Usai Catatkan Rekor MURI Ketan Langka di Dharmasraya

id beras

Usai Catatkan Rekor MURI Ketan Langka di Dharmasraya

Ilustrasi.

Pulau Punjung, (Antaranews Sumbar) - Ketersediaan ketan di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat sulit diperoleh sejak tiga hari terakhir karena tingginya permintaan masyarakat untuk kegiatan memasak wajik massal berapa waktu lalu.

Sariana (53) salah seorang pedagang ketan, di Pulau Punjung, Selasa (9/1), menyebutkan sudah tiga hari ia tidak membuat panganan dari beras ketan karena persediaan beras ketan sulit didapat.

"Kalaupun ada harganya naik dari Rp18 ribu per kilogram menjadi Rp25 ribu," ujarnya.

Menurutnya tingginya permintaan warga untuk pembuatan wajik massal beberapa waktu lalu berdampak terhadap persediaan beras ketan di pasaran, dan harganya pun melonjak tinggi.

"Mungkin dalam waktu dekat sudah normal lagi, biasa kalau banyak permintaan harga naik, apapun itu jenisnya," tambahnya.

Arafaf (38) salah seorang pelanggan sarapan ketan, menambahkan sudah beberapa tidak menjumpai pedagang sarapan yang menjanjikan panganan yang terbuat dari berasal ketan.

"Di tempat langganan saya biasanya ada, beberapa hari tidak bikin, karena beras ketan lagi kosong di pasaran kata pedagangnya," ujarnya.

Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Dharmasraya mendapat penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) setelah mengadakan festival memasak wajik dengan jumlah 2.018 kancah.

"Ini adalah kategori baru dan terbanyak di Indonesia ," kata Perwakilan MURI, Yusuf Ngadri di Pulau Punjung, Minggu (7/1).

Wajik adalah panganan olahan dari beras ketan merupakan salah satu kebudayaan yang wajib lestarikan, karena wajik sendiri adalah bentuk kearifan lokal yang sudah ada sejak dahulu kala di kerajaan Melayu dan Jawa.

Festival memasak wajik digelar di Kompleks Sport Center, Nagari (Desa Adat) Koto Padang, Kecamatan Koto Baru dalam rangkaian HUT Kabupaten Dharmasraya yang ke-14. (*)

Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.