Tokoh NU: Indonesia Perlu Pemimpin Transformatif

id Tokoh NU: Indonesia Perlu Pemimpin Transformatif

Jakarta, (Antara) -Bangsa Indonesia ke depan membutuhkan pemimpin transformatif, tidak hanya mempunyai ide besar melakukan perubahan tetapi juga memberikan keteladanan bagi rakyat, demikian hal yang mengemuka dalam diskusi Nahdlatul Ulama (NU). Wacana mengenai perlunya pemimpin transformatif mengemuka dalam diskusi bulanan para aktivis Nahdlatul Ulama (NU) bertema "Menyongsong NU Satu Abad" di Jakarta, Senin (1/7) malam. Acara tersebut dihadiri sekitar 50 tokoh NU, antara lain KH Ahmad Bagja, Chozin Humaidi, dan Andi Jamaro serta mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) H Djoko Santoso.dan Ketua Umum Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Kurdi Mustofa. Menurut Chozin Humaidi, pemimpin transformatif diyakini bakal bisa melakukan revitalisasi, reorientasi, konsolidasi, dan merancang masa depan serta membentuk kekuatan moral bangsa untuk hari esok Indonesia yang lebih baik. "Kita perlu pemimpin transformatif karena tantangan bangsa kita di depan bertambah berat seperti masalah kemiskinan dan ketidakadilan," kata Wakil Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu. Sementara itu tokoh muda NU Andi Jamaro mengemukakan, dari kalkulasi politik, kader NU layak menjadi pemimpin Indonesia mendatang karena sekitar 40 persen rakyat Indonesia adalah warga NU. "Fakta membuktikan, tokoh NU bisa menjadi pemimpin seperti Abdurrahman Wahid, Hamzah Haz, dan Jusuf Kalla," kata mantan Ketua Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Ansor yang kini menjadi anggota Komisi I DPR dari PPP itu. Sementara itu, mantan Panglima TNI yang juga Ketua Gerakan Indonesia ASA (Adil, Sejahtera, Aman) Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso mengamini wacana perlunya pemimpin transformatif.yang mau berkorban dan menderita untuk kepentingan dan kemajuan rakyat yang dipimpinnya. "Pada hakikatnya pemimpin adalah orang yang mau menderita dan berkorban, dan pemimpin tidak selamanya senang dalam mengambil keputusan," katanya. Ia mencontohkan dirinya ketika menjadi komandan pertempuran dan terpaksa harus mengantarkan jenazah prajurit kepada orang tuanya atau kepada istri dan anaknya. "Saya merasa batin saya menderita sebagai pemimpin," katanya. Ia menambahkan Gerakan Indonesia ASA dan NU mempunyai kesamaan visi untuk memajukan bangsa ke depan, yakni membangun bangsa dan negara yang berkeadilan, sejahtera dan aman di bawah naungan ridho Ilahi. (*/sun)

Pewarta :
Editor: Antara Sumbar
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.