Dari sawah ke botol parfum, inovasi bioetanol jerami padi

id parfum jerami,bioetanol,limbah jerami,pertamina patra niaga,aft minangkabau,parfum ,bioetanol

Dari sawah ke botol parfum, inovasi bioetanol jerami padi

Pengunjung memperhatikan parfum jerami hasil inovasi Kelompok Usaha Kompos Sejahtera Bersama (Ukasema) binaan Pertamina Patra Niaga di Nagari Padang Toboh Ulakan, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Sabtu (16/8/2025). Parfum dengan campuran bioetanol jerami ini merupakan hasil kolaborasi Pertamina dengan Universitas Andalas. ANTARA/Muhammad Zulfikar

Padang (ANTARA) - Di sebuah pondok kayu sederhana berukuran 4X7 meter, sekelompok orang terlihat sibuk hilir mudik melakukan berbagai aktivitas. Ada yang menyiapkan kayu bakar, mengisi air ke dalam drum berukuran besar menggunakan selang hingga memindahkan tumpukan jerami kering ke salah satu sudut rumah yang bersebelahan dengan pondok tadi.

Tumpukan jerami kering dibagi merata sebelum dicincang. Ialah dua perempuan yang telah siap dengan lading di genggamannya. Dengan cekatan, mereka mulai mencincang batang padi yang sudah kering itu menjadi potongan-potongan kecil.

Usai sekitar satu jam berlalu, tumpukan jerami yang telah dicincang tersebut kembali dibawa ke pondok kayu untuk melalui proses perebusan menggunakan sebuah drum besi berwarna perak yang sebelumnya sudah berisikan air mendidih.

Kedua ibu rumah tangga ini merupakan anggota Kelompok Usaha Kompos Sejahtera Bersama (Ukasema) Nagari Padang Toboh Ulakan, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Mereka merupakan binaan Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Minangkabau.

Jerami-jerami kering yang dulunya tidak berguna, kini justru menjadi sumber harapan baru bagi kelompok ini. Lewat bimbingan Pertamina yang berkolaborasi dengan dua peneliti Universitas Andalas (UNAND), mereka sukses mengolah jerami padi menjadi bioetanol yang digunakan sebagai senyawa utama campuran parfum.

Untuk membuat parfum dari jerami padi, terdapat beberapa proses yang mesti dilakukan. Mulai dari persiapan bahan-bahan yang dibutuhkan di antaranya jerami, molase, air hingga ragi alami. Setelah semuanya terkumpul, semua bahan dibersihkan agar tetap higienis.

Selanjutnya, beralih pada tahap hidrolisis sederhana yakni memasukkan 10 kilogram jerami kering ke dalam drum yang berisikan 200 liter air bersih. Jerami direbus selama sekitar satu jam untuk membantu pelunakan lignoselulosa. Setelahnya, masuk pada tahap pendinginan dengan suhu sekitar 40 derajat celsius.

Tahapan berikutnya ialah pencampuran molase dan enzim atau ragi alami. Untuk proses fermentasi membutuhkan waktu tiga hingga tujuh hari di tempat yang teduh. Apabila sudah tercium aroma alkohol dan busa mulai berkurang, maka proses tersebut sudah bisa dihentikan.

Kemudian, dilakukan destilasi etanol yang meliputi pemisahan ampas jerami dengan cara penyaringan. Hasil penyaringan dimasukkan ke alat destilasi untuk dipanaskan dengan suhu tertentu agar mendapatkan etanol yang berfungsi sebagai bahan utama pembuatan parfum.

Untuk mendapatkan etanol yang berkualitas tinggi, maka proses distilasi sebaiknya dilakukan dua hingga tiga kali. Setelah semua proses tersebut dilalui, maka etanol dari jerami kering siap dibuat menjadi parfum cair atau padat.

Penelitian jerami menjadi bioetanol ramah lingkungan ini dilakukan langsung di laboratorium UNAND. Tahapan ini tergolong penting untuk memastikan aspek keamanan, dan kesehatan bagi konsumen sebelum parfum jerami diproduksi dan dikomersilkan.

Pengujian sampel di laboratorium UNAND meliputi sejumlah tahapan mulai dari pencacahan jerami kering menjadi ukuran tiga sentimer, pemisahan selulosa dengan hemiselulosa untuk diproses menjadi gula sederhana hingga terakhir proses fermentasi.

Hasil fermentasi nantinya akan dipanaskan ulang sebelum menghasilkan bioetanol dari jerami padi yang kemudian digunakan sebagai senyawa parfum. Pembuatan parfum menggunakan bioetanol jerami kering tergolong unik. Sebab, selama ini campuran parfum hanya menggunakan alkohol atau etanol dari bahan kimia.

