BPTP: bibit bawang asal biji mampu hasilkan 36 ton/hektare

id bawang,bibit bawang asal biji,True Shallot Seed

Kepala Bidang Kerja Sama Pelayanan Pengkajian BPTP Sumbar Ismon. (ANTARA SUMBAR/Tri Asmaini)

Arosuka, (Antaranews Sumbar) - Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat menyatakan bawang merah program lipat ganda dari bibit asal biji atau True Shallot Seed (TSS) bisa menghasilkan 36 sampai 40 ton per hektare.

Kepala BPTP Sumbar Chandra Indrawanto diwakili Kepala Bidang Kerja Sama Pelayanan Pengkajian Ismon di Arosuka, Selasa (23/1) mengatakan, panen bawang dari bibit umbi secara nasional biasanya hanya mencapai 10 hingga 11 ton per hektare dan maksimal 15 ton.

Melalui Program Lipat Ganda dari bibit asal biji ditunjukkan sebagai contoh kepada para petani daerah itu.

"Pada hari ini kami telah memanen bawang merah Proliga dengan benih asal biji TSS," ujarnya.

Ia menyebutkan teknik pembibitan TSS dapat mengantisipasi kebutuhan bibit umbi yang banyak menjadi lebih efisien, dengan satu hektare dapat menghasilkan sekitar 150 kilogram biji.

Menggunakan bibit biji lebih tahan lama, tidak cepat kisut, tidak memerlukan tempat penyimpanan yang luas, dan lebih tahan lama dari bibit umbi, ujarnya.

Dengan program bibit bawang merah dari biji dapat menghemat biaya produksi benih jauh lebih murah hingga seperlima dari biasanya dan dengan hasil panen hingga dua sampai tiga kali lipat.

Ia menjelaskan benih bawang merah asal biji merupakan suatu inovasi dalam perbenihan. Selama ini benih bawang merah yang biasa digunakan berbentuk umbi yang memiliki beberapa kelemahan seperti volume yang besar, dan kadang ditemui degradasi kualitas akibat penyakit yang ditularkan melalui umbi.

"Dengan menggunakan TSS produksi bawang merah diharapkan lebih tinggi karena benih yang digunakan merupakan benih yang telah mengeliminasi beberapa penyakit yang ditularkan melalui umbi," ujarnya.

Penggunaan TSS juga memungkinkan jarak tanam untuk diperkecil sehingga populasi tanaman dapat lebih ditingkatkan hingga 800.000 tanaman per hektar.

Cara lain untuk meningkatkan populasi tanaman adalah dengan cara memperlebar bedengan atau memperkecil jarak antar bedengan.

Untuk meminimalisasi serangan hama terutama ulat bawang digunakan teknologi perangkap lampu (light trap) yang akan menangkap serangga yang akan menghasilkan telur ulat.

Teknologi Proliga di TSP Sukarami Selain di Kabupaten Solok, juga dilaksanakan di Kabupaten Lombok Timur, Kediri, Bangli, dan Brebes sebagai sentra produksi utama bawang merah di Indonesia.

Salah satu petani Sungai Janiah, Kecamatan Gunung,Talang Eka Dedi Putra (34) mengatakan bawang merah dengan bibit asal biji memang hasilnya lebih besar dan bagus, pecahan umbinya lebih banyak.

"Saya sudah setahun memakai bibit biji yang biaya pembibitannya lebih murah, walaupun bibit yang disemai memerlukan 40 hari, kunci penanaman pada persemaian," ujarnya.

Ia mengatakan kendala petani dalam mengurangi biaya produksi karena masih banyak petani yang belum tahu dan merasa rumit dengan pembibitan bawang dari biji.

"Saya ikut membantu untuk memberi pemahaman ke petani lainnya untuk mencoba menanam bawang merah dari benih biji yang menekan biaya produksi," ujarnya. (*)
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar