Harga pala di Sumbar turun, ini penyebabnya menurut Gapperindo Sumbar

id Irman

Ketua Gabungan Asosiasi Petani Perkebunan Indonesia (Gapperindo) Sumatera Barat, Irman. (ANTARA SUMBAR/Istimewa)

Sentra pala di Sumbar adalah Kabupaten Kepulauan Mentawai, Pesisir Selatan, Agam dan Padang Pariaman
Padang, (Antaranews Sumbar) - Harga komoditas pala di Sumatera Barat mengalami penurunan sejak akhir Maret 2018 dari Rp55.000 per kilogram menjadi Rp45.000 akibat permintaan dari negara tujuan ekspor berkurang.

"Bagi negara penghasil minyak bumi apabila harganya turun maka permintaan pala juga turun," kata Ketua Gabungan Asosiasi Petani Perkebunan Indonesia (Gapperindo) Sumbar, Irman di Padang, Senin.

Sedangkan tujuan ekspor pala ke negara Eropa seperti Belanda dan Inggris, permintaan pala lebih cenderung dipengaruhi kondisi ekonomi umumnya di Eropa.

Apabila ekonomi Eropa mengalami stagnasi atau krisis ekonomi, maka permintaan pala akan turun atau stagnan yang mempengaruhi harga jualnya.

Ia menyebutkan peningkatan produksi pala Sumbar beberapa tahun terakhir kecil sekali yaitu sebesar 0,82 persen, pada 2015 produksinya sebanyak 1.450 ton, 2016 menjadi 1.462 ton dan 2017 mencapai 1.486 ton.

"Sentra pala di Sumbar adalah Kabupaten Kepulauan Mentawai, Pesisir Selatan, Agam dan Padang Pariaman," kata dia.

Produktivitas kebun pala Sumbar hanya sekitar 200 hingga 300 kilogram per hektare per tahun. Cukup jauh bila dibandingkan dengan produktivitas kebun pala di Malaysia mencapai 900 kilogram per hektare per tahun.

Sedangkan standar produktivitas tinggi kebun pala adalah 1.000 kilogram per hektare per tahun dan Malaysia hampir mencapainya, ujar dia.

Ia mengatakan agar Sumbar masuk daerah penghasil pala lima besar di Indonesia tujuh tahun mendatang, maka diperlukan tambahan perluasan kebun pala 10.000 hektare sehingga total luas kebun pala Sumbar menjadi lebih kurang 14.000 hektare.

Sehingga lanjutnya pada 2024 produksi pala Sumbar menjadi lebih kurang 7.000 ton per tahun dengan asumsi produktivitas kebun pala dapat ditingkatkan dengan pengembangan budidayanya 500 kilogram per hektare per tahun.

"Dengan asumsi harga pala Rp70.000 per kilogram maka penerimaan hasil penjualan pala petani dan dana yang masuk ke Sumbar akan mencapai Rp490 miliar setiap tahun," sebutnya.

Irman berharap kepada pemerintah daerah dapat memperhatikan pengembangan produktivitas kebun pala, karena komoditas ini punya nilai ekonomi yang tinggi dan berbuah sepanjang tahun seperti sawit.

Ia menambahkan, langkah yang mesti diambil oleh pemerintah daerah adalah melakukan bimbingan kepada petani pala tentang budidaya dan pengolahan pala pascapanen.

Selain itu perguruan tinggi dan lembaga-lembaga riset juga memiliki peran melalui penelitian terhadap varietas pala, budidaya dan pengolahan pala, agar dapat dihasilkan pala yang bermutu dan pada gilirannya petani dapat harga yang lebih baik. (*)
Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar