Yang Muda Yang Berkiprah di Bidang Filantropi

Pewarta : id dompet dhuafa

Musfi Yendra ,Branch Manager Dompet Dhuafa.

Padang, (Antara Sumbar) - Selama ini filantropi identik dengan dunia orang tua dan para pensiunan karena tidak menarik dan tidak memberikan profit serta menjanjikan secara karir.

Berkiprah di bidang kemanusiaan adalah pilihan "jalan sepi" dan tak banyak ditempuh orang banyak karena secara gengsi tak dapat dibanggakan.

Bagi kaum muda, bekerja di bidang perminyakan hingga teknologi komunikasi jauh lebih menantang dan menjanjikan ketimbang menceburkan diri dalam dunia sosial kemasyarakatan yang saban hari harus berinteraksi dengan berbagai persoalan sosial.

Namun pandangan itu ditepis oleh Musfi Yendra, seorang Magister Ilmu Politik dari Universitas Andalas yang pada usia 28 tahun telah memimpin lembaga kemanusiaan Dompet Dhuafa Singgalang, Sumatera Barat.

Meski sempat bercita-cita menjadi politisi, pria kelahiran Nagari Tabek, Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, 22 Mei 1982 itu, malah banting stir mengurus kegiatan sosial pada lembaga yang merupakan cabang dari Dompet Dhuafa Republika.

Ketika itu ia sedang berkarir sebagai seorang jurnalis, namun ia memilih untuk menerima tawaran bergabung dengan Dompet Dhuafa Singgalang. Bahkan tawaran dari sejumlah perusahaan lain pun ia tepis.

Berangkat dari keprihatinannya setiap kali pemilu masyarakat miskin selalu menjadi komoditas politik bagi sejumlah oknum politisi.

"Berbagai janji perbaikan kehidupan disampaikan dengan harapan mendapat dukungan suara, tapi setelah pemilu usai kehidupan orang miskin tak banyak berubah malah tambah sulit," ucapnya.

Sejak berkutat di Dompet Dhuafa Singgalang, sehari-hari Musfi bersama timnya mengurus orang miskin dengan kompleksitas persoalan.

"Itu yang membuat saya yang paling bahagia, bisa merasakan berbagi dan mencarikan solusi atas kesulitan mereka," ujarnya.

Ketika banyak yang mempertanyakan lulusan S2 malah kerja mengurus orang miskin, bagi Musfi hal itu soal pilihan hidup menjadi bermanfaat untuk orang banyak.

Lembaga kemanusiaan Dompet Dhuafa Singgalang merupakan cabang dari Dompet Dhuafa Republika untuk wilayah Sumatera Barat bergerak di bidang sosial, kemanusiaan, pendidikan, ekonomi, kesehatan dan penanganan kebencanaan.
Manajemen Modern

Musfi menceritakan ada tiga bentuk aktivitas lembaga yang dipimpinnya, mulai menghimpun dana publik, mengelola sumber daya dan menyalurkan dana yang dihimpun.

Dalam menghimpun dana berupa zakat, infak, sedekah, wakaf, CSR perusahaan, sosial kemanusiaan dan kurban pihaknya menggunakan pendekatan marketing modern, bukan konvensional.

"Kami memberikan pelayanan yang terbaik terhadap donatur, pemanfaatan sosial media, media cetak dan elektronik. Kami terus belajar mengadopsi konsep-konsep marketing terbaru untuk meyakinkan publik berdonasi," kata suami dari Safitri ini.

Menurutnya yang ikut berdonasi di Dompet Dhuafa Singgalang tidak hanya kaum Muslim dengan zakatnya, tapi semua agama bisa ikut berdonasi melalui sosial kemanusiaan.

Tidak hanya mengajak donasi uang kepada publik, kata dia, tapi juga sedekah ilmu, barang berharga. Bahkan pihaknya punya jaringan komunitas preman yang mau mendonasikan darahnya jika dibutuhkan untuk membantu orang yang sedang sakit darurat.

Ia menambahkan salah satu prestasi yang diraih pada 2015 adalah meraih Social Welfare Award dari Lembaga Koordinasi Kesejahteraan Sosial Sumbar sebagai lembaga zakat terbaik.

Dalam mengelola sumber daya menerapkan manajemen layaknya bekerja di sebuah perusahaan dengan menyeleksi SDM secara ketat, tak hanya aspek kompetensi, tapi sangat memperhatikan karakter dan passion, ujarnya.

SDM lembaga itu terdiri dari anak muda semua, tapi harus mampu bekerja secara profesional. Dalam mendesain program lembaga ini menggunakan pendekatan-pendekatan manajemen program yang terukur berdasarkan key performance indicator (KPI).

Selain itu dalam penyaluran dana yang dihimpun, Dompet Dhuafa Singgalang memastikan penerima manfaatnya adalah orang yang tepat.

Hal ini karena menyangkut amanah dan kepercayaan donatur. Dalam menentukan penerima manfaat pihaknya menetapkan kriteria-kriteria berdasarkan survei lapangan yang dilakukan, kecuali pada kasus tertentu seperti bencana alam.


Kepercayaan Publik

Salah satu kunci keberhasilan mengelola lembaga sosial yang menghimpun dana masyarakat adalah menjaga kepercayaan publik karena lembaga tersebut dapat berjalan dari masyarakat.

Untuk itu Musfi menerapkan prinsip akuntabilitas dan transparansi pengelolaan dana yang dihimpun dari mana saja, untuk apa digunakan dan siapa yang dibantu.

Semuanya dipublikasikan melalui media serta terus membangun kemitraan dengan banyak pihak, terutama media sebagai partner komunikasi, organisasi, komunitas masyarakat, baik di daerah, nasional bahkan internasional.

Lima tahun memimpin Dompet Dhuafa Singgalang Musfi mampu menghimpun donasi publik sebesar Rp10,1 miliar yang telah disalurkan kepada 100 ribu orang penerima manfaat, dalam berbagai bentuk program kemanusiaan.

Pada 2013 publik tentu ingat kisah Dora Indriyanti Tri Murti, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bung Hatta yang ramai diberitakan karena penyakit aneh berupa kepala mengeluarkan keringat darah.

Dompet Dhuafa Singgalang merupakan pihak yang menghimpun dana serta memfasilitasi pengobatan Dora ke Jakarta ketika itu.

Dari dana yang dihimpun selain membiayai pengobatan juga dibelikan satu unit rumah untuk ditempati Dora beserta keluarganya.

Pengalaman lain yang berkesan selama Musfi memimpin Dompet Dhuafa Singgalang ketika mendampingi pengobatan penderita kusta di Padang Pariaman tahun 2014 serta mengurus dua orang anak penderita busung lapar di Padang Pariaman.

Ketika itu ia menyaksikan bagaimana dua orang anak yang akibat kemiskinan harus makan tanah dengan kondisi yang memprihatinkan.

"Rasanya tidak percaya ada orang yang kondisinya seperti itu, bahkan ketika mencoba mendampingi di rumah sakit sempat dihalangi petugas karena pemerintah setempat malu," ujarnya.

Kini ia mendirikan PT Dompet Dhuafa Niaga yang telah memiliki lima mini market di Padang bermana Daya Mart yang pengelolaannya diserahkan kepemilikannya kepada orang miskin, tapi didampingi dan diberikan pelatihan manajemen usaha.

Daya Mart mengusung konsep swalayan yang menjual segala macam barang dan makanan serta jasa serta memfasilitasi trading area dan menjual produk UKM lokal.

Daya Mart didirikan dengan kepemilikan mayoritas adalah mustahik atau keluarga miskin dan sebagian investor yang peduli dan ingin berbagi melalui investasi bisnis berbasis sosial, kata dia,

Ia menyampaikan Daya Mart juga memfasilitasi penjualan produk-produk makanan lokalbagi pelaku UKM

Musfi pun punya mimpi besar menekan angka kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui program pemberdayaan ekonomi. (*)
Editor: M R Denya
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar