Setidaknya 16 Orang Tewas Akibat Konflik Etnik di Guinea

id Setidaknya 16 Orang Tewas Akibat Konflik Etnik di Guinea

Conakry, (Antara/AFP) - Setidaknya 16 orang tewas dan puluhan lainnya cedera dalam bentrokan antaretnik etnik dua hari di negara Afrika barat Guinea, kata para pejabat, Selasa. Aksi kekerasan itu meletus di daerah hutan selatan Senin ketika para petugas stasiun bahan bakar minyak dari suku Guerze di kota Kole memukul hingga mati seorang pemuda etnik Konianke yang mereka tuduh mencuri. Perkelahian segera meluas ke ibu kota provinsi terdekat N'Zerekore, 570km tenggara Conakry, menyebabkan beberapa rumah hancur. "Aksi kekerasan terjadi sejak Senin di Kouel, dan kemudian di N'Zerekore, menewaskan 16 orang dan sekitar 80 orang lainnya cedera," kata juru bicara pemerintah Albert Dawatang Camara. Ia mengatakan pasukan keamanan telah dikerahkan dan situasi mulai kembali tenang di jalan-jalan kota itu. Tetapi seorang koresponden radio pemerintah di N'Zerekore mengatakan tidak mungkin jumlah korban tewas itu adalah akurat karena mayat dari para korban yang ditikam golok tidak dibawa ke rumah sakit. "Beberapa orang dari mereka dibakar sampai mati sementara yang lainnya ditusuk dengan golok. Kami tidak dapat mengurusnya. Situasi ini diluar kendali kami," kata Francois Kamah, seorang dokter dari N'Zerekore kepada AFP. Pasukan keamanan Senin telah dikerahkan untuk menghentikan perkelahian itu tetapi tidak dapat mengatasi aksi kekerasan itu kendatipun jam malam diperlakukan oleh pemimpin N'Zerekore Abobacar Mbop Camara, yang meminta pengiriman bala bantuan itu. Satu sumber keamanan mengatakan pemerintah telah menirim dua dari kolonel-kolonel angkatan daratnya- direktur badan kejahatan terorganisasi nasional dan badan keamanan Alpha Conde- untuk memulihkan ketertiban. Pra pria itu datang dari daerah itu adalah para anggota dua etnik yang saling bermusuhan. Conde mengimbau masyarakat tenang dan bersatu dalam satu pidato yang disiarkan televisi kepada seluruh rakyat Guinea dan berjanji akan menyeret mereka yang berada di belakang aksi kekerasan itu ke pengadilan. "Walaupun saya menyampaikan ucapan belasungkawa kepada para keluarga korban, saya mengutuk aksi-aksi ini," katanya. "Saya berjanji kepada seluruh rakyat, khususnya mereka yang tinggal di N'Zerekore bahwa pemerintah telah melakukan tindakan yang mungkin untuk menjamin keselamatan penduduk dan properti mereka." Sejumlah saksi mata mengemukakan kepada AFP bahwa etnik Guerze dan etnik Konianke saling menyerang dengan menggunakan golok, kayu, batu dan senjata api, membakar rumah-rumah dan mobil-mobil. Ketua etnik Guerze Molou Holamou Azaly Zogbelemou termasuk di antara yang cedera dan dibawa ke rumah sakit, kata Camara kepada AFP. Kelompok etnik pribumi,Guerze sebagian besar beragama Kristen atau animis, sementara Konianke, yang dianggap sebagai pendatang -- adalah Muslim yang dianggap dekat masyarakat etnik Mandingo Liberia. Dalam perang saudara Liberia, yang berakhir tahun 2003, pemberontak memerangi pasukan presiden (waktu itu) Charles Taylor mendapat dukungan dalam masyarakat Mandingo. Guerze, yang dikenal dengan nama Kpelle di Liberia, dianggap sebagai pendukung pasukan yang setia kepada Taylor yang dipenjarakan tahun lalu karena:membantu dan dan bersekongkol "dengan para penjahat perang di Sierra Leone. Bentrokan antara dua masyarakat itu menewaskan lebih dari 200 orang tahun ini. (*/jno)

Pewarta :
Editor: Antara Sumbar
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.