Harga minyak melonjak hampir 4 persen

id harga minyak,minyak berjangka,minyak WTI,minyak Brent

Harga minyak melonjak hampir 4 persen

Ilustrasi: Pengeboran minyak lepas pantai (Antaranews/moneycontrol.com)

New York (ANTARA) - Harga minyak melonjak hampir empat persen pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), didorong oleh tanda-tanda kemajuan dalam pembicaraan perdagangan AS-China dan data ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan di kedua negara, termasuk angka pekerjaan AS dan aktivitas manufaktur China.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Januari naik 2,07 dolar AS atau 3,5 persen menjadi ditutup pada 61,69 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange, tetapi mencatat penurunan sekitar 0,4 persen untuk minggu ini.

Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk penyerahan Desember bertambah 2,02 persen atau atau 3,7 persen menjadi menetap pada 56,20 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange, tetapi turun sekitar 0,8 persen dalam seminggu.

Perundingan perdagangan AS dan China sedang berkembang dengan baik dan Amerika Serikat akan menandatangani kesepakatan awal bulan ini, kata pejabat pemerintah Trump, yang menawarkan jaminan kepada pasar global setelah hampir 16 bulan tarif gayung bersambut.

Media pemerintah Beijing Xinhua News Agency mengatakan dua negara ekonomi terbesar di dunia itu telah mencapai "konsensus tentang prinsip-prinsip" selama panggilan telepon yang serius dan konstruktif pada Jumat (1/11/2019) antara negosiator perdagangan utama mereka.

Perunding AS dan China telah membuat "kemajuan besar" menuju penyelesaian perjanjian "tahap satu", meskipun kesepakatan itu belum 100 persen selesai, kata penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow kepada wartawan.

"Anda akan mendapatkan reaksi keras dari apa yang tampaknya seperti kesepakatan untuk saat ini," kata John Kilduff, mitra di Again Capital Management di New York.

"Ini sangat meningkatkan prospek ekonomi global - khususnya di Asia di mana ia paling menderita akibat dampak perang perdagangan."

Kedua acuan jatuh pada awal pekan setelah kenaikan persediaan minyak mentah AS, terutama di pusat pengiriman Cushing, Oklahoma, dan karena perang perdagangan membebani harga, mengipasi kekhawatiran bahwa melambatnya pertumbuhan ekonomi dapat mengurangi permintaan untuk minyak.

"Pasar telah didorong lebih rendah minggu ini di tengah kekhawatiran perlambatan pertumbuhan permintaan karena ketidakpastian mengenai hubungan perdagangan AS-China dan perkiraan peningkatan dalam stok minyak mentah," kata Gene McGillian, wakil presiden riset pasar di Tradition Energy di Stamford, Connecticut .

"Saya pikir tindakan hari ini adalah kebalikan dari itu, dan Anda mungkin juga melihat beberapa penutup akhir pekan."

Harga minyak mentah AS juga menerima beberapa dukungan setelah kebocoran di North Dakota memaksa TC Energy Corp menutup pipa Keystone 590.000 barel per hari (bpd) yang membawa minyak mentah Kanada dari Alberta utara ke kilang penyulingan di Midwest AS.

Pipa itu juga mengalir ke Cushing, di mana pemadaman diperkirakan akan menguras persediaan.

Harga juga didukung pada Jumat (1/11/2019) oleh ekspansi aktivitas pabrik China pada laju tercepat sejak 2017, meningkatkan optimisme terhadap kesehatan ekonominya. Pertumbuhan lapangan kerja di AS juga melambat kurang dari yang diharapkan pada Oktober.

"Dengan laporan pekerjaan positif dan The Fed baru-baru ini menurunkan suku bunga, saya pikir itu pasti meredakan beberapa kekhawatiran di sekitar pertumbuhan ekonomi AS," kata McGillian. "Kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi sebagian besar di Eropa dan Asia."

Namun, survei Reuters menunjukkan bahwa harga minyak diperkirakan akan tetap di bawah tekanan tahun ini dan berikutnya. Jajak pendapat 51 ekonom dan analis memperkirakan minyak mentah Brent akan rata-rata 64,16 dolar AS per barel pada 2019 dan 62,38 dolar AS pad tahun depan.

Survei Reuters lainnya menemukan produksi dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) pulih pada Oktober dari level terendah delapan tahun, dengan pemulihan cepat dalam produksi Saudi dari serangan terhadap infrastruktur minyaknya pada September mengimbangi kerugian di Ekuador dan pembatasan sukarela di bawah pakta pasokan internasional.

Pada Rabu (30/10/2019), data pemerintah menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah AS naik 5,7 juta barel pekan lalu, jauh melampaui ekspektasi untuk peningkatan hanya 494.000 barel.

Produksi minyak mentah AS melonjak hampir 600.000 barel per hari pada Agustus ke rekor 12,4 juta, didukung oleh peningkatan 30 persen dalam produksi Teluk Meksiko, data pemerintah yang dirilis pada Kamis (31/10/2019) menunjukkan.

Harga juga didukung setelah perusahaan-perusahaan energi AS minggu ini mengurangi jumlah rig minyak yang beroperasi untuk minggu kedua berturut-turut karena produsen independen memangkas pengeluaran ketika rekor produksi minyak mentah membebani prospek harga energi.
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar