Sumbar, provinsi yang terus berbenah

id Pemberitaan

Hasil survei indonesia indicator (Ist)

Jakarta (Antaranews Sumbar) – Percepatan pembangunan dan pengembangan pariwisata merupakan agenda nasional untuk menggenjot perekonomian wilayah.

Bahkan pariwisata dianggap sebagai sumber pendapatan daerah potensial yang makin banyak dilirik oleh pemerintahan provinsi.

Riset Indonesia Indicator selama 2018, 74 persen pemberitaan di media online Indonesia tahun ini tentang pemerintah pusat, terkait isu Politik dan Ekonomi.

Menurut Direktur Komunikasi Indonesia Indicator, Rustika Herlambang, situasi ini juga tercermin dari perkembangan isu-isu di daerah, khususnya Provinsi Sumatera Barat.

“Isu-isu di pada 2018 umumnya memang terkait politik, seperti Pilkada 2018 dan Pilpres 2019. Namun berkaca dari Provinsi Sumatera Barat, kerja-kerja pembangunan terus dilakukan,” kata Rustika Herlambang melalui rilis, Sabtu (12/1)

Dalam analisis pemberitaan dengan Artificial Intelligence dari 100.572 berita tentang Sumatera Barat – selain isu Pilkada dan Pilpres.

Rustika menemukan variasi pemberitaan tentang perbaikan dan promosi untuk menunjang pariwisata daerah.

“Saya melihat ini sebagai upaya konsisten untuk meningkatkan potensi wilayah dari sektor pariwisata, walaupun hiruk pikuk politik mulai memenuhi ruang publik,” ujar Rustika.

Mulai dari gelaran Tour de Singkarak yang konsisten setiap tahun diadakan di Sumbar, Pemerintah Provinsi juga gencar melakukan promosi pariwisata, khususnya pariwisata halal.
Hasil survei indonesia indicator (Ist)
Pembangunan untuk menunjang pariwisata pun dilakukan, seperti peluncuran kereta api bandara, pembangunan Teluk Tapang, Sumbar juga memiliki Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mentawai dan Mandeh yang didorong oleh pemerintah pusat. Ke depannya pembangunan tol Padang – Pekanbaru.

Rustika menyebutkan bahwa dengan dikembangkannya dua KEK di Sumbar, merupakan potensi besar agar daerah dapat berpacu membenahi perekonomian. Seperti enam KEK yang saat ini sudah berfungsi seperti KEK Mandalika di Nusa Tenggara Barat saat ini diproyeksikan dapat menjadi ujung tombak perekonomian NTB.

“Tentu kita mengharapkan kesempatan yang sama bagi Sumbar, karena juga terkenal dengan keindahan alamnya. Dari pemberitaan terlihat optimisme media online meliput Mentawai, yang diproyeksikan sebagai lokasi surfing terbaik di dunia," ujarnya.

Upaya promosi pariwisata di tahun ini, dapat menjadi titik pijak menyongsong dua KEK yang dalam tahap pembangunan.

Ia juga menekankan, baiknya perwajahan daerah di media massa juga menjadi salah satu faktor penting dalam pembenahan pembangunan.

Dari 100.572 berita tentang Sumbar di 2018, sebesar 78 persen merupakan berita-berita bersentimen netral dan positif.

Hanya 22 persen sisanya merupakan berita negatif. Bahkan angka ini naik 15 persen dari jumlah pemberitaan tahun lalu, sebesar 87.123 berita.

“Ini juga menjadi modal yang baik untuk terus ‘mempercantik’ wajah Sumbar di ruang media. Karena upaya promosi pariwisata sangat membutuhkan dukungan citra positif di media,” jelasnya.

Rendang Simbol Kepedulian

Satu hal yang menarik dalam temuan I2 menurut Rustika adalah, terlepas dari gencarnya promosi pariwisata Sumbar, ekspos Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sumbar lebih tinggi dibandingkan Dinas Pariwisata Sumbar.

Menurut Rustika, selain memang adanya catatan bencana seperti tanah longsor dan banjir di Sumbar, tetapi ada satu hal yang menarik dari kinerja BPBD Sumbar.

BPBD Sumbar mendapatkan sorotan media paling besar di antara seluruh OPD, karena dalam setahun terdapat kasus bencana seperti banjir dan longsor di berbagai lokasi di Sumbar.
Hasil survei indonesia indicator (Ist)
Sorotan dalam konteks ini tentu suatu yang positif, karena menujukan kegiatan banyak terekspose di media massa.

Selain itu juga penyaluran bantuan dari masyarakat Sumbar untuk korban bencana alam di Indonesia tahun ini, seperti Lombok, Palu, Donggala, dan Selat Sunda.

Dan yang menjadi news value dari sisi keunikan menurutnya adalah sumbangan rendang untuk korban.

Rustika mengapresiasi penyaluran bantuan ini, dan ia menyebutkan publik juga mengapresiasi, dengan tingginya atensi media terhadap BPBD Sumbar tentang isu ini.

Aktivitas penyaluran bantuan ini mencapai 20 persen dari seluruh pemberitaan BPDB Sumbar selama 2018, yang berasal dari media-media nasional, dan media lokal provinsi-provinsi di Indonesia.

“Semua masyarakat tahu, rendang asalnya dari Sumbar. Juga makanan yang bisa tahan lebih lama, sehingga cocok untuk bantuan makanan bagi korban bencana. Melalui BPBD, Sumbar telah menambah citra rendang juga sebagai simbol kepedulian bagi sesama,” ujarnya.

Sebaran ekspose media

Melihat pada sebar ekspos pemberitaan media online Sumbar pada 2018 cenderung meningkat dari 87.123 tahun 2017 menjadi 100.053 di 2018.
Hasil survei indonesia indicator (Ist)
Penurunan justru terjadi pada media cetak namun tidak signifikan 39.696 tahun 2017 menjadi 35.178 tahun 2018. Pada media sosial, netizen masih cendrung mengunakan twitter dalam membincangkan isu-isu terkait daerah Sumbar.

Hal ini terlihat terjadi gap yang sangat jauh ditahun 2018 yakni 25.152 tahun 2017 menjadi 145.223 tahun 2018.

Perbandingan antar provinsi ekpos pemberitaan Sumatera Barat tahun 2018 menurun pada rangking 18 yang tahun 2017 pada posisi rangking 12. Hal ini bukan berarti jumlah produktifitas ekpos pemberitaan menurun akan tetapi ekpos pemberitaan provinsi lain meningkat lebih signifikan.
Hasil survei indonesia indicator (Ist)
Dimana jumlah produktifitas pemberitaan Sumbar pada 2017 sebanyak 87.123 berita meningkat pada 2018 tercatat 100.572, namun peningkatan tersebut tidak mampu menaikan rangking tahun sebelumnya, karena provinsi lain jauh lebih tinggi peningkatannya.

Contoh provinsi Jawa Barat yang tahun 2017 hanya 468.952 berita meningkat draktis menjadi 600.000 berita tahun 2018.***
Pewarta :
Editor: Siri Antoni
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar