
Etika Sains dalam Memandang Alam: Refleksi atas Penghijauan Gurun

Padang (ANTARA) - Perdebatan tentang hubungan manusia dan alam kembali mengemuka seiring menguatnya krisis iklim global. Di tengah meningkatnya suhu bumi, kekeringan ekstrem, dan degradasi lahan, berbagai proyek rekayasa lingkungan digulirkan sebagai solusi. Salah satunya adalah penghijauan gurun, yang kerap diposisikan sebagai simbol keberhasilan sains dalam “menaklukkan” keterbatasan alam.
Penghijauan gurun menunjukkan bagaimana manusia menempatkan dirinya sebagai subjek utama kehidupan, sementara alam diperlakukan sebagai objek yang harus diberi nilai guna. Dengan kemampuan sains dan teknologi, manusia tidak lagi sekadar menyesuaikan diri terhadap lingkungan, melainkan merekayasa alam agar sesuai dengan kebutuhan eksistensinya. Sebelum teknologi irigasi tetes, rekayasa genetika, dan rekayasa atmosfer berkembang, masyarakat gurun hanya bergantung pada vegetasi yang mampu bertahan secara alami di lingkungan kering. Kini, berbagai komoditas pangan dapat ditanam di wilayah yang sebelumnya dianggap mustahil untuk pertanian.
Namun, di balik optimisme tersebut, muncul paradoks moral. Intervensi teknologi terhadap alam sering kali dilakukan dengan asumsi bahwa setiap peningkatan produktivitas identik dengan kemajuan, tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang yang mungkin baru terasa lintas generasi. Di sinilah etika sains menjadi krusial.
Filsuf Jerman Hans Jonas, sebagaimana dikutip dalam karya Bernedisen (2017), merumuskan prinsip etikanya yang terkenal: “Act so that the effects of your action are compatible with the permanence of genuine human life.” Prinsip ini menekankan bahwa tindakan manusia—terutama yang berskala teknologi besar—harus sejalan dengan keberlanjutan kehidupan manusia sejati, yang mencakup otonomi, martabat, integritas, dan kerentanan.
Bernedisen mengembangkan pemikiran Jonas dengan menegaskan bahwa tanggung jawab moral tidak hanya bersifat individual, tetapi juga struktural. Negara, ilmuwan, dan institusi memiliki kewajiban kolektif untuk mempertimbangkan masa depan melalui apa yang disebut Jonas sebagai heuristics of fear, yakni sikap waspada terhadap potensi bencana ekologis yang mungkin lahir dari teknologi.
Kerangka ini relevan ketika meninjau proyek penghijauan Gurun Sahara melalui inisiatif Great Green Wall yang dimulai pada 2007. Proyek lintas negara Afrika ini digadang-gadang sebagai jawaban atas degradasi lahan dan kemiskinan struktural. Laporan UNCCD (2020) mencatat sekitar 20 juta hektare lahan telah direstorasi, dengan kemampuan menyerap karbon hingga dua juta ton per tahun serta membuka lapangan kerja bagi jutaan orang.
Sejumlah penelitian mendukung klaim manfaat tersebut. Bayala dkk. menunjukkan bahwa penanaman vegetasi di tanah berpasir meningkatkan kandungan karbon tanah, sementara Diba dkk. menyatakan penghijauan Sahara berpotensi mengubah pola curah hujan regional ke arah yang lebih mendukung kesuburan lahan. Secara sepintas, proyek ini tampak sejalan dengan imperative of responsibility Jonas karena berorientasi pada keberlanjutan generasi mendatang.
Namun, perkembangan kajian iklim global menghadirkan lapisan persoalan baru. Studi Yu dkk. (2015) mengungkap bahwa debu Sahara justru berperan penting dalam menyuburkan hutan Amazon melalui suplai fosfor yang terbawa angin lintas Atlantik. Dalam konteks ini, Sahara yang “tandus” ternyata memiliki fungsi ekologis vital bagi salah satu ekosistem paling produktif di dunia.
Paradoks pun muncul. Menghijaukan Sahara berarti memperluas kehidupan lokal, meningkatkan penyerapan karbon, dan memperbaiki kesejahteraan masyarakat Afrika. Namun, di sisi lain, berkurangnya debu Sahara berpotensi menurunkan produktivitas Amazon, yang selama ini berperan besar dalam menjaga keseimbangan iklim global. Dua pilihan tersebut sama-sama bertujuan menjaga kehidupan, tetapi dapat saling meniadakan jika diterapkan secara ekstrem.
Dilema ini menunjukkan bahwa alam bukan sistem linier, melainkan jaringan ontologis yang saling bertaut dan sering kali bersifat antagonistik. Kehidupan Amazon bergantung pada proses alam Sahara, sementara kehidupan Sahara yang “dihijaukan” dapat berdampak pada melemahnya ekosistem Amazon. Dalam kerangka ini, kehidupan tidak pernah sepenuhnya konstruktif, tetapi selalu mengandung unsur destruktif yang menopangnya.
Paradoks Sahara–Amazon memperluas makna imperative of responsibility. Tanggung jawab bukan berarti menghilangkan seluruh potensi kerusakan, melainkan menjaga agar intervensi manusia tidak melampaui batas yang membuat sistem kehidupan kehilangan kemampuan menyeimbangkan dirinya. Jonas, dalam konteks ini, tidak menyerukan dominasi total manusia atas alam, melainkan kehati-hatian radikal.
Secara epistemologis, hal ini menuntut penguatan metode prediktif, seperti simulasi iklim jangka panjang. Simulasi yang dilakukan Diba dkk. menunjukkan bahwa penghijauan gurun berpotensi mengubah karakteristik iklim regional, sehingga dampaknya terhadap sistem iklim global perlu dikaji secara lintas disiplin dan lintas wilayah.
Dari sisi ontologis, cara pandang manusia terhadap alam juga perlu direvisi. Gurun tidak lagi dapat dipahami semata sebagai wilayah tidak produktif. Temuan Yu dkk. tentang kandungan fosfor debu Sahara menegaskan bahwa apa yang tampak “tidak berguna” bagi manusia lokal, justru menjadi penopang kehidupan global. Alam tidak bekerja dalam dikotomi berguna dan tidak berguna, melainkan sebagai satu kesatuan metabolisme bumi.
Dalam konteks inilah peringatan Isaac Asimov kembali relevan: “The saddest aspect of life right now is that science gathers knowledge faster than society gathers wisdom.” Kritik ini menyoroti jurang antara kemampuan manusia mengembangkan teknologi dan kemampuannya memahami implikasi etis dari penggunaannya.
Sejalan dengan itu, Josef Hargrave menekankan bahwa sains memerlukan imajinasi dan kebijaksanaan agar tidak terjebak pada solusi teknis jangka pendek. Julia Trach, Profesor di Kyiv National University of Culture and Arts, juga menilai bahwa akar persoalan teknologi modern terletak pada ketimpangan antara kemajuan teknologi dan budaya manusia dalam menyikapinya.
Pada akhirnya, etika sains menuntut perubahan paradigma: dari menaklukkan alam menjadi memahami dan menjaga keseimbangannya. Keunggulan manusia dalam sains seharusnya tidak berujung pada dominasi, melainkan pada kebijaksanaan dalam bertindak. Dalam dunia yang semakin saling terhubung, satu tindakan teknologi di suatu wilayah dapat berdampak jauh melampaui batas geografisnya—sebuah pengingat bahwa tanggung jawab manusia terhadap alam bersifat global dan lintas generasi.
Oleh : Marida Santi Yudha, Reni Elmiati, Sardjono Trihatmo, Syahri
"Penulis merupakan Mahasiswa Program Doktor Sekolah Pascasarjana IPB University Angkatan Tahun 2025
Catatan Kaki :
REFERENSI
African Union Commission (2007) Great Green Wall Initiative for the Sahara and the Sahel. Addis Ababa: African Union. URL: https://www.unccd.int/actions/great-green-wall-initiative
Bayala J., Sanou J., Bazie´ H.R, Coe R., Kalinganire .A, Sinclair F.L., ”Regenerated trees in farmers’ fields increase soil carbon across the Sahel,” Agroforest Syst (2020) 94:401–415. https://doi.org/10.1007/s10457-019-00403-6
Berdinesen, H., 2017. On Hans Jonas’ “The Imperative of Responsibility”. Philosophia, 17, pp.17–28. Available at: http://philosophia-bg.com [Accessed 9 Oct. 2025].
Diba I., Camara M. & Sarr A., (2016),”Impacts of the Sahel–Sahara interface reforestation on West African climate: Intraseasonal variability and extreme precipitation events,” Advances in Meteorology, 2016, pp. 1–11. DOI: https://doi.org/10.1155/2016/3262451
Hargrave J. 2025. Science is Not Enough . We Also Need Imagination . Urban Solut.(20):4.
Trach J. 2020. Scientific and technological progress in the context of development of “technological” society. Theory Hist Cult. 1915(21):172–181. doi:10.31866/2410-1915.21.2020.208252.
United Nations Convention to Combat Desertification (UNCCD). The Great Green Wall Implementation Status and Way Ahead to 2030. UNCCD 2020. ISB: 978-92-95118-26-3.
Yu, H., Chin, M., Yuan, T., Bian, H., Remer, L. A., Prospero, J. M., et al. (2015), “The Fertilizing Role of African Dust in the Amazon Rainforest: A First Multiyear Assessment Based on Data from Cloud-Aerosol Lidar and Infrared Pathfinder Satellite Observations,” Geophysical Research Letters, 42(6), 1984–1991. https://doi.org/10.1002/2015GL063040

Oleh .
COPYRIGHT © ANTARA 2026
