Sumbar Dalami Persoalan Penutupan SMAN 5 Bukittinggi Oleh Warga

id Penutupan, Sekolah, Bukittinggi

Padang, (Antara Sumbar) - Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) masih mendalami persoalan penutupan SMAN 5 Bukittinggi oleh sejumlah warga, yang mengakibatkan proses belajar mengajar pada hari pertama pascalebaran terganggu.

"Kita sudah dapat informasi sementara. Namun harus didalami dulu sebelum mengambil kebijakan," kata Kepala Dinas Pendidikan Sumbar, Burhasman di Padang, Senin.

Menurutnya Kepala SMAN 5 Bukittinggi dan sejumlah kepala sekolah lain hari ini dipanggil ke Padang untuk memberikan informasi resmi.

Informasi sementara, tambahnya penutupan gerbang sekolah tersebut karena anak warga sekitar tidak diterima bersekolah di SMA itu dengan alasan nilai tidak memenuhi syarat.

Penutupan yang dilakukan oleh warga Garegeh dan Koto Selayan, Bukittinggi itu dengan cara menghambat jalan menggunakan mobil sehingga kendaraan siswa dan guru tidak bisa masuk ke pekarangan sekolah.

Keadaan nyaris ricuh setelah warga berdebat sengit dengan salah seorang guru dari SMAN 5 tersebut. Namun bisa dikendalikan setelah sejumlah aparat keamanan tiba di lokasi.

Sekitar pukul 08.30 WIB gerbang sekolah kembali dibuka, tetapi sebagian siswa sudah terlanjur pulang.

Pada tahun ajaran baru ini, sesuai dengan kebijakan provinsi, SMAN 5 hanya bisa menerima sebanyak tujuh lokal dengan jumlah siswa sebanyak 253 orang.

Penerimaan dilakukan dengan sistem rayonisasi dengan tujuan agar masyarakat bisa menyekolahkan anak di lingkungan sekitar rumah.

Namun dari hasil pendataan, terdapat sekitar 31 anak yang berasal dari wilayah seputaran SMAN 5 Bukittinggi, terutama berasal dari Koto Selayan dan Garegeh yang tak bisa melanjutkan sekolah di kampung halamannya sendiri. (*)
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar