Jakarta, (Antara) - Kalangan pakar yang tergabung dalam Tim MRV (Measurement, Reporting and Verification) menyatakan penerapan teknologi ekohidro di kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) terbukti mampu mengurangi risiko kebakaran hutan dan mengurangi emisi CO2. Sekretaris Tim MRV Dr Basuki Sumawinata di Jakarta, Minggu, mengatakan teknologi tersebut juga bermanfaat untuk meminimalisir penurunan gambut (subsidensi), meningkatkan produktivitas lahan dan memperbaiki pengelolaan kawasan secara berkelanjutan. "Secara sosial, teknologi ini berkorelasi positif terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar, terutama dalam pengembangan tanaman kehidupan. Kami melakukan verifikasi di berbagai kawasan seperti hutan tanaman akasia, tanaman kehidupan karet dan kawasan konservasi dan hasilnya positif," katanya. Tim MRV merupakan tim independen yang dibentuk oleh Kementerian Kehutanan dan melibatkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan peneliti independen untuk melakukan pengukuran, pelaporan dan verifikasi pengelolaan HTI. Salah satu perusahaan HTI yang menerapkan teknologi ekohidro yakni PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) di Semenanjung Kampar, Riau. Deputy Director Sustainability RAPP Dian Novarina menambahkan, sebagai pengembangan program MRV, Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI) dan Himpunan Gambut Indonesia (HGI) menginisiasi beberapa Focused Group Discussion (FGD). Salah satu rekomendasi FGD adalah penerapan "remote sensing" atau penginderaan jauh dan teknologi georadar untuk menduga cadangan karbon di lahan gambut. "Teknologi ini untuk pendugaan stok karbon sehingga dapat memberikan pengukuran yang lebih akurat dan mengurangi perdebatan diantara banyak pihak," katanya. Pakar Himpunan Gambut Indonesia (HGI) Mahmud Raimadoya mengungkapkan, teknologi georadar dapat mengukur kedalaman gambut tanpa merusak serta diperoleh hasil pengukuran lebih cepat. "Hasil kajian ini akan disampaikan dan ditindaklanjuti dalam forum internasional Oktober mendatang," kata ahli remote sensing itu. Terkait kebakaran hutan, lahan dan asap di Riau, Direktur Jenderal Center for International Forestry Research (CIFOR) Dr Peter Holmgren mengatakan pihaknya telah mencari masukan untuk mendapatkan gambaran lebih lengkap. Selain fly over, tambahnya, tim CIFOR melakukan pertemuan dengan para pemangku kepentingan seperti pemerintah setempat, masyarakat, serta pengusaha. Peter berpendapat, kebakaran hutan dan lahan sangat kompleks dan tidak hanya mencakup sektor kehutanan saja. Masalahnya harus dilihat lebih luas dari segi pengelolaan landscape atau bentang lahan, persoalan sosial serta persoalan ekonomi. "CIFOR akan mendalami persoalan yang ada untuk membantu pemerintah Indonesia mencari solusinya," katanya. (*/wij)
Berita Terkait
Lapas Lubuk Basung kembang peternakan ayam bertelur, 100 butir panen sehari
Senin, 19 Januari 2026 17:46 Wib
Tujuh titik hunian sementara di Agam sedang proses pembangunan
Senin, 19 Januari 2026 17:17 Wib
Tim bulu tangkis Indonesia pasang target dua medali Indonesia Masters
Senin, 19 Januari 2026 16:16 Wib
KPK lakukan OTT kedua di 2026, tangkap Wali Kota Madiun Maidi
Senin, 19 Januari 2026 16:06 Wib
Hansi Flick kecewa berat Barcelona takluk dari Real Sociedad
Senin, 19 Januari 2026 16:03 Wib
Immanuel Ebenezer didakwa terima gratifikasi Rp3,36 M dan motor Ducati
Senin, 19 Januari 2026 16:01 Wib
Legislator: Pembangunan Jembatan Lanai terkendala Amdal-izin Kemenhut
Senin, 19 Januari 2026 15:39 Wib
Kemenhaj jamin transparansi seleksi petugas haji daerah
Senin, 19 Januari 2026 15:38 Wib
