Markisa makin mahal, ini sebabnya

id markisa,kabupatensolok

Buah markisa, ikon Kabupaten Solok, Sumatera Barat. (Antara)

Arosuka (Antaranews Sumbar) - Oleh-oleh primadona dari Kabupaten Solok, Sumatera Barat (Sumbar), buah markisa semakin mahal disebabkan sulitnya pasokan sehingga sepi pembeli.

Seorang pedagang markisa, Emi(45) di Gunung Talang, Kamis, mengatakan sulitnya pasokan membuat harga buah itu kini dijual dengan harga Rp10.000 per ikat berisi empat buat atau berisi tiga buah ukuran besar.

Sebelumnya harga jual markisa hanya Rp8.000 per ikat berisi empat buah markisa.

Pedagang lain, Ros(52) mengatakan kurangnya pasokan markisa menyebabkan pedagang pemasok buah itu menjatah buah markisa untuk setiap pedagang pengecer.

"Biasanya tidak ada batasan membeli buah ini dari pemasok, tapi sekarang dijatah hanya dua kotak saja per pedagang pengecer," ujarnya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Solok, Admaizon menerangkan bahwa terjadi penuruan produksi markisa di daerah itu sehingga menyebabkan kenaikan harga.

"Penurunan produksi ini terjadi setiap tahun karena semakin berkurangnya minat petani," ujarnya.

Ia merinci produksi markisa hingga Juni 2018 hanya 20.858,9 ton sementara pada 2015 produksinya mencapai 88.828,9 ton.

Luas tanam hingga Juni 2018 mencapai 665.847 pohon sedangkan luas tanam pada 2017 sebesar 786.464 pohon.

Ia menjelaskan penurunan produksi ini disebabkan petani yang membongkar tanaman markisa yang sudah tua tidak lagi menanam jenis yang sama tapi menggantinya dengan tanaman lain.

Selain itu biaya pemeliharaan tanaman markisa lebih mahal dari tanaman buah lainnya karena memakai tiang-tiang untuk penyangga tanaman.

"Produksi buah markisa daerah ini dulu dikirim Batam, Bandung dan daerah Pulau Jawa, tapi sekarang hanya untuk kawasan lokal saja," katanya.

Untuk mempertahankan produksi buah ini pihaknya akan mengajak petani menanam kembali pohon induk markisa dengan varietas unggul Super Solinda dan Solinda Gumanti di daerah sentra markisa di Lembah Gumanti.

Salah seorang pembeli markisa, Ronny mengatakan harga buah itu memang naik namun tetap membelinya karena cocok untuk oleh-oleh dan favorit keluarganya.

"Kalau semakin mahal memang disayangkan. Biasanya satu renteng harga Rp10 ribu bisa berisi lima hingga enam markisa, sekarang hanya tiga atau empat buah," katanya.

Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar