Dian Anugrah, sang penjaga keotentikan rendang Padang

id randang

Ilustrasi marandang. (ANTARA FOTO/Arif Pribadi)

Padang, (Antaranews Sumbar) - Siapa sangka pria lulusan Fakultas Hukum Universitas Andalas (Unand) Padang tersebut kini menjelma menjadi seorang chef, profesi yang sebelumnya tak terbayangkan.

"Kamu harus fokus di kuliner Minang karena tidak banyak yang berkecimpung di sini, kalau tidak ada generasi muda yang menggeluti beragam resep masakan Minang yang kaya bisa punah," pesan sang guru Wiliam Wongso kepadanya.

Terngiang akan pesan tersebut, Dian Anugrah banting setir, sempat berkarir di perbankan ia pun putar haluan mendalami dunia kuliner khususnya masakan Minang.

Walhasil belajar secara otodidak kepada nenek, ibu hingga beberapa chef secara personal ia pun meluncurkan usaha Rendang Minang Culinary yang merupakan rendang premium khas Minangkabau pada 2011.

Pria kelahiran Padang, 1 September 1983 itu pun serius menekuni dunia masak memasak tersebut.

Ia berprinsip jika seorang nenek atau ibu paruh baya bisa memasak makanan Minang adalah hal biasa, namun jika tidak ada regenerasi maka khazanah budaya yang tak ternilai itu akan lenyap.

Kendati tidak pernah mengenyam pendidikan formal di bidang memasak Dian memilih untuk belajar sendiri dan terus mengembangkan resepnya.

"Kuncinya belajar dan menjalankannya sepenuh hati dengan kecintaan," ujarnya.

Ia menilai dunia kuliner adalah ketulusan dan kejujuran karena tidak akan ada korupsi, kolusi dan nepotisme rasa.

"Yang ada adalah ketulusan meracik makanan dengan bahan terbaik sehingga hasilnya hanya dua pilihan enak atau tidak enak, sehingga kejujuran sebenarnya itu ada di bidang kuliner," tuturnya.

Buah usaha yang dirintis sejak 2011 tersebut mulai dipetik. Pesanan pun mengalir mulai dari berbagai daerah di Tanah Air.

Pelanggannya pun beragam, mulai dari mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono,mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat Tuan Guru Bajang, putra mantan Menteri Perumahan Rakyat Priyamana Djan, artis Zara Zetira, penyanyi dangdut Kristina hingga anggota DPD RI Fahira Idris.

Untuk memasak rendang dengan cita rasa terbaik salah satu rahasianya adalah dimasak dengan api kecil dalam waktu lama hingga 10 jam agar bumbu meresap sempurna.

Menurut Dian selama ini dalam memasak rendang dengan cara tradisional lazimnya digunakan kayu bakar khususnya kayu casiavera sehingga aroma yang dihasilkan lebih harum.

"Namun kunci pengaturan rasa rendang ada pada panas dan suhu sehingga jika tidak pandai menggunakan kayu bakar rendang bisa gagal," ujar dia.

Karena menjangkau segmen premium harga rendang Dian dibanderol mulai dari Rp300 ribu per kilogram sebanding dengan kualitas rasa yang disajikan.

Untuk membuat rendang ia memilih daging sapi terbaik dan bumbu-bumbu berkualitas yang mudah didapatkan di Sumatera Barat.

Inovasi

Kecintaannya pada kuliner Minang membuat sosok yang akrab disapa uda Dian ini terus mengasah bakat dan menciptakan inovasi baru untuk dipersembahkan kepada pelanggan dan pecinta kuliner.

Pada 2016 Dian mencoba ide baru untuk memasak puyuh menjadi rendang apalagi selama ini puyuh hanya digoreng dan jarang yang mengolahnya menjadi menu lain.

Ternyata rendang puyuh buatannya mendapat sambutan hangat bahkan sekelas artis Aura Kasih pun sudah mencicipinya.

Tidak hanya itu pada Idul Adha 2018 Dian juga meluncurkan produk barunya bumbu rendang maharaja yang bisa digunakan oleh para kaum ibu untuk memasak rendang.

Bumbu rendang yang diolah sedemikian rupa tersebut cukup praktis karena untuk memasak rendang cukup menambahkan dengan santan saja karena semua bahan telah lengkap tersaji di dalamnya.

Kini usaha yang dirintis sejak 2011 tersebut mulai dipetik. Pesanan pun mengalir hingga 35 kilogram rendang setiap bulan yang harus dikirim ke seluruh Indonesia.

Dian pun memilih menggunakan jasa logistik JNE karena cepat dan aman. Kalau diantar sebelum pukul 14.00 WIB satu hari sampai kirim dari Padang ke Jakarta, Selasa kirim, Rabu sudah sampai, pakai YES cuma Rp22 ribu per kilogram, ujarnya.

Ia bahkan punya pengalaman saat mengirim namun waktu sampai tidak sesuai kesepakatan uangnya dikembalikan.

Mengirim rendang ke berbagai daerah membuat Dian harus menyiapkan plastik tebal yang ia pesan di Bandung agar tidak merembes.

Selain itu ia memilih JNE karena disediakan kotak khusus sehingga lebih aman untuk mengirim makanan.

Malah disediakan juga fasilitas vacum ditempat, bagi yang kirim pakai plastik suka pecah, JNE sediakan vacum gratis pakai plastik khusus sedot udara,jadi lebih aman terhempas tidak pecah, ucapnya.

Dian pun terus berkomitmen menjadi penjaga resep otentik rendang Minang dan mengenalkannya ke seluruh Nusantara sebagai bagian khazanah kekayaan kuliner Tanah Air yang mendunia.*

Pewarta :
Editor: Miko Elfisha
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar