Perhutani Bangun Pabrik Tepung Porang Rp50 Miliar

id Perhutani Bangun Pabrik Tepung Porang Rp50 Miliar

Jakarta, (Antara) - Perum Perhutani akan membangun pabrik pengolahan umbi porang di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, dengan investasi sekitar Rp50 miliar.

"Tahun depan (2014) pembangunan pabrik tepung porang diharapkan sudah rampung sehingga pada tahun berikutnya (2015) mulai beroperasi, dengan kapasitas produksi mencapai 30.000 ton tepung porang per tahun," kata Direktur Utama Bambang Sukamananto, di Jakarta, Rabu.

Menurut Bambang, saat ini Perhutani telah mengembangkan tanaman porang di lahan hutan seluas 3.000 hektare.

Porang dengan bahasa Latin, "Amorphophalus Oncophyllus" ini merupakan tanaman umbi-umbian yang memiliki berbagai kegunaan sebagai bahan makanan seperti mie, tahu, campuran makanan shirataki dan konyiku, juga untuk bahan baku industri lem, campuran bahan kertas, pengganti media tumbuh mikroba, pengganti solusa dalam kaca film.

Selanjutnya isolator listrik, campuran dalam alat-alat pesawat terbang, bahan parasut, bahan obat, penjernih air, pengikat formula tablet, pengental sirup, bahkan dijadikan bahan untuk kesehatan tubuh.

"Untuk tahap awal hasil produksi perdana pabrik tepung porang Blora ini, akan diekspor ke Jepang, dan sejumlah negara lainnya di Asia," ujarnya.

Sesuai dengan jenis tanamannya, porang sangat cocok dikembangkan di bawah hutan jati, dan selama ini sudah dapat tumbuh dengan bagus di hutan jati milik Perhutani.

"Selain di Blora, saat ini Perhutani juga sudah memiliki pabrik tepung porang di Kediri, Jawa Timur, dalam kapasitas kecil. Diharapkan pada tahun 2015 pabrik tepung porang di Blora sudah beroperasi seiring masa panen tanaman porang di wilayah Blora," ujarnya.

Entaskan Kemiskinan
Sebelumnya Menteri BUMN Dahlan Iskan mengatakan, sangat mendukung Perhutani untuk membudidayakan tanaman porang, selain mendapat penghasilan bagi perusahaan juga dapat meningkatkan penghasilan masyarakat miskin di kawasan hutan Perhutani.

"Saya meminta Perhutani mengembangkan lagi tanaman porang karena terbukti mendapatkan penghasilan tambahan sekaligus ikut mengentaskan kemiskinan di sejumlah lokasi," kata Dahlan.

Selama ini porang sangat cocok dikembangkan di bawah hutan jati, dan sudah dapat tumbuh dengan bagus di hutan jati milik Perhutani.

"Masyarakat di sekitar hutan banyak yang miskin, sehingga bisa dimanfaatkan dengan memberikan pekerjaan mengelola tanaman porang dengan sistem bagi hasil," ujarnya.

Selain itu, para petani porang tersebut juga secara langsung akan serius dan bertanggungjawab untuk ikut serta menjaga hutan milik Perhutani dari upaya-upaya pencurian kayu yang marak terjadi.

Dahlan menggambarkan produksi rata-rata porang bisa mencapai 10-15 ton per hektare.

Dengan harga jual porang berkisar Rp2.800 hingga Rp3.000 per kilogram, maka petani setiap panen bisa meraih pendapatan sekitar Rp30 juta per hektare.

"Tentu program ini dapat dikembangkan secara massal di Indonesia terutama di wilayah kerja Perhutani," ujar Dahlan. (*/jno)
Pewarta :
Editor: Antara Sumbar
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar