Malang, (Antara) - Pakar pertanian dari Universitas Brawijaya Malang Kurniatur Hairiah mengatakan bahwa agroforestri yang diimplementasikan pada tempat-tempat dengan cadangan karbon rendah dan nilai ekonomi rendah akan mampu menurunkan emisi karbon hingga 30 persen. "Selain itu implementasi agroforestri ini juga dapat meningkatkan nilai ekonomi penggunaan lahan sekitar 20 persen," katanya di Malang, Minggu. Akan tetapi, lanjutnya, nilai keuntungan tersebut di lapangan akan bervariasi, tergantung pada produksi pohon yang dipengaruhi oleh kesesuaian jenis pohon dengan lokasi yang dipilih, manajemen lahan serta permintaan pasar. Menurut dia, agroforestri adalah menanam jenis tanaman tahunan dengan optimalisasi lahan untuk menambah pendapatan sekaligus melestarikan lingkungan. Ia mengakui, di era perubahan iklim saat ini, masalah pertanian semakin kompleks, tidak hanya di sektor ekonomi, tapi juga dari sektor sosial dan lingkungan berupa air, biodiversitas serta cadangan karbon. Upaya penghitungan emisi dari setiap provinsi di Indonesia sangat dibutuhkan saat ini untuk mendukung pemerintah dalam meyakinkan dunia bahwa pada tahun 2020 Indonesia mampu menurunkan emisi CO2, CH4 dan N2) (GRK) sebesar 26 persen. Di Jawa Timur, katanya, mampu menekan emisi melalui peningkatan agroforestri atau hutan rakyat sekitar 22 persen dari total luasan sebelumnya 756.163 hektare (2006) dan meningkat menjadi 1.052.550 hektare (2012). Hanya saja, kata Kurniatun, saat ini paradigma pengelolaan agroforestri sedikit berubah karena dorongan kepentingan lokal, seperti jenis tanaman (pohon) yang ditanam dan kepentingan global, seperti pengentasan kemiskinan serta ketahanan pangan. Sebab, di tingkat plot, pohon dalam sistem agroforestri sangat bermanfaat dalam mempertahankan kesuburan tanah, pengendalian limpasan permukaan dan erosi, pengendalian serangan hama serta penyakit. Pada kenyataannya, tegas Kurniatun, tidak semua pohon dapat memberikan dampak yang menguntungkan, tergantung dari pengelolaannya antara lain meliputi jenis tanaman dan kombinasinya dengan penyusunan lainnya, misalnya ternak, ikan atau lebah. "Selain itu, juga dipengaruhi oleh pengaturan sinar yang mausk melalui pengaturan pola tanam dan pemangkasan cabang, pemupukan tumbuhan bawah, pengaturan kedalaman perakaran tanaman untuk mengurangi kehilangan hara," ujarnya. (*/jno)
Berita Terkait
Universitas Andalas turunkan tim PKM tanggap darurat bencana SAKATO di Nanggalo dan Pauh
Kamis, 1 Januari 2026 16:41 Wib
Pertamina turunkan harga Pertamax per 1 Januari 2026
Kamis, 1 Januari 2026 8:55 Wib
Pemkot Pariaman komitmen sukseskan turunkan stunting
Rabu, 24 Desember 2025 15:03 Wib
Beruang muncul lokasi bencana di Agam, BKSDA Sumbar turunkan tim
Selasa, 23 Desember 2025 15:07 Wib
Bukittinggi turunkan 69 kafilah pada MTQN ke 41 Sumbar
Sabtu, 13 Desember 2025 16:13 Wib
PDI P turunkan tim penanggulangan bencana di Sumbar
Kamis, 11 Desember 2025 7:42 Wib
Polres Pasaman Barat turunkan puluhan personel bantu cari korban longsor di Tinggam Talamau (Video)
Sabtu, 6 Desember 2025 8:19 Wib
Tiba di lokasi bencana Palembayan Agam, Semen Padang peduli dirikan tenda dan turunkan tim pencarian
Selasa, 2 Desember 2025 15:26 Wib
