Pilpres 2019 dan pesan moral bagi pendidikan keluarga Indonesia

id pendidikan keluarga, pesan moral pilpres

Presiden Joko Widodo (kanan) dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kedua kanan) berpelukan saat tiba di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta, Sabtu (13/7/2019). Kedua kontestan dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden tahun 2019 lalu ini bertemu di Stasiun MRT Lebak Bulus dan selanjutnya naik MRT dan diakhiri dengan makan siang bersama. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/wsj)

Padang, (ANTARA) - Usai sudah rangkaian perhelatan demokrasi terbesar di Tanah Air setelah Mahkamah Konstitusi menetapkan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden terpilih lima tahun mendatang pada 27 Juni 2019.

Pemilu Presiden 2019 merupakan perhelatan ke empat kalinya digelar sejak 2004 guna menetapkan orang nomor satu di Tanah Air lewat pemilihan langsung oleh rakyat.

Jika pada Pilpres 2004 dan 2009 Susilo Bambang Yudhoyono berhasil unggul dari pesaingnya, maka pada 2014 dan 2019 Joko Widodo mengikuti jejak SBY, terpilih dua kali berturut-turut sebagai kepala negara.

Namun sedikit perbedaan terjadi sejak dua pilpres terakhir, kandidat calon Presiden yang bertarung hanya dua orang saja yakni Jokowi berhadapan dengan Prabowo.

Terlepas dari beragam peristiwa yang menyertai sengitnya kompetisi pilpres 2014 dan 2019 sejumlah catatan penting dapat digarisbawahi sebagai pembelajaran untuk meningkatkan kualitas demokrasi di Tanah Air di masa depan.

Menghabiskan anggaran sebesar Rp25 triliun persaingan pada pilpres 2019 terbilang militan mulai dari dunia maya hingga dunia nyata.

Namun tulisan ini tidak membahas lebih jauh apa saja fakta tersebut dan memilih fokus pada empat perilaku yang perlu menjadi perhatian dan keseriusan seluruh keluarga di Tanah Air dalam mendidik buah hati belajar dari perhelatan demokrasi yang melibatkan 199 juta pemilih.

Jika disederhanakan ada empat frasa yang cukup sering didengungkan semasa pilpres 2019 bersumber dari kandidat, tim sukses, hingga simpatisan dan masyarakat yakni kecurangan, tidak menerima kekalahan, tidak siap berbeda pendapat dan informasi hoaks.

Terlepas dari bagaimana fakta aktual di lapangan empat frasa tersebut perlu menjadi perhatian karena semuanya adalah karakter negatif yang jika tidak diantisipasi mulai sejak dini akan menjadi perilaku kolektif bangsa.

Kecurangan atau curang secara bahasa artinya berlaku tidak jujur dan adakalanya benih-benihnya tumbuh di dalam keluarga tanpa disadari.

Kerap dijumpai karena ingin membahagiakan anak, orang tua rela melakukan apa saja termasuk menerapkan praktik ketidakjujuran dalam mendidik buah hati.

Mungkin ada yang masih ingat kejadian di Gresik pada 2014 yaitu sebanyak 60 wali murid diduga terlibat dalam pemberian kunci jawaban ujian nasional.

Tidak hanya itu setiap orang tua tentu ingin anak mereka diterima sekolah dan kuliah di tempat favorit, tetapi dalam praktiknya adakalanya menggunakan cara yang tak dibenarkan seperti melakukan suap.

Memang semua itu dilakukan untuk membahagiakan dan mewujudkan keinginan anak tetapi dibalik semua itu upaya tak jujur alias curang yang dilakukan para orang tua dapat membekas pada kepribadian anak.

Akibatnya setelah dewasa, maka dalam mewujudkan keinginan anak lebih memilih jalan pintas ketimbang cara prosedural dan sesuai aturan.

Oleh sebab itu perlu sedari dini menekankan pentingnya kejujuran kendati pahit namun berbuah manis di masa depan.

Kepada anak perlu ditanamkan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan tak dapat dibenarkan karena yang paling utama dalam setiap pencapaian adalah proses yang baik dan benar.

Jika anak dididik dengan kejujuran dan menekankan proses dalam mencapai tujuan maka akan lahir pribadi berintegritas.

Jika integritas sudah menginternalisasi menjadi pilar kekokohan dan modal utama persaingan antar bangsa.

Kedua, yang perlu dicermati adalah sikap tidak menerima kekalahan. Para orang tua harus sedari dini perlu menekankan pentingnya hal ini karena kondisi faktual manusia adalah tak luput dari kekhilafan dan kesalahan.

Contoh kecil kekeliruan yang kerap dipraktikan orang tua adalah sikap menyalahkan lantai saat anak terjatuh, membela anak yang dimarahi guru di sekolah, membiarkan saja ketika anak berbuat salah adalah cikal bakal pembentukan karakter menjadi sosok yang selalu benar, tak mungkin salah dan ketika ada kesalahan itu disebabkan faktor di luar dirinya.

Oleh karena itu tak jarang dijumpai dalam keseharian anak yang secara perilaku salah dan sudah diingatkan bukannya melakukan introspeksi malah menyalahkan orang lain.

Dalam skala yang lebih besar sikap jumawa dan merasa benar sendiri bisa melantakan tatanan sosial dan norma yang berlaku di tengah masyarakat.

Tentu ada yang pernah menjumpai pengendara di jalan raya yang melanggar lampu lalu lintas namun malah menghardik pengemudi dari arah berlawanan karena merasa terhambat.Atau usai pertandingan sepak bola suporter yang kalah melempari pemain yang meraih kemenangan dengan batu.

Lagi-lagi ini adalah pesan moral dalam mendidik anak bahwa tidak semua keinginan dapat terwujud. Hidup adalah kompetisi dan adakalanya berada pada posisi menang dan sesekali kalah. Maka terapkan prinsip saat menang tidak terbang ketika kalah tak tumbang.

Ketiga tak siap berbeda pendapat. Adakalanya saat seseorang berbeda pendapat dan pandangan dengan orang lain maka otomatis menjadi musuh.

Padahal perbedaan pendapat adalah suatu kemestian yang tak dapat dielakan. Perbedaan pandangan merupakan hal lumrah di era demokrasi dan akan jadi persoalan jika seseorang merasa dia saja yang benar selainnya keliru.

Sikap untuk membiasakan diri berdinamika dengan pihak lain akan kian mendewasakan anak. Karena itu membuka ruang diskusi dan berdialektika dengan anak dalam pengasuhan mutlak diperlukan.

Memang ada hal-hal yang menjadi otoritas orang tua dan ada hal yang dapat dikomunikasikan untuk didiskusikan bersama anak untuk mengasah argumentasi dan kemampuan berpikirnya.

Yang tak kalah penting saat terjadi perbedaan pendapat maka tak harus memaksa saya yang benar dia yang salah karena hal itu hanya sebatas perbedaan sudut pandang semata.

Sehingga yang perlu ditekankan adalah pendapat saya bisa jadi benar namun ada peluang salahnya sebaliknya pendapat dia bisa jadi salah namun ada peluang benarnya dan tinggal bersepakat pada hal yang sama dan bertoleransi pada perbedaan yang ada.

Terakhir yang cukup marak terjadi sepanjang pilpres adalah penyebaran kabar bohong alias hoaks. Di sini dituntut kemampuan literasi yang harus diasah sejak dini untuk menguji kebenaran suatu informasi dan tidak menyebarkan jika diragukan validitasnya.

Penanaman perilaku tak mudah menyebar informasi sebelum dipastikan kebenarannnya yang dimulai dari keluarga merupakan salah satu upaya menyaring residu informasi ditengah pesatnya arus lalu lintas informasi saat ini.

Menurut Organisasi Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) penyebaran hoaks di Tanah Air sudah masuk kategori membahayakan karena menyebar secara masif ke seluruh lini di masyarakat.

Bahkan dampak hoaks di Indonesia telah memicu konflik horizontal hingga memakan korban nyawa manusia.

Tidak hanya itu, hoaks di bidang kesehatan juga telah membunuh banyak orang yaitu informasi yang menyatakan orang terserang stroke disarankan jarinya ditusuk pakai jarum agar darah keluar sehingga segera pulih.

Ini dipercaya banyak orang dan dipraktikan, padahal seharusnya cepat dibawa ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan lebih awal sehingga bisa tertolong.

Berikutnya hoaks di bidang politik juga merusak demokrasi karena dalam pilkada atau pemilu orang lebih sibuk membahas hal-hal tidak penting dan belum tentu benar ketimbang mengupas visi misi dan program kerja kandidat.

Melakukan kecurangan, tidak menerima kekalahan, tidak siap berbeda pendapat dan menyebar informasi hoaks merupakan karakter tak elok yang harus dicegah sedari dini karena dapat menimbulkan dampak kerusakan dengan skala luas di masyarakat.

Jika keluarga Indonesia sedari dini menanamkan kepada anak sikap menolak kecurangan, sportif menerima kekalahan, arif berbeda pendapat dan tidak menyebar hoaks maka ini adalah cikal bakal lahirnya karakter mulia yang akan membuat kehidupan masa depan bangsa ini menjadi lebih baik pada segala aspek mulai dari politik, ekonomi, pendidikan dan lainnya yang mengantarkan Indonesia menjadi negara besar yang berkarakter.

Pewarta :
Editor: Miko Elfisha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar