Padang (ANTARA) - Sungai Mahakam kian riuh. Dalam beberapa hari terakhir, dua ekor Pesut Mahakam ditemukan mati di perairan anak sungai yang selama ini menjadi habitat satwa langka tersebut. Pada saat yang sama, lalu lintas tongkang batu bara dilaporkan melonjak tajam, bahkan mencapai belasan unit per jam. Bagi Pesut Mahakam yang populasinya diperkirakan hanya tersisa sekitar 60 ekor, situasi ini bukan sekadar gangguan, melainkan ancaman serius terhadap kelangsungan hidupnya.
Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) bukan hanya satwa endemik Kalimantan Timur, tetapi juga penanda kesehatan ekosistem Sungai Mahakam. Keberadaannya sangat bergantung pada kualitas air, ketersediaan pakan, serta ketenangan ruang hidup. Ketika pesut mati, terdapat pesan ekologis yang tidak boleh diabaikan: sungai sedang berada dalam tekanan berat.
Laporan Yayasan Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) memicu pengawasan oleh Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH). Dua bangkai pesut kini diperiksa di Laboratorium Universitas Mulawarman untuk memastikan penyebab kematiannya. Namun, temuan awal di lapangan menunjukkan bahwa peristiwa ini terjadi di tengah meningkatnya intensitas aktivitas industri di Sungai Mahakam.

RASI mencatat lonjakan lalu lintas tongkang batu bara hingga sekitar 13 unit per jam di kawasan habitat pesut. Kepadatan ini meningkatkan risiko tabrakan serta gangguan kebisingan yang dapat mengacaukan sistem ekolokasi pesut—kemampuan vital yang digunakan untuk bernavigasi dan mencari makan di perairan sungai yang keruh. Selain itu, pengawasan Deputi Penegakan Hukum Lingkungan Hidup (Gakkum LH) menemukan sejumlah persoalan perizinan. Di sekitar kawasan konservasi perairan Pesut Mahakam, teridentifikasi aktivitas ship-to-ship (STS) transfer batu bara yang tidak dilengkapi dokumen lingkungan maupun izin pemanfaatan ruang. Praktik ini tidak hanya melanggar ketentuan hukum, tetapi juga meningkatkan potensi pencemaran serta gangguan fisik terhadap habitat pesut.
Kualitas air Sungai Mahakam turut menjadi sorotan. Hasil uji menunjukkan sejumlah parameter, seperti warna, sulfida, dan klorin bebas, telah melampaui baku mutu lingkungan sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021. Penurunan kualitas air berpotensi merusak rantai makanan dan memperparah tekanan yang selama bertahun-tahun telah dihadapi Pesut Mahakam.
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan bahwa seluruh aktivitas di Sungai Mahakam wajib memenuhi perizinan dan baku mutu lingkungan. Sungai ini tidak hanya menopang aktivitas ekonomi, tetapi juga memiliki fungsi ekologis dan sosial yang vital. Ketika aturan diabaikan, yang terancam bukan hanya lingkungan, melainkan juga masa depan spesies dilindungi seperti Pesut Mahakam.
Di tengah populasi pesut yang kian menipis, negara tidak memiliki ruang untuk bersikap longgar. Pembatasan lalu lintas tongkang di wilayah habitat pesut harus segera diberlakukan, disertai penertiban tegas terhadap praktik ship-to-ship transfer batu bara yang tidak berizin. Pengawasan kualitas air Sungai Mahakam juga perlu diperketat, mengingat sejumlah parameter pencemar telah melampaui baku mutu. Penegakan hukum lingkungan tidak boleh berhenti pada inspeksi semata, tetapi harus berujung pada sanksi nyata agar menimbulkan efek jera.

Selama ini Pesut Mahakam masih bertahan di tengah jaring nelayan, lalu lalang kapal besar, dan tekanan limbah industri. Namun, dengan populasi yang terus menyusut, ruang toleransi itu kian menyempit. Jika tekanan terhadap Sungai Mahakam dibiarkan berlanjut, pesut bisa menjadi saksi terakhir dari ekosistem yang perlahan kehilangan keseimbangannya. Menjaga Pesut Mahakam berarti menjaga sungai agar tetap menjadi ruang hidup—bukan semata jalur industri.
Referensi
- KLH Tindaklanjuti Kematian Pesut Mahakam, Awasi Tiga Perusahaan. 12 November 2025 https://www.antaranews.com/berita/5236321/klh-tindaklanjuti-kematian-pesut-mahakam- awasi-tiga-perusahaan
- Pesut Mahakam. WWF Indonesia. Diakses dari https://www.wwf.id/id/tags/pesut-mahakam
- Permana, Rega; Akbarsyah, Nora; Rahman, Taufik. Konservasi Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) Berbasis Kearifan Lokal di Kalimantan Timur, Indonesia.
- Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (FPK UNAIR). Mengulik Faktor Terancamnya Sang Hewan Legenda: Pesut Mahakam. Diakses dari https://fpk.unair.ac.id/mengulik-faktor-terancamnya-sang-hewan-legenda-pesut-mahakam/
