Padang (ANTARA) - Kawasan tanjakan Sitinjau Lauik tak hanya dikenal dengan kecuraman tanjakan dan turunan yang ekstrem yang harus dilintasi para pengendara yang melintas di jalur Solok-Padang di Provinsi Sumatera Barat.
Jalur tanjakan Sitinjau Lauik sendiri merupakan salah satu pintu masuk utama ke Kota Padang, ibu kota Provinsi Sumatera Barat.
Jalur masuk Kota Padang lainnya adalah dari arah Painan Kabupaten Pesisir Selatan serta dari kawasan Lembah Anai di Kabupaten Tanah Datar dan Padang Pariaman.
Namun di sini akan membahas terkait habitat di kawasan Sitinjau Lauik, yang merupakan jalur perbatasan Solok dan Kota Padang.
Hutan lebat di sepanjang jalur Sitinjau Lauik itu tepat tumbuhnya pepohonan besar berumur puluhan atau bahkan seratusan tahun.
Di sana hidup dan menjadi habitat hewan primata jenis Beruk atau bahasa latinnya Macaca Nemestrina L. Beruk di sana merupakan spesies primata yang memiliki ekor pendek seperti ekor babi. Mereka hidup di antara dua kawasan Suaka Marga Sata Bukit Barisan dan Suaka Margasatwa Terusan Arau Hilir (Strofor Journal, Fakultas Kahutanan Universitas Muhamadiyah; Eka Putra Sohara, Gusmardi Indra, Marganof Marganof).
Beruk di Sitinjau Lauik jumlahnya tidak sedikit. Hampir sepanjang waktu, khususnya pagi dan sore hari jumlah beruk cukup banyak di sekitar jalan atau jalur Sitinjau Lauik.
Selain bergelantungan di pepohonan, juga mereka sudah terbiasa 'mejeng' di pinggir jalan tanjakan itu. Bahkan tidak jarang menyeberang jalan sehingga kerap mengganggu pengendara yang melintas.
Beruk-beruk di sana sudah terbiasa dengan hilir mudik kendaraan besar maupun kecil. Mereka terbiasa menclok duduk di pagar besi di pinggir jalan.
Sebagian dari mereka sibuk pula di tanah pinggir jalan, memungut makanan yang dilemparkan dari kendaraan. Kebiasaan pengendara memberi makanan, itu yang membuat beruk-beruk di sana menjadi terbiasa beraktivitas di pinggiran jalan tanjakan Sitinjau Lauik.
Mereka juga sudah terbiasa beraktivitas tanpa saling mengganggu. Bahkan bagi para relawan yang membantu mengatur arus lalu lintas di jalur kelokan tajam di sana, sudah menjadi pemandangan biasa.
Keberadaan mereka menjadi salah satu daya tarik, dan juga perlu dilakukan upaya pelestarian mereka terkait dengan habitat aslinya. Beruk itu tidak boleh melakukan adaptasi yang salah, namun perlu ada upaya agar mereka tetap berada di habitatnya sehingga bisa lestari.
Sepanjang kawasan hutan di sana terjaga, keberadaan beruk-beruk di sana masih cukup aman karena sumber makanan utama mereka masih tersedia.
Namun dengan berkembangnya kawasan itu, termasuk dengan hadirnya fly over Sitinjau Lauik, keberadaan beruk di sana juga perlu mendapat perhatian. Mungkin bila fly over sudah beroperasi, jalur tanjakan Sitinjau Lauik itu akan menjadi lebih sepi dari pengendara.
Bisa jadi kawasan itu benar sepi, atau mungkin juga akan dimanfaatkan untuk jadi aktivitas kegiatan wisata yang mengundang banyak orang yang beraktivitas di sana, sehingga akan berpengaruh terhadap zona hidup dan habitat beruk di sana.
Dipastikan kehadiran fly over akan berpengaruh besar bagi kawanan beruk itu, khususnya yang terbiasa mendapat pasokan makanan dari para penumpang kendaraan yang melintas.
Kehadiran fly over Sitinjau Lauik menjadi sebuah kebutuhan dan keharusan. Sementara habitat primata khas di sana juga harus sudah mendapat perhatian sejak sekarang agar tidak kehilangan keseimbangan saat perubahan terjadi di kawasan itu.