Anggota Kelompok Usaha Kompos Sejahtera Bersama (Ukasema) mencacah jerami kering menjadi potongan kecil untuk selanjutnya diolah menjadi bioetanol di Nagari Padang Toboh Ulakan, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Sabtu (23/8/2025). Parfum dengan campuran bioetanol jerami ini merupakan hasil kolaborasi Pertamina dengan Universitas Andalas. (ANTARA/Muhammad Zulfikar)
Anggota Kelompok Usaha Kompos Sejahtera Bersama (Ukasema) mencacah jerami kering menjadi potongan kecil untuk selanjutnya diolah menjadi bioetanol di Nagari Padang Toboh Ulakan, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Sabtu (23/8/2025). Parfum dengan campuran bioetanol jerami ini merupakan hasil kolaborasi Pertamina dengan Universitas Andalas. (ANTARA/Muhammad Zulfikar)
Anggota Kelompok Usaha Kompos Sejahtera Bersama (Ukasema) mencampurkan molase ke dalam tumpukan jerami sebelum direbus untuk diolah menjadi bioetanol di Nagari Padang Toboh Ulakan, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Sabtu (23/8/2025). Parfum dengan campuran bioetanol jerami ini merupakan hasil kolaborasi Pertamina dengan Universitas Andalas. (ANTARA/Muhammad Zulfikar)
Anggota Kelompok Usaha Kompos Sejahtera Bersama (Ukasema) mengawasi proses perebusan jerami padi untuk mendapatkan bioetanol yang digunakan sebagai senyawa utama campuran pembuatan parfum di Nagari Padang Toboh Ulakan, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Selasa (16/9/2025). Parfum dengan campuran bioetanol jerami ini merupakan hasil kolaborasi Pertamina dengan Universitas Andalas. (ANTARA/Muhammad Zulfikar)

Anggota Kelompok Usaha Kompos Sejahtera Bersama (Ukasema) mengamati bioetanol hasil penyulingan jerami padi di Nagari Padang Toboh Ulakan, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Selasa (16/9/2025). Parfum dengan campuran bioetanol jerami ini merupakan hasil kolaborasi Pertamina dengan Universitas Andalas.(ANTARA/Muhammad Zulfikar)
Anggota Kelompok Usaha Kompos Sejahtera Bersama (Ukasema) memasukkan bioetanol dari jerami padi ke dalam gelas ukur di Nagari Padang Toboh Ulakan, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Selasa (16/9/2025). Parfum dengan campuran bioetanol jerami ini merupakan hasil kolaborasi Pertamina dengan Universitas Andalas.

(ANTARA/Muhammad Zulfikar)

Anggota Kelompok Usaha Kompos Sejahtera Bersama (Ukasema) memasukkan bioetanol dari jerami padi ke dalam gelas ukur di Nagari Padang Toboh Ulakan, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Selasa (16/9/2025). Parfum dengan campuran bioetanol jerami ini merupakan hasil kolaborasi Pertamina dengan Universitas Andalas. (ANTARA/Muhammad Zulfikar)
Anggota Kelompok Usaha Kompos Sejahtera Bersama (Ukasema) mendata campuran kandungan biang parfum dan bioetanol dari jerami padi di Nagari Padang Toboh Ulakan, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Selasa (16/9/2025). Parfum dengan campuran bioetanol jerami ini merupakan hasil kolaborasi Pertamina dengan Universitas Andalas. (ANTARA/Muhammad Zulfikar)
Anggota Kelompok Usaha Kompos Sejahtera Bersama (Ukasema) menunjukkan parfum berbahan baku bioetanol jerami di Nagari Padang Toboh Ulakan, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Selasa (16/9/2025). Parfum dengan campuran bioetanol jerami ini merupakan hasil kolaborasi Pertamina dengan Universitas Andalas.(ANTARA/Muhammad Zulfikar)
Tim Aviation Fuel Terminal (AFT) Minangkabau berdiskusi dengan peneliti Universitas Andalas terkait uji laboratorium sampel jerami padi yang diolah menjadi bioetanol di Universitas Andalas, Sumatera Barat, Kamis (21/8/2025). Bioetanol dari jerami padi digunakan sebagai senyawa utama campuran pembuatan parfum yang menghasilkan beragam aroma. (ANTARA/Muhammad Zulfikar)
Peneliti dari Universitas Andalas Efrina Herman menjelaskan proses pengeringan jerami padi menggunakan mesin pengering di laboratorium kampus tersebut, Kamis (21/8/2025). Bioetanol dari jerami padi digunakan sebagai senyawa utama campuran pembuatan parfum yang menghasilkan beragam aroma. (ANTARA/Muhammad Zulfikar)
Tim peneliti dari Universitas Andalas memasukkan jerami kering ke dalam mesin pencacah untuk dihaluskan di laboratorium kampus tersebut, Kamis (21/8/2025). Bioetanol dari jerami padi digunakan sebagai senyawa utama campuran pembuatan parfum yang menghasilkan beragam aroma. (ANTARA/Muhammad Zulfikar)
Tim peneliti Universitas Andalas bersama tim dari AFT Minangkabau mengamati proses pengeringan dan penggilingan jerami padi di laboratorium kampus tersebut, Kamis (21/8/2025). Bioetanol dari jerami padi digunakan sebagai senyawa utama campuran pembuatan parfum yang menghasilkan beragam aroma. (ANTARA/Muhammad Zulfikar)
Tim peneliti Universitas Andalas memindahkan jerami yang sudah halus ke dalam mangkuk untuk proses uji laboratorium di kampus tersebut, Kamis (21/8/2025). Bioetanol dari jerami padi digunakan sebagai senyawa utama campuran pembuatan parfum yang menghasilkan beragam aroma. (ANTARA/Muhammad Zulfikar)
Tim peneliti Universitas Andalas melakukan uji sampel pembuatan bioetanol menggunakan jerami padi di Universitas Andalas, Kamis (21/8/2025). Bioetanol dari jerami padi digunakan sebagai senyawa utama campuran pembuatan parfum yang menghasilkan beragam aroma. (ANTARA/Muhammad Zulfikar)

Pewarta :
Editor: Antara Sumbar
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.