Kementerian Pertanian menyebut gula semut aren punya nilai indeks glikemik 38 atau berada pada kategori rendah. Indeks glikemik gula semut aren yang rendah membuat lonjakan gula darah lebih lambat ketimbang mengonsumsi gula pasir dengan nilai indeks glikemik 68.
"Gula semut aren yang praktis (berbentuk butiran menyerupai pasir) disukai konsumen karena mudah larut saat ditambahkan ke dalam minuman atau aneka camilan," kata Rodinal yang telah memulai bisnis pembuatan gula semut aren sejak tahun 2016.
Lebih lanjut Rodinal menyampaikan produk olahan gula semut aren yang diproduksinya saat ini banyak dipasarkan ke toko-toko cenderamata di Pulau Lombok hingga Pulau Sumbawa. Harga jual kemasan gula semut aren ukuran 300 gram senilai Rp25 ribu dan kemasan 1 kilogram senilai Rp60 ribu.
Skema penjualan melalui lokapasar yang baru digeluti lima bulan terakhir turut mempengaruhi penjualan. Konsumen berdatangan dari luar Nusa Tenggara Barat membeli produk lewat toko daring yang dikelola secara mandiri.

Di Nusa Tenggara Barat, pohon aren tumbuh secara liar di kawasan lereng bukit maupun tepian sungai.
Data Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB menyebut akumulasi luas perkebunan aren mencapai sekitar 571,71 hektare dengan jumlah produksi 385,98 ton pada tahun 2024.
Daerah yang memiliki perkebunan pohon aren paling luas di Nusa Tenggara Barat adalah Lombok Barat dengan luas panen mencapai 198,52 hektare, Lombok Timur 124 hektare, dan Lombok Utara 74,98 hektare.
Petani aren bernama Sahdi mengatakan berbagai produk olahan aren yang semakin diminati konsumen berdampak terhadap harga jual pohon aren. Sebuah pohon aren yang produktif dapat dihargai sekitar Rp5 juta oleh para petani dan air niranya bisa disadap selama belasan tahun.
"Proses penyadapan air nira dari tandan bunga dilakukan setiap pagi dan sore. Rata-rata satu pohon aren bisa menghasilkan air nira sebanyak 12 liter," kata Sahdi yang telah menyadap air nira selama 15 tahun.
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) dan Universitas Mataram saat ini sedang mengembangkan penelitian produk olahan aren agar dapat meningkatkan nilai jual komoditi tersebut.
Kepala BRIDA NTB I Gede Putu Ariadi mengatakan salah satu produk hilirisasi aren yang saat ini dikembangkan berupa pembuatan air nira menjadi bahan dasar minuman siap saji yang memenuhi standar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
