Ratusan pelari ikuti Explore Geopark di Bukittinggi

id Bukittinggi,Geo Park Run

Ratusan pelari ikuti Explore Geopark di Bukittinggi

Seorang pelari saat mendekati finish di Tabiang Takuruang, kawasan objek wisata Ngarai Sianok, Kabupaten Agam, Sabtu(30/11) dalam lomba rute Attack Geopark kategori ultra di Minang Geopark Run 2019 (ANTARA/ Ira Febrianti)

Bukittinggi, (ANTARA) - Ratusan peserta mengikuti lomba lari Minang Geopark Run dalam pilihan rute Explore Geopark, menikmati keelokan Ngarai Sianok dan lokasi wisata lain di Bukittinggi, Sumatera Barat.

Ketua Panitia Minang Geopark Run Y V TriSaputra di Bukittinggi, Minggu mengatakan Explore Geopark menawarkan tiga pilihan jarak tempuh bagi para peserta perorangan yaitu 5K, 10K dan 21K atau half marathon.

Tiap jarak tempuh memiliki tingkat kesulitannya masing-masing namun menawarkan suguhan objek wisata unggulan daerah setempat yaitu Jam Gadang, Lubang Jepang, Janjang Saribu, Ngarai Sianok, Benteng Fort de Kock dan objek bersejarah lainnya.

Sebelum Explore Geopark, pada Sabtu(30/11) 118 pelari di Minang Geopark Run sudah mengikuti lomba lari dalam rute Attack Geopark berjarak 65 kilometer dimulai dari Lubuk Basung dan berakhir di Tabing Takuruang, Nagari Sianok, Kecamatan Ampekkoto, Kabupaten Agam.

Ia menerangkan lomba lari tersebut diselenggarakan untuk ke dua kalinya guna mempromosikan keindahan taman bumi atau geopark yang ada di Sumbar melalui olahraga lari.

Sebelum berlangsung lomba pada 30 November dan 1 Desember 2019, peserta dibawa berkunjungn ke sejumlah objek wisata dan kuliner di Sumbar seperti Lawang Park, kerajinan perak Koto Gadang, Lembah Anai, Sate Mak Syukur dan lainnya.

Selain di Sumbar, pada 2020 event Geopark Run direncanakan bakal digelar pula di daerah lain seperti Belitong, Batu, Krakatau dan Ciletuh.

Perwakilan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata Sumbar Oni Yulfian mengatakan agar pemerintah daerah mulai memasang papan informasi sejarah geopark di lokasi terkait.

Hal itu dilakukan untuk mendukung promosi Geopark Ranah Minang.

Ia menilai kata "geopark" masih cukup asing bagi masyarakat. Bisa saja masyarakat akan mencari tahu melalui mesin pencari namun keberadaan papan informasi di lokasi geopark dinilai tetap dapat memberi edukasi dan membantu promosi.

"Misal di objek wisata Danau Maninjau dan Ngarai Sianok, barangkali pemerintah kabupaten dan kota dapat mulai memasang informasi sejarahnya untuk promosi dan memberi edukasi," katanya.

Pewarta :
Editor: Mario Sofia Nasution
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar