Padang, (Antara Sumbar) - Potensi ikan tuna di Sumatera Barat (Sumbar) belum tergarap maksimal karena hingga saat ini tidak ada nelayan yang khusus menangkap ikan jenis itu sehingga membuka peluang investor pada sektor itu lebih luas.


         "Nelayan kita sebagian besar adalah nelayan tradisional dengan kapal di bawah 30 GT yang tidak mungkin menangkap ikan tuna hingga ke tengah laut. Peluang ini bisa dimanfaatkan investor," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (KKP) Sumbar Yosmeri di Padang, Selasa.


          Menurutnya tuna biasanya berada di Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) yang luasnya 200 mil laut dari garis dasar pantai Kapal yang bisa menangkap ikan di zona tersebut adalah kapal di atas 30 GT.


          "Sejumlah nelayan kita memang ada yang memiliki kapal di atas 30 GT, tetapi bukan kapal penangkap tuna, tetapi berupa bagan," ujarnya.


          Ia mengungkapkan untuk kapal tuna yang efektif tipe "longline" harganya memang terbilang tinggi bagi nelayan Sumbar yaitu sekitar Rp1,5 miliar hingga Rp2 miliar sehingga peran investor akan lebih memungkinkan untuk eksplorasi potensi tuna di Sumbar.


          Yosmeri mengatakan untuk mendorong masuknya investasi, Pemerintah Provinsi Sumbar telah melakukan beberapa langkah seperti membangun infrastruktur transportasi dengan baik, pembuatan surat izin yang cepat asal sudah memenuhi persyaratan, hingga tidak ada pungutan biaya apa pun.


         "Tidak ada pengutan apapun untuk industri perikanan di Sumbar," tegasnya.


          Keberadaan Bandara Internasional Minangkabau (BIM) yang hanya berjarak 30 km dari pelabuhan menurutnya juga menjadi modal penunjang karena siap untuk mengantarkan ikan ke negara tujuan. Demikian juga Pelabuhan Teluk Bayur yang sangat menunjang untuk mobilisasi alat, bahan dan perlengkapan lainnya.


         Selain itu Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Bungus, Teluk Kabung, Padang yang jaraknya dengan BIM hanya sekitar 20 kilometer juga bisa menjadi faktor yang dipertimbangkan oleh investor.


         Ia memprediksi untuk investasi bidang tersebut, selain untuk kapal, dibutuhkan Rp30 miliar untuk pembangunan pabrik pengolahan ikan yang sesuai standar. (*)