Wellington, (Antara/Xinhua-OANA) - Bahan kimia penyebab polusi yang ditemukan setiap hari pada sabun, kosmetika dan krim tabir surya dapat ditemukan diperairan Kutub Selatan dengan tingkat yang sama dengan yang terdapat di daerah perkotaan di seluruh dunia. Bahan kimia aktif tersebut pada produk perawatan pribadi --yang dikategorikan sebagai zat pencemar organik yang mulai muncul (EOC), yang bisa membahayakan ekologi dan kesehatan manusia-- terdapat di dalam aliran air kotor pembuangan yang dikeluarkan dari pangkalan penelitian Antartika, kata beberapa peneliti dari University of Canterbury, Selandia Baru, Kamis (4/12). EOC itu ditemukan di perairan pantai benua yang kebanyakan wilayah beku jarang dihuni dalam tingkat konsentrasi yang sebanding dengan banyak daerah perkotaan di dunia, termasuk di Selandia Baru, pata peneliti Dr. Phil Emnet di dalam satu pernyataan. "Kami menemukan zat pencemar di sepanjang daerah pantai lebih banyak daripada yang kami perkirakan. Tampaknya itu lah kondisi lingkungan hidup, termasuk udara sangat dingin, yang telah timbul akibat keberadaan terus-menerus bahan ini di air laut. Oleh karena itu, buangan limbah mungkin tampaknya memiliki dampak lebih besar pada daerah yang jauh lebih luas di lingkungan laut daripada perkiraan sebelumnya," kata Emnet, sebagaimana diberitakan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Jumat pagi. Keberadaan EOC menjadi keprihatinan internasional sebab banyak bahan kimia yang ditemukan setiap hari dirancang aktif secara biologi dan memiliki dampak besar pada organisme laut. Tapi itu belum dipelajari, kata peneliti penyelia Dr. Sally Gaw di dalam pernyataan tersebut. "Studi ini akan mengarah kepada penanganan lebih secara lebih baik dan sistem pemantauan akan ditempatkan bagi program penelitian Kutub Selatan," kata Gaw. Dr. Neil Gilbert, dari Lembaga Penelitian Antartika Selandia Baru di universitas itu, mengatakan di dalam pernyataan tersebut bahwa penelitian itu telah mengidentifikasi kesempatan untuk meningkatkan penanganan lingkungan hidup mengenai es. (*/sun)
Berita Terkait
Pakar: Zeolit di Solok berpotensi jadi sumber baru ekonomi rakyat
Sabtu, 23 Agustus 2025 18:06 Wib
BPOM tindak sembilan obat bahan alam berbahaya
Jumat, 20 Juni 2025 6:32 Wib
Edukasi pembuatan pupuk bokashi untuk kurangi pupuk kimia di Nagari Tanjung Balik
Jumat, 4 Agustus 2023 8:58 Wib
Pemkab Tanah Datar maksimalkan UPPO hindari ketergantungan pupuk kimia
Selasa, 16 Mei 2023 10:43 Wib
Kurangi penggunaan pupuk kimia, Petani Solok Selatan didorong beralih ke pupuk kandang
Sabtu, 11 Maret 2023 17:30 Wib
Tak harus berbahan kimia, ekstrak buah ini juga dapat membuat wajah anda terlihat glowing
Kamis, 9 Maret 2023 13:28 Wib
BPOM beber celah distribusi produk senyawa kimia perusak ginjal masuk ke Indonesia
Rabu, 2 November 2022 12:35 Wib
Menkes: Tiga zat kimia berbahaya ditemukan dalam obat pasien gagal ginjal akut
Kamis, 20 Oktober 2022 11:23 Wib
