Pemkot Solok gelar kontes inovasi dan teknologi pertanian 2019

id kontes inovasi dan teknologi pertanian 2019,Pemkot Solok

Pemkot Solok gelar kontes inovasi dan teknologi pertanian 2019

Kontes inovasi dan teknologi pertanian 2019 di Solok, Senin. (Antara Sumbar/ Tri Asmaini)

Solok (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Solok, Sumatera Barat menggelar kontes inovasi dan teknologi pertanian 2019 yang diikuti para petani di daerah itu guna meningkatkan produksi dan kualitas hasil pertanian di daerah tersebut.

"Lomba inovasi dan teknologi pertanian 2019 merupakan lomba pertama yang ada di Solok dengan mengikutkan petani di bawah penyuluh setempat," kata Kepala Dinas Pertanian, Ikhvan Marosa di Solok, Senin.

Ia menyebutkan pada kontes perdana ini akan ditampilkan dan dipresentasikan 17 inovasi pertanian diantaranya pupuk organik, kelapa dalam pot yang bisa berbuah dalam lima tahun, alat pemotong padi dan lainnya.

Dengan adanya kontes inovasi dan teknologi pertanian harapannya petani lebih inovatif, efisien, dan lebih baik dalam mengelola dan memanen hasil pertaniannya.

"Petani semakin kreatif untuk meningkatkan daya saing dalam produktivitas pertanian dengan teknologi sederhana yang semakin mempermudah pekerjaan petani," sebutnya.

Nantinya, pemenang dari kontes tersebut dapat mendapatkan hadiah studi banding ke daerah yang pertaniannya sudah lebih maju dan baik.

"Hasil inovasi terbaik akan ditampilkan di Penas tani 2020 pada Juni mendatang di Padang," ujarnya.

Pihaknya memgundang juri dari dosen pertanian UMMY dan Unand serta perwakilan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumbar.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Kerja Sama Pelayanan Pengkajian BPTP Sumbar, Ismon mengatakan beberapa kriteria penilaian kontes inovasi dan teknologi pertanian yaitu seperti penilaian umur (semakin muda yang membuat inovasi semakin tinggi nilainya).

Selain itu profesi asli memang petani, keaslian karya (boleh meniru karya dengan pengembangan baru), selain itu biaya produksi inovasi (semakin berbiaya tinggi akan mengurangi penilaian, semakin rendah biaya nilai semakin tinggi).

"Kriteria lainnya sudah digunakan masyarakat atau baru dipakai pencetus inovasi (jika sudah digunakan masyarakat akan semakin tinggi nilainya)," ujarnya.

Kemudian apakah inovasi dan teknologi tersebut mendukung atau tidak program pertanian pemerintah, jelasnya.
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar