Padang (ANTARA) - Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), Universitas Negeri Padang (UNP), membantu pemanfaatan energi surya, untuk tanaman hidroponik di Nagari Matua Hilia, Kecamatan Matur, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat.
"Nagari Matua Hilia, memiliki potensi besar dalam pertanian hidroponik, terutama budidaya sayuran khususnya seledri," kata Ketua Tim Pengabdian, Dr. Ali Basrah Pulungan, S.T., M.T., di Padang, Jumat.
Ia menjelaskan meski pertanian hidroponik menawarkan banyak keunggulan dan kemudahan, tantangan utama yang dihadapi oleh Komunitas Matur Hidroponik sebagai mitra, adalah operasional instalasi hidroponik.
Hal ini karena hidroponik sangat bergantung pada ketersediaan energi listrik, yang digunakan untuk menggerakkan pompa sirkulasi nutrisi sebagai pompa utama.
"Konsumsi energi listrik bulanan ini relatif besar, jika seluruhnya diperoleh dari jaringan PLN, akan menyebabkan tingginya biaya operasional, dan risiko terhentinya aliran nutrisi apabila terjadi pemadaman listrik," jelasnya.
Untuk menjawab masalah ini, dengan semangat kemitraan untuk mencapai tujuan, komunitas Matur Hidroponik berkolaborasi tim pengabdi masyarakat dari Universitas Negeri Padang (UNP), menghadirkan solusi yang berdampak langsung bagi petani, dengan memanfaatkan panel surya, sebagai sumber energi bersih dan terjangkau.
"Ketersediaan energi matahari yang melimpah di wilayah tersebut, sistem ini diharapkan mampu bekerja sepanjang waktu, menjaga aliran nutrisi dan beban listrik lainnya, untuk beroperasi dengan stabil," lanjutnya.
Menurutnya inovasi ini bukan hanya menghemat biaya operasional, tetapi juga menjadi wujud nyata dukungan terhadap penggunaan energi ramah lingkungan.
Proses pelaksanaan kegiatan dimulai dengan penyiapan komponen utama seperti panel surya, baterai penyimpanan energi, inverter dan pompa air.
Kemudian panel surya dipasang di tiang, yang berada di dekat tempat instalasi hidroponik, memastikan penyerapan energi maksimal.
Setelah semua komponen diuji di laboratorium, tim melanjutkan pemasangan sistem energi surya langsung di lokasi.
Panel surya menyuplai energi untuk pompa air, memastikan operasi pompa dapat berlangsung terus menerus selama 24 jam tanpa gangguan.
Ali Basrah Pulungan menjelaskan pentingnya teknologi ini bagi para petani.
"Dengan penerapan teknologi PLTS ini, petani hidroponik bisa lebih mandiri secara energi. Pemanfaatan energi surya bukan hanya solusi untuk menekan biaya, tetapi juga langkah nyata mendukung agenda pembangunan berkelanjutan," jelasnya.
Tim pengabdian yang diketuai Dr. Ali Basrah Pulungan juga melibatkan dosen lainnya yakni Siska Alicia Farma, S.Pd, M.Biomed, Hamdani, M.Pd.T, dan Khairi Budayawan, S.Pd, M.Kom.
Kegiatan pengabdian ini sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan, atau Sustainable Development Goals (SDGs) poin 7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau. Dan SDGs poin 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Keberhasilan program ini dirasakan langsung oleh komunitas hidroponik.
Pengurus kelompok, Ibnu Rachmad Tanjung, menyampaikan rasa syukurnya atas keberhasilan penerapan teknologi tersebut.
"Dengan adanya sistem energi surya ini, kami tidak lagi khawatir akan gangguan kebutuhan listrik. Tanaman kami tumbuh lebih baik, produksi meningkat, dan biaya listrik berkurang," ujarnya.
Ia menyampaiikan terima kasih atas inisiatif ini. Menurutnya teknologi ini tidak hanya membantu kelompok tani, tetapi juga memberikan wawasan baru, tentang bagaimana teknologi bisa mempermudah kehidupan sehari-hari.
Dengan adanya PLTS, kelompok tani di kini dapat mengoperasikan sistem hidroponik, dengan lebih efisien dan mandiri.
Program ini menjadi contoh penerapan energi terbarukan, di sektor pertanian yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat setempat.
Keberhasilan ini diharapkan dapat diadopsi oleh daerah lain di Sumatera Barat dan Indonesia pada umumnya, sebagai solusi untuk pertanian berkelanjutan.
