Pengrajin Tahu di Dharmasraya Tetap Berproduksi

id Pengrajin Tahu di Dharmasraya Tetap Berproduksi

Pengrajin Tahu di Dharmasraya Tetap Berproduksi

Seorang perajin tahu Senin(10/09) di Nagari Tiumang, Kecamatan Tiumang, Dharmasraya, tengah menata hasil olahan kedelai yang telah menjadi tahu siap untuk dipasaran ke konsumen, meskipun saat ini pada umumnya perajin tahu tempe tengah melakukan mogok produksi.

Pulau punjung, (Antara) - Pengrajin tahu di Kabupaten Dharmasraya masih berproduksi meskipun rekan seprofesinya sebagian besar melakukan aksi mogok produksi. "Walaupun saat ini sebagian besar produsen tahu dan tempe melakukan aksi mogok produksi akibat dari melambungnya harga kedelai, namun kita tetap berproduksi," kata pengrajin tahu Surono (43) di Pulau Punjung, senin. Menurut warga Jorong Sungai Kalang, Nagari Tiumang, Kecamatan Tiumnag, ini mengaku masih memiliki persediaan kedelai hingga beberapa hari ke depan. Dia menambahkan mahalnya harga kedelai ini membuatnya harus bisa menyiasati agar tidak gulung tikar dengan mengurangi besar potongan, namun tidak mengurangi ketebalan. "Kita menyiasati dengan cara memperkecil potongan tahu, namun tidak mengurangi ketebalannya. Itu berdasarkan permintaan konsumen," katanya. Surono mengatakan permintaan akan kebutuhan tahu di Dharmasraya masih tetap tinggi. Dia mendatangkan kedelai dari Muaro Bungo (Jambi), dan harganya terus melonjak. Dia menyebutkan saat ini harga kedelai per kilogram sebesar Rp10.000, sementara bulan lalu harga sekitar Rp3.000 per kilogram. Pada Agustus sebelum Lebaran, katanya, ia membeli kedelai dengan harga Rp7.900/kilogram, kemudian September harga terus merangkak naik secara bervariasi mulai dari Rp8.600/kiloggram, hingga Rp10.000/ kilogram saat ini. Lebih lanjut dia mengatakan, pada saat harga kedelai Rp7.900/kiloggram, ia menjual tahu per papan sebesar Rp31.000, saat ini ia menjual Rp35.0000/papan. Kedelai sebanyak 14 kilogram dapat diolah menjadi enam papan. "Kita juga menaikan harga sebesar Rp4ribu/papan, namun tidak terjadi penurunan omset, karena minat masyarakat untuk mengkonsumsi tahu masih tinggi," katanya. Surono membuka usaha rumahan yang dikelolanya sejak 2010 ini, sampai sekarang telah mempekerjakan sebanyak 16 orang karyawan. "Sampai saat ini kita memiliki 16 orang tenaga kerja. Itulah yang membuat kita tetap berprodusi agar pekerja tidak menganggur," katanya. Dia mengatakan sejauh ini dalam menjalankan usahanya ia belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah daerah setempat. Ia berharap agar pemerintah dapat menyelesaikan permasalahan mahalnya harga serta langkanya kedelai saat ini. (**/bib/jno)

Pewarta :
Editor: Antara Sumbar
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.