TENTANG KAMI | INDEX | REDAKSI | IKLAN | RSS | PETA | KONTAK | KETENTUAN | FORUM | FACEBOOK | Twitter | REGISTER | SIGN IN
Jumat, 23 Juni 2017 - 29 Ramadhan 1438 H

Bukittinggi Kaji Pengembangan Wisata Budaya

Bangunan Penjara Lama yang berlokasi di Jalan Perintis Kemerdekaan Bukittinggi direncanakan pengembangannya oleh pemerintah setempat sebagai tujuan wisata budaya. (ANTARA SUMBAR/Ira Febrianti)
Pemerintah Kota Bukittinggi, Sumatera Barat (Sumbar) besama pihak terkait, tengah mengkaji pengembangan pariwisata daerah dari sejumlah objek warisan budaya atau peninggalan yang belum tergarap.

"Selama ini tujuan wisatawan ke kota wisata ini lebih banyak untuk menikmati wisata alam. Padahal, di Bukittinggi terdapat banyak bangunan lama yang berpotensi dikembangkan sebagai tujuan wisata budaya," kata Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat, Erwin Umar, baru-baru ini..

Ia menilai salah satu objek yang berpotensi menjadi tujuan wisata budaya di Bukittinggi adalah bangunan penjara lama karena berada di lokasi strategis, Jalan Perintis Kemerdekaan.

"Penjara telah dihibahkan oleh pemerintah pusat yakni pada September 2016, dan saat ini masih dalam tahap melengkapi administrasi. Kami upayakan agar bangunan itu dapat dengan segera dimanfaatkan untuk menambah pendapatan bagi daerah," ujarnya.

Menurutnya menerangkan penjara lama berada di tengah kota Bukitinggi dengan halaman yang luas untuk dibuat "medan nan balinduang" (semacam panggung, red) sebagai tempat atraksi seni budaya daerah dari para seniman sehingga dapat menjadi destinasi baru dan menghidupkan kota.

Dalam rencana pengembangannya, bangunan asli penjara lama tetap dipertahankan dan dijadikan sebagai museum edukasi (pendidikan) serta menyediakan tempat bagi seniman dan pengrajin memamerkan hasil karya seperti lukisan maupun produk kerajinan daerah serta bordir kerancang.

Tempat itu juga akan dikembangkan sebagai lokasi kuliner. Warga yang dibina dari Dinas Sosial atau bidang ketenagakerjaan dapat memanfaatkannya untuk menjalankan usahanya.

Ia menyebutkan pengembangan objek wisata budaya itu memerlukan kerja sama dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait seperti Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga, Dinas Koperasi UMKM dan Perdagangan, serta memerlukan dukungan dari pihak ke tiga karena tidak memungkinkan bila hanya mengandalkan APBD.

"Selain penjara itu masih ada bangunan lama lain yang terbengkalai di Bukittinggi, namun berpotensi untuk dikembangkan seperti Hotel Centrum dan stasiun kereta api lama. Namun, rencana ini perlu kajian lintas sektoral di samping statusnya bukan milik pemerintah daerah," ujarnya.

Ia mengharapkan secara bertahap pengembangan wisata budaya dapat dilakukan melalui kerjasama dengan pihak yang terkait untuk menambah destinasi wisata dan menjaga kunjungan wisatawan ke daerah itu.

Kota Bukittinggi telah memiliki sejumlah objek wisata budaya yang selama ini cukup ramai didatangi para wisatawan, antara lain Taman Marga Satwa dan Budaya (TMSB) Kinantan, yang di dalam areanya terdapat Rumah Adat Baanjuang (Rumah Gadang/Rumah Adat Minangkabau) Bergonjong Gajah Maharam, yang mempunyai sembilan ruang dengan anjungan di bagian kanan dan kiri.

Di rumah adat tersebut tersimpan dan dipamerkan aneka benda budaya Minangkabau layak sebuah museum.

Di Kota ini juga terdapat bangunan bersejarah seperti Monumen Jam Gadang, dan rumah Proklamator Kemerdekaan Indonesia, Bung Hatta.
Kota Wisata
Bukittinggi telah lama dijuluki kota wisata Sumatera Barat yang didukung banyaknya objek wisata berupa panorama alam.

Situs Wikipedia menyebutkan Bukittinggi adalah kota terbesar kedua di Provinsi Sumatera Barat. Kota tersebut menjadi ibu kota Indonesia pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Bukittinggi juga pernah menjadi ibu kota Provinsi Sumatera dan Provinsi Sumatera Tengah dan pada zaman kolonial Belanda disebut dengan Fort de Kock dan dahulunya dijuluki sebagai Parijs van Sumatera.

Luas Bukittinggi 145,29 kilometer persegi mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 1999.

Kota Bukittinggi merupakan salah satu pusat perdagangan grosir terbesar di Pulau Sumatera.

Daerah ini merupakan tempat kelahiran beberapa tokoh pendiri Republik Indonesia, di antaranya adalah Mohammad Hatta, dan Assaat yang masing-masing merupakan proklamator dan Penjabat Presiden Republik Indonesia.

Selain sebagai kota perjuangan, Bukittinggi juga terkenal sebagai kota wisata yang berhawa sejuk, dan bersaudara (sister city) dengan Seremban di Negeri Sembilan, Malaysia.

Tempat wisata yang ramai dikunjungi adalah Jam Gadang, yaitu sebuah menara yang terletak di jantung kota sekaligus menjadi simbol bagi kota yang berada di tepi Ngarai Sianok.

Industri pariwisata merupakan salah sektor andalan Kota Bukittinggi. Banyaknya destinasi wisata menarik yang menjadikan kota ini dijuluki sebagai "kota wisata".

Objek Ngarai Sianok merupakan salah satu destinasi wisata utama. Taman Panorama yang terletak di dalam kota Bukittinggi memungkinkan wisatawan untuk melihat keindahan pemandangan Ngarai Sianok.

Di dalam Taman Panorama juga terdapat gua bekas persembunyian tentara Jepang sewaktu Perang Dunia II yang disebut dengan Lubang Japang.

Untuk mengunjungi nagari Koto Gadang di bawah ngarai, wisatawan bisa melalui Janjang Koto Gadang. Jenjang yang memiliki panjang sekitar 1 km ini, memiliki desain seperti Tembok Besar Tiongkok.

Bukittinggi juga memiliki Taman Bundo Kanduang berupa replika Rumah Gadang yang berfungsi sebagai museum kebudayaan Minangkabau.

Kota ini dijaga tiga gunung yang menjulang tinggi, yakni Gunung Singgalang, Marapi dan Tandiket yang sering diistilahkan "Tri Arga".

Sekitar dua jam perjalanan dari Bukittinggi, terdapat kota Batusangkar di Kabupaten Tanah Datar yang merupakan kota budaya di Sumatera Barat.

Di daerah tersebut terdapat sejumlah destinasi wisata budaya yang ramai dikunjungi wisatawan, antara lain, Istana Pagaruyung, Istana Si Linduang Bulan, Batu Batikam, Batu Angkek-Angket, Nagari Tuo Minangkabau Pariagan. (*)


Editor : Joko Nugroho

COPYRIGHT © ANTARASUMBAR 2017

Perspektif
Oleh : Miko Elfisha
          Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy baru saja menetapkan sistem pendidikan baru ...
Baca Juga