Jarak yang Jauh, 40 Anak Difabel di Desa Baru Tidak Bisa Bersekolah

id sekolah luar biasa

Anggota DPRD Provinsi Sumbar, Amora Lubis saat bersama anak-anak berkebutuhan khusus atau difabel di Desa Baru Kecamatan Ranah Batahan Pasaman Barat, Selasa (16/1) (ANTARA SUMBAR/Altas Maulana)

Simpang Empat, (Antaranews Sumbar) - Sekitar 40 anak berkebutuhan khusus atau difabel di Nagari Desa Baru, Kecamatan Ranah Batahan, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat (Sumbar), belum memperoleh pendidikan di Sekolah Luar Biasa.

Salah seorang guru relawan di Desa Baru, Siska, Selasa mengatakan 40 anak-anak itu belum mendapat sentuhan pendidikan selayaknya anak-anak yang lainnya.

Apalagi, SLB di Manggonang Kecamatan Sungai Aur merupakan satu-satunya SLB di Pasaman Barat yang berjarak sekitar 40 kilometer.

"Kondisi ini membuat anak-anak tidak bisa mengikuti pendidikan. Kalau misalnya anak-anak akan tinggal di SLB tersebut jelas akan menyulitkan bagi orang tua yang harus selalu dekat dengan anaknya. Karena anak berkebutuhan khsusus harus selalu dalam pantauan orang tua," ujarnya.

Ia mengatakan sesuai dengan undang-undang, anak berkebutuhan khusus memiliki kesempatan yang sama dalam pendidikan.

"Padahal, dengan adanya SLB anak-anak ini bertemu dengan guru, teman dan bermain bersama-sama. Belajar banyak hal sesuai dengan kondisi mereka masing-masing," katanya.

Ia menyebutkan orang tua dari siswa SLB tersebut menginginkan agar anak-anak mereka yang disabel tersebut bisa memperoleh layanan dan fasilitas pendidikan sebagaimana layaknya anak-anak lain.

Sementara itu, Anggota DPRD Provinsi Sumbar, Amora Lubis meminta kepada Dinas Pendidikan Sumbar untuk mencari solusi agar anak-anak tersebut bisa memperoleh hak dasar dan konstitusinya memperoleh layanan pendidikan sebagai bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

"Memang kewenangan untuk mengelola SLB berada pada Dinas Pendidikan Provinsi Sumbar. Tolong perhatikan anak-anak ini," harapnya.

Ia meminta Dinas Pendidikan Sumbar mencarikan solusi dari permasalah pelajar SLB yang tidak terakomodir dengan baik, terutama di Kabupaten Pasaman Barat dan Nagari Ranah Batahan.

Di antara alternatifnya adalah membangun SLB di Pasaman Barat sebagai bentuk perhatian terhadap anak-anak berkebutuhan khsusus.

"Menjelang hal itu terwujud kita bisa melakukan sekolah Gendongan dari SLB di Sungai Aur atau kelas jauh dari SLB di Manggonang Kecamatan Sungai Aur. Yang penting adalah anak-anak tersebut segera dapat pelayan pendidikan," sebutnya.

Ia memberikan apresiasi kepada guru relawan, Siska yang telah berinisiatif secara sukarela mengasuh dan mendidik anak-anak tersebut dengan mengunjungi kerumah-masing. Walaupun baru bisa menjangkau sebagian di antara mereka. (*)

Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar