan cerita kosong,” katanya.

Ia mengatakan setiap keluarga harus kembali pada pendidikan informal, yaitu pendidikan yang tidak mereka dapatkan di sekolah namun di dalam keluarga dan masyarakat.

“Jika semua berjalan dengan baik tentu anak-anak memiliki wawasan yang luas dan memiliki rasa ingin tahu yang besar dan tentunya mereka akan membaca,” katanya.

Pewarta :
Editor: Miko Elfisha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar