Menjemput Pesona Air Terjun "Tujuh Timbulun" Lengayang

id Air terjun Tujuh Timbulun

Air terjun. (Antara)

Pergolakan zaman tak terbendung namun pesona air terjun "Tujuh Timbulun" di Nagari (Desa Adat) Lakitan Tengah, Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, belumlah pudar.

Siang itu belasan laki-laki dewasa di sebuah warung di pertigaan jalan, merancang perjalanan yang diperkirakan cukup melelahkan, yakni menjelajah menuju lokasi air terjun tujuh jenis tersebut.

Selang beberapa lama, nyali yang awalnya ciut kembali membara mendengar cerita keindahan air terjun "Tujuh Timbulun" tersebut.

Kendaraan roda dua kembali mereka pacu menyusuri perkampungan di Lakitan Tengah hingga ke kaki sebuah perbukitan di Lengayang.

Burung kecil berkicau dan sekelompok Siamang pun seolah berteriak sambil melompat-lompat seperti memberi sambutan.

Di pondok yang berada di kaki perbukitan sepeda motor yang mereka kendarai diparkirkan dengan seizin pak tani yang sedang memupuk tanaman padinya.

Dengan langkah sigap rombongan yang diketuai Camat Lengayang, Gusdan Yuwelmi menyusuri badan jalan yang awalnya memiliki lebar hampir empat meter dan terus menyusut menjadi jalan setapak.

Mendaki dan menurun merupakan perjalanan yang tidak bisa dihindarkan, derunya nafas bukan masalah karena alam menghadiahkan udara segar melalui hutan yang rindang.

Dalam perjalanan lengkingan ketawa kecil sayup-sayup terdengar, ternyata milik sekelompok anak-anak yang diperkirakan berumur 10 tahun hingga 12 tahun.

Rambut masih basah dan baju mereka terlihat lembap.

Dari pembicaraan singkat ternyata mereka baru saja menikmati dinginnya air pada salah satu timbulun atau air terjun.

Sekelompok laki-laki yang menjemput pesona Tujuh Timbulun kembali menyusuri jalan sementara suara candaan kecil anak-anak tersebut berlalu.

Hampir 30 menit mereka terus berjalan, satu orang di antara rombongan memberi aba-aba bahwa perjalanan sebentar lagi akan tuntas.

Agar terhindar dari gigitan lintah atau pacet belasan pria harus mengusapkan cairan pengusir nyamuk ke kaki dan juga lengan.

Karena perbukitan menuju Tujuh Timbulun cukup lembab lintah atau pacet dengan mudah dijumpai di antara bebatuan, tanah hingga dedaunan dan menurut masyarakat sekitar cairan pengusir nyamuk cukup efektif menangkal hewan sejenis serangga berlendir itu.

Telunjuk pria paruh baya pemberi aba-aba mengarah ke jurang yang agak terjal, mengisyaratkan disanalah jalan menuju timbulun.

Rombongan pun menyusuri jurang dengan berpegangan pada pohon-pohon. Derasnya air seakan meminta belasan laki-laki tersebut segera menuntaskan perjalanan yang menguras tenaga.

Dari kejauhan terlihat beberapa orang di antara rombongan terlebih dahulu menikmati pemandangan timbulun ke dua, satu dari Tujuh Timbulun yang ada.

Suara mereka tak terdengar namun bahasa tubuh mereka jelas mengatakan ingin sekali bersenang-senang dan bermanja dengan dinginnya air timbulun kedua yang familiar dengan sebutan Timbulun Sampik.

Timbulun Sampik sesuai dengan namanya "sampik" yang diartikan dari bahasa masyarakat setempat yakni sempit.

Sempit yang dimaksud bukanlah lokasinya namun air terjun setinggi 15 meter jatuh dari titik sempit sehingga dinamakan Timbulun Sampik.

Pada sisi lokasi terdapat bebatuan melengkung seakan mengarahkan air mengalir hingga ke hulu.

Sesampainya rombongan, ada yang langsung menjajal air dengan melompat dari tingginya bebatuan namun ada yang terdiam takjub melihat ciptaan yang Maha Kuasa.

Beranjak dari Timbulun Sampik ke hilir akan ditemui Timbulan Palano atau timbulun pertama. Di lokasi itu terdapat air terjun setinggi 40 meter namun airnya tidak langsung jatuh, terjun, namun mengikuti lekukan batu yang menyerupai sadel sepeda.

Timbulan Palano dinamakan masyarakat sekitar karena mereka familiar menyebutkan sadel sepeda dengan sebutan "palano".

Di sini pemandangan cukup luar biasa, di antara laki-laki itu pun langsung tidur-tiduran pada bebatuan dan air langsung menjalar ke seluruh tubuh.

Tak sabar ingin melihat timbulun ke tiga, rombongan segera berangsur ke arah hulu dan di sana Timbulun Sumu-Sumu pun menunggu.

Sumu-sumu bisa diartikan dengan sumur-sumur, di mana terdapat lekukan yang berisi air dan yang tidak kalah indah air pada sumur-sumur itu berasal dari air terjun setinggi satu hingga dua meter.

Letih dan lelah sejak memarkirkan sepeda motor di pondok pak tani serasa telah terobati namun rezeki Tuhan tak bertepi, rombongan tersadar masih terdapat empat timbulun lagi yang belum didatangi.

Tibalah rombongan di Timbulun Barangin, air terjun setinggi 25 meter pun dengan gagah menyambutnya.

Barangin dalam bahasa masyarakat setempat bisa diartikan menikmati embusan angin yang lembut, memang benar angin sepoi- sepoi nan sejuk tiada hentinya didorong oleh air terjun ke tubuh laki-kaki yang tergabung dalam rombongan itu.

Air terjun di Timbulun Barangin tidak hanya satu namun terdapat dua air terjun sehingga waktu satu atau dua jam tidak akan cukup untuk menikmatinya.

Apalagi di lokasi itu terdapat lekukan yang terbentuk akibat hantaman air sehingga hampir sebagian dari rombongan menceburkan diri menikmatinya.

Ingin berlama-lama namun karena masih terdapat tiga timbulun lain yang menanti, rombongan pun berbesar hati meninggalkannya setelah bersantap makan siang di lokasi.

Timbulun Golek-Golek merupakan timbulun selanjutnya yang membuat rombongan sulit memejamkan mata.

Terdapat hamparan bebatuan berdiameter hampir 50 meter yang memungkinkan puluhan orang tidur-tiduran jika dilakoni hingga lima menit bukan tidak mungkin akan tertidur sungguhan.

Hal tersebut karena alam yang asri, sejuk dan yang tidak kalah adalah pemandangan alam yang tidak akan ada duanya.

Golek-golek dalam bahasa masyarakat sekitar bisa diartikan tidur-tiduran.

Selanjutnya Timbulun Cik Baruak atau Timbulun Kotoran Beruk. Dinamakan demikian karena di lokasi itu terdapat kerikil yang menyerupai kotoran Beruk (Macaca nemestrina).

Di lokasi itu rombongan seperti berada di negeri antah barantah. Betapa tidak, airnya jernih dan air terjun bertingkat setinggi dua hingga tiga meter membuat mata terpana.

Terakhir rombongan disambut air terjun setinggi 15 meter yang meluncur dari bebatuan. Nama timbulun ini diambil dari masyarakat setempat karena pada dekade 80-an yang bersangkutan terjatuh di lokasi ketika pulang dari ladangnya.

Namun sesuai informasi ia selamat dari kejadian tersebut.

Tak bisa dimungkiri nikmat Tuhan tak bertepi, hanya manusia saja yang ingkar dengan nikmat tersebut. Dari Tujuh Timbulun tak satupun yang serupa kecuali airnya dan masing-masing timbulun menampilkan pesona yang menakjubkan.

Wali Nagari Lakitan Tengah, Irwandi yang ikut serta dalam rombongan menumpangkan harapan besar kepada pemerintah kabupaten dalam pengelolaan ke Tujuh Timbulun itu.

Ia mengakui karena medan yang sulit dan jarak yang relatif jauh akan membutuhkan biaya yang besar serta komitmen yang kuat dalam pengelolaannya.

Maka dari itu menurutnya peran pemerintah kabupaten sangat dibutuhkan.

"Jika Tujuh Timbulun dikelola dengan maksimal tentu akan menjadi daya dobrak dunia pariwisata Pesisir Selatan," kata dia.

Camat Lengayang mengungkap kekaguman setelah mengunjungi ke Tujuh Timbulun, katanya, rasa letih dibayar lunas bahkan lebih oleh keindahan pemandangan di sana.

"Saat ini yang dibutuhkan adalah akses jalan dan pengelolaannya," kata dia.

Ia mengaku akan maksimal membicarakan rencana pengembangan wisata Tujuh Timbulun dengan kepala daerah setempat.

Timbulun Tujuh dapat dicapai dengan waktu 2 jam berkendara dari Ibu kota Kabupaten Pesisir Selatan, setelah itu berjalan kaki lebih kurang satu jam ditemani pemandu dari warga sekitar maka pesona keindahan alam itu akan ditemukan.

Dukungan Kabupaten
Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Pesisir Selatan, Zefnihan mengatakan di daerah itu terdapat empat lokasi yang dijadikan sebagai rencana induk pengembangan pariwisata.

Daerah tersebut di antaranya Pantai Carocok dan Mandeh, Painan dan Bukit Langkisau, Pantai Pasir Putih Kambang dan Rumah Adat Mandeh Rubiah.

Sejalan dengan rencana pengembangan itu maka ditentukan juga daerah penyangga, khusus Pantai Pasir Putih Kambang akan disangga oleh beberapa objek wisata di Kecamatan Sutera, Lengayang, Ranah Pesisir dan Linggo Sari Baganti.

Bagi objek wisata penyangga yang belum dikembangkan berpeluang menjadi destinasi wisata termasuk Tujuh Timbulun di Kecamatan Lengayang.

Zefnihan menyebutkan yang dibutuhkan hanya keseriusan nagari dalam mengembangkannya, mulai dari pembebasan lahan hingga penganggaran melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Nagari.

Ia meyakini jika nagari serius bukan tidak mungkin destinasi wisata tersebut akan ramai dan seterusnya bisa dikelola oleh Badan Usaha Milik Nagari yang ada di setiap nagari.

"Jika sudah ramai dan juga sudah ada perputaran uang di lokasi, tidak ada alasan bagi kabupaten untuk tidak serta dalam pengelolaannya," kata Zefnihan.

Ia pun mengapresiasi langkah peduli rombongan yang diketuai Camat Lengayang, Gusdan Yuwelmi mengeksplorasi keindahan Tujuh Timbulun.

"Pariwisata merupakan langkah efektif dalam mendongkrak ekonomi masyarakat terutama bagi mereka yang ikut berkecimpung di dalamnya," katanya. (*)


Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar