Wabah COVID-19 kembali merebak di Ibu Kota Beijing, menginfeksi lebih 100 orang

id china,wabah covid 19,pasar xinfadi,virus corona,beijing

Wabah COVID-19 kembali merebak di Ibu Kota Beijing, menginfeksi lebih 100 orang

Anggota tim dari organisasi sipil untuk penyelamatan Beijing Blue Sky Rescue (BSR) melakukan disinfeksi di pasar grosir Yuegezhuang di Beijing, ibu kota China, Selasa (16/6/2020). ANTARA FOTO/Xinhua-Chen Zhonghao/hp.

Shanghai, (ANTARA) - Badan kedisiplinan tinggi Partai Komunis China mengatakan kembali merebaknya wabah COVID-19 di Ibu Kota Beijing menegaskan kebutuhan mendesak untuk meningkatkan standar sanitasi dan meminimalisasi risiko kesehatan di pasar.

Kebangkitan COVID-19 di Beijing selama sepekan terakhir yang telah menginfeksi lebih dari 100 orang dan meningkatkan kekhawatiran akan penularan yang lebih luas, dikaitkan dengan pasar makanan Xinfadi.

"Epidemi adalah cermin yang tidak hanya menunjukkan aspek kotor dan berantakannya pasar grosir tetapi juga kondisi manajemen tingkat rendah mereka," kata Komisi Pusat untuk Inspeksi Disiplin (CCDI) dalam sebuah laporan yang diterbitkan di situsnya pada Rabu (17/6).

Pasar-pasar makanan China yang luas telah muncul sebagai tempat berkembang biak yang ideal untuk virus corona, yang kini telah menginfeksi lebih dari 8 juta orang di seluruh dunia.

Kelompok besar infeksi pertama ditelusuri ke pasar makanan laut Huanan di Wuhan, tempat kelelawar dan hewan liar lainnya dijual.

Laporan CCDI mencatat bahwa sebagian besar pasar dibangun 20 hingga 30 tahun yang lalu, ketika drainase dan pengolahan air limbah relatif belum berkembang.

An Yufa, seorang profesor di Universitas Pertanian China, mengatakan bahwa pasar harus mengikuti praktik internasional dan menerapkan sistem penelusuran asal serta dokumentasi tentang penyimpanan, transportasi, dan penjualan.

Pejabat di provinsi Wuhan mengambil 3.000 sampel dari alat, papan alas memotong, dan saluran air di 114 pasar petani dan 107 supermarket minggu ini untuk memeriksa sumber-sumber infeksi baru yang potensial. Semua hasilnya negatif, kata mereka.

China telah berjanji untuk melarang perdagangan dan konsumsi satwa liar dalam upaya untuk meminimalisasi penularan penyakit, meskipun penggunaan produk-produk hewani dalam pengobatan tradisional masih diizinkan. (*)
Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar