Silantai, sepotong negeri yang tertinggal di hati Ketua PDRI

id Tour de PDRI,Silantai,Sumpur Kudus Oleh Miko Elfisha

Silantai, sepotong negeri yang tertinggal di hati Ketua PDRI

Surau Tabing, tempat Mr Syafruddin Prawiranegara menginap selama dua bulan di Sumpur Kudus. Kondisi surau itu saat ini sudah memprihatinkan. (ANTARA/Miko Elfisha)

Sijunjung (ANTARA) - Jauh di pedalaman belantara Bukit Barisan, Sumatera Barat, di pinggiran Sungai Batang Sumpu yang tidak terlalu deras, Nagari Silantai, Sumpur Kudus tumbuh dengan ritme waktunya sendiri.

Jaraknya yang sangat jauh dari keriuhan kota dengan akses jalan yang kecil dan berkelok-kelok mengikuti kontur perbukitan, membuat daerah itu seakan terisolasi dari peradaban. Apalagi aspal jalan menuju daerah itu sudah banyak terkikis air yang meninggalkan banyak lubang-lubang dalam yang membuat cemas.

Tidak banyak kendaraan yang lewat di jalan kecil berliku itu. Hanya satu dua mobil dan beberapa motor dari arah Tanjung Bonai, Lintau Buo Utara menuju Sumpur Kudus, begitu juga sebaliknya. Lengang.

Sepanjang jalan yang kini kanan-kirinya telah ditumbuhi ilalang setinggi pinggang itu hanya terlihat pohon karet berjejer, meningkahi jejeran bukit berbatu yang berlapis-lapis, seperti benteng alami untuk melindungi Sumpur Kudus dari terpaan waktu.

Sopir harus ekstra hati-hati sejak masuk dari Tanjung Bonai, ilalang yang tumbuh tinggi membuat pandangan mata terhalang. Salah-salah bisa terperosok lubang dan terguling ke jurang di sisi jalan. Atau terkejut bertemu kendaraan lain dari berlawanan arah.

Jarak antara Tanjung Bonai dengan Silantai, Sumpur Kudus sebenarnya tidaklah terlalu jauh. Hanya sekitar 30 kilometer saja. Namun karena kondisi jalan, perjalanan itu terasa sangat lama, sampai tiga jam lebih.

Silantai terletak pada lembah sempit yang berada pada ketinggian 365 mdpl. Tanahnya subur hingga dimanfaatkan masyarakat untuk lahan persawahan. Di tengah-tengah lahan persawahan itu, yang dibelah oleh jalan beton berdiri sebuah rumah yang dulu digunakan oleh rombongan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) untuk melakukan rapat kabinet.

Disitulah kelangsungan hidup Negara Indonesia dipertahankan dari agresi Belanda II pada 19 Desember 1948 hingga 13 Juli 1949. Sepotong sejarah yang semakin lama semakin kabur dimakan ganasnya waktu, yang tidak banyak lagi menyisakan tokoh-tokoh yang menjadi saksi peristiwa itu.

Rumah itu miliki Wali Perang Silantai, Hasan Basri Dt Bandaro Putih. Wali Perang sesungguhnya sama dengan Wali Nagari atau Kepala Desa. Namun karena kondisi dalam keadaan perang, maka namanya menjadi Wali Perang. Kini rumah itu telah jadi cagar budaya yang masih terawat cukup baik. Anak bungsu Hasan Basri, Irianis yang menempatinya.

Irianis bercerita, ada tiga objek peninggalan PDRI yang masih bisa ditemukan di Silantai selain buku, foto-foto dan tongkat yang dulunya digunakan oleh Mr Syafruddin Prawiranegara, Sang Ketua PDRI.

Tiga objek itu masing-maisng rumah untuk rapat kabinet, sumur tempat Mr.Syafruddin dan rombongannya biasa mandi dan sebuah surau. Surau yang dinamai Surau Tebing itu menjadi tempat menginap bagi rombongan PDRI selama sekitar dua bulan tinggal di Silantai.

Sumur sudah rimbun oleh semak, terlantar di pinggiran persawahan. Dulunya, air sumur yang jernih menjadi sumber air bagi warga sekitar. Namun sekarang, hampir tiap rumah sudah punya sumber air sendiri hingga sumur itu terbengkalai.

Hal yang sama terjadi pada Surau yang menyimpan banyak cerita tentang Mr.Syafruddin Prawiranegara dan rombongannya. Surau itu mulai lusuh terkikis waktu. Papan namanya tergantung miring. Dindingnya yang dibuat dari anyaman bambu yang diberi coran semen sudah rusak di beberapa tempat.

Karpet yang digunakan untuk mengalas bagian lantai tidak bisa menutupi lusuhnya tempat itu. Beberapa orang amai-amai (ibu-ibu) yang ditemui di surau itu menyebut bangunan itu saat ini dimanfaatkan oleh kaum ibu untuk beribadah.

"Dulu surau ini menjadi tempat menginap bagi Mr Syafruddin. Di samping surau didirikan dapur umum. Setiap hari ibu-ibu di Silantai bergantian memasak untuk para pejuang," ujar Nayla, salah seorang anak pelaku sejarah yang dulu ikut memasak bagi pejuang.

Lauk yang dibuat untuk pejuang berasal dari sumbangan warga yang sebenarnya bukan orang berada bahkan bisa disebut miskin. Namun keikhlasan untuk ikut menyelamatkan Negara Indonesia membuat mereka melupakan kesusahan sendiri dan menyumbangkan harta yang dimiliki untuk kesinambungan Indonesia sebagai sebuah negara berdaulat.

Selama di Silantai Mr Syafruddin memang sering bercerita dengan masyarakat. Ketua PDRI itu bercerita tentang banyak hal terutama tentang perjuangan PDRI. Cerita itulah yang mampu menyentuh jiwa orang-orang Silantai.

Dan ternyata keikhlasan masyarakat itu pula yang membuat hari Mr.Syafruddin tertambat akan keramahan masyarakat. Nantinya, setelah perjuangan PDRI berhasil, Indonesia tetap utuh sebagai sebuah negara dan Belanda dipaksa kembali ke negerinya, Mr Syafruddin yang telah mengembalikan mandat yang diterimanya sebagai Ketua PDRI kepada Presiden Soekarno, menyempatkan diri untuk kembali ke Sumpur Kudus. Ke Silantai.

Ia datang dengan keluarga dan anak-anaknya yang penasaran tentang keramahan masyarakat di pedalaman belantara Bukit Barisan itu.

Lembah yang ramah itu saat ini berdenyut lambat. Masyarakat bertambah banyak, namun sebagian pergi meninggalkan kampung halaman untuk merantau mencari penghidupan. Rumah-rumah baru tumbuh bersama dinamika masyarakatnya. Namun ia tetap berada di pinggiran waktu dengan ritme yang berbeda.

Sekilas tentang PDRI di Sumpur Kudus

Letak geografis Sumpur Kudus yang terbentang di lembah sempit sepanjang Sungai Batang Sumpur. Lokasinya yang tersuruk di balik berlapis-lapis perbukitan Bukit Barisan membuatnya sulit untuk dicapai. Sedangkan saat ini perjalanan ke lokasi itu masih susah, apalagi pada 1949 itu.

Kondisi itu menjadi salah satu pertimbangan Silantai, Sumpur Kudus dipilih untuk menjadi tempat berkumpul kabinet PDRI. Alasan lain, lokasi itu berada di tengah-tengan antara dua rombongan utama yang dipimpin oleh Mr.Syafruddin di Bidar Alam, Solok Selatan dan Tengku Moh. Rasyid di Koto Tinggi, Limapuluh Kota.

Menurut Prof. DR. Mestika Zed di dalam bukunya Pemerintah Darurat Republik Indonesia, Sebuah Mata Rantai Sejarah Yang Terlupakan (Jakarta, Pustaka Utama Grafiti, 1997), rombongan yang pertama sampai di Silantai adalah rombongan Gubernur Militer Mr. Rasjid dari Koto Tinggi dan Mr. Moh. Nasroen, mantan Wakil Gubernur Sumatera Tengah yang diangkat sebagai Komisaris Pemerintah Pusat untuk Sumatera Tengah pada 4 Mei 1949.

Rombongan Mr Syafruddin baru sampai di Sumpur Kudus keesokan harinya tanggal 5 Mei 1949. Namun, rombongan itu berhenti dulu di Calau, Sumpur Kudus, belum turun ke Silantai.

Rombongan itu meninggalkan Bidar Alam dengan naik perahu dan berjalan kaki melalui nagari-nagari antara lain Abai Siat, Sungai Dareh, Kiliran Jao, Sungai Betung, Padang Tarok, Tapus, Durian Gadang, Menganti dan akhirnya tiba di Calau, Silantai, Sumpur Kudus.

Barulah pada 9 Mei 1949, rombongan Sjafruddin Prawiranegara meninggalkan Calau, menuju ke Silantai, Sumpur Kudus. Rombongan itu nantinya dipecah tiga Syafruddin Prawiranegara ke Nagari Silantai, Stasiun Radio Sjafruddin ke Nagari Guguk Siaur dan rombongan Keuangan ke Nagari Padang Aur dan nagari-nagari lain sekitarnya.

Di Ampalu, kru Stasiun Radio AURI bertemu dengan Kru Stasiun Radio PTT di Nagari Tamparunggo, Sungai Naning dan nagari-nagari lain. Sejak saat itu, kegiatan Stasiun Radio Dick Tamimi semakin intensif.

Pada 14 – 17 Mei 1949, diadakan Sidang Paripurna Kabinet PDRI di Silantai, Sumpur Kudus. Di tempat itu berkumpul semua anggota Kabinet PDRI yang berada di Bidar Alam dan Koto Tinggi, untuk membicarakan reaksi PDRI terhadap prakarsa perundingan yang dilakukan oleh para pemimpin yang ditawan di Bangka (Pimpinan Soekarno - Hatta).

PDRI mengeluarkan pernyataan yang menolak prakarsa perundingan kelompok Bangka. Barulah pada tanggal 18 Mei 1949, Sjafruddin bersama seluruh anggota rombongan meninggalkan Silantai, Sumpur Kudus dan berangkat menuju Koto Tinggi.

Tour de PDRI jadi pengingat sejarah

Tour de PDRI yang digelar Dinas Pariwisata Sumatera Barat pada 2022 menjadi salah satu upaya untuk mengingat sejarah perjuangan untuk mempertahankan kelangsungan Negara Indonesia saat agresi Belanda II.

Selain memberikan edukasi, Kepala Dinas Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata Sumbar, Asril mengatakan Tour de PDRI juga bertujuan untuk mempromosikan potensi wisata di daerah.

"Tour de PDRI sudah kita gelar untuk kali kedua. Pelaksanaan I pada 2021 dan yang kedua pada 2022. Tahun ini konsep kita sekaligus untuk mempromosikan pariwisata.***

***

Editor: Mario Sofia Nasution
COPYRIGHT © ANTARA 2023