Batu angkek-angkek, batu peramal dari Tanah Datar

id batu angkek-angkek

Wisatawan mencoba mengangkat batu angkek-angkek di di Nagari Tanjuang, Kecamatan Sugayang, Kabupaten Tanah Datar, Minggu, 17/3 (Antara Sumbar/Etri Saputra)

Batusangkar (ANTARA) - Objek wisata Batu Angkek-Angkekyang terletak di Nagari Tanjuang, Kecamatan Sungayang Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat diyakini bisa meramal keinginan atau cita-cita seseorang tercapai atau tidaknya.

Berlokasi sekitar 11 kilometer dari pusat kota Batusangkar, bagi pengunjung yang hendak mencoba harus duduk bersimpuh dan bersila di depanbatu tersebut kemudian mengangkat batu itu dan merangkulnya ke atas paha, dengan membacakan niat di dalam hati.

Kalau batu tersebut bisa diangkat hingga dipeluk di atas paha, tandanya niat yang diucapkan dalam hati akan terkabul. Begitu mitos yang disematkan kepada batu angkek-angkek tersebut.

Kalau dilihat, ukuran batu angkek-angek tersebut tidaklah lebih besar dari batu tempat gilingan cabai dan lebih mirip dengan punggung kura-kura. Namun batu itu memiliki berat yang berubah-ubah.

Banyak juga orang yang memiliki badan besar namun kesulitan mengangkat dan bahkan ada yang tidak sanggup mengangkatnya.

Alfi Putra, salah seorang pengelola objek wisata batu angkek-angkek mengatakan batu angkek-angkek bukanlah sebagai tempat memohon. Tapi batu angkek sebagai salah satu ciptaan Allah yang memiliki berat berubah-ubah.

Batu tersebut adalah turunan dari Datuak Bandaro Kayo salah seorang kepala kaum suku Piliang didaerah itu. Di belakang batu itu terdapat tulisan berlafadz Allah dan Muhammmad.

"Karena bertuliskan nama yang maha kuasa, sebelum mengangkat batu tersebut pengunjung dianjurkan membaca bacaan bismillah dan Shalawat Nabi tiga kali," katanya di Batusangkar, Minggu.

Ia menekankan batu angkek-angkek jangan dijadikan sebagai tempat memohon hanya untuk mengharapkan masa depan. Karena batu angkek-angkek sama juga halnya dengan benda lain.

"Saya mengajak pengunjung bahwa jadikan batu angkek-angkek sebagi sugesti dan motivasi yang harus dipikul, sama halnya dengan cita-cita. Jangan jadikan tempat memohon karena itu adalah syirik," katanya.

Ia mengatakan semenjak batu angkek-angkek dijadikan sebagai salah satu objek wisata Tanah Datar, keberadaan semakin populer dan banyak didatangi oleh wisatawan.

"Baik wisatawan dari nusantara maupun wisatawan mancanegara," ujarnya.

Salah seorang pengunjung Putra mengatakan mencoba mengangkat batu itu bukan soal percaya tidak percaya, tapi sebagai motivasi dan ingin mencoba mengangkat batu tersebut.

"Kalau dilihat secara kasat mata batu itu tidak besar, namun untuk mengangkat batu ke atas paha itu lumayan berat," ujarnya.

Diketahui, batu angkek-angkek sejarahnya diawali dari mimpi Datuak Bandaro Kayo salah seorang kepala kaum suku Piliang dulu didaerah itu.

Di dalam mimpinya ia didatangi oleh Syech Ahmad dan disuruh untuk mendirikan sebuah perkampungan yang sekarang dikenal dengan kampung Palangan.

Pada saat memulai pembangunanperkampungan tersebut saat itu mendirikan tonggak pertama terjadi gempa lokal dan hujan panas selama 14 hari 14 malam.

Karena adanya peristiwa itu di adakanmusyawarah, dan saat musyawarah berlangsung terdengar suara ghaib dari lubang pemancangan bangunan bahwa di lokasi itu terdapat sebuah batu.

Sekarang batu itu dikenal dengan batu angkek-angkek dan ramai dikunjungi oleh wisatawan.

Pewarta :
Editor: Ikhwan Wahyudi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar