Padang, (Antara) - Hasil survei Pusat Kajian Sosial Budaya dan Ekonomi (PKSBE) Universitas Negeri Padang (UNP) Padang menghitung kebutuhan cabai warga Padang mencapai 36,91 ton per hari. "Dari 36,91 ton tersebut sebanyak 22,5 ton dipasok dari Pasar Muntilan Yogyakarta dan sisanya berasal dari hasil produksi petani lokal," kata Peneliti PKSBE Universitas Negeri Padang Johan Marta di Padang, Rabu. Ia menyampaikan hal itu pada Seminar dan Sosialisasi Hasil Riset Ekonomi Daerah Dinamika Harga Pangan dan Stabilitas Inflasi di Sumbar bekerja sama dengan Bank Indonesia wilayah VIII Padang. Ia mengatakan berdasarkan temuan survei preferensi dan prilaku konsumen terhadap permintaan cabai merah, pasokan cabai tersebut diangkut menggunakan truk dimana setiap harinya sekitar lima truk tiba di Padang. Menurut pedagang besar cabai, jika pasokan melalui jalur darat tersebut terkendala sehingga terlambat tiba di Padang, maka pedagang menyiasati dengan melakukan pengiriman menggunakan pesawat udara. Oleh sebab itu pergerakan harga cabai di Padang sangat ditentukan oleh tingkat harga di Pulau Jawa serta kelancaran proses pengiriman, kata dia. Johan mengatakan karena tingginya konsumsi cabai tersebut, komoditas yang rasanya dikenal pedas itu menjadi salah satu komponen utama yang mempengaruhi angka inflasi di Sumbar jika ketersediaannya di pasar berkurang atau menghilang. Berdasarkan survei ditemukan 90 persen masyarakat memandang cabai sebagai salah satu bumbu masak utama yang penting dan harus tersedia. Oleh sebab itu jika harga cabai naik para ibu rumah tangga tetap akan membeli dan menyiasatinya dengan mencampur cabai merah dengan cabai rawit agar rasa pedas pada masakan tetap terasa, kata dia. Sebaliknya jika harga cabai murah, maka para ibu rumah tangga akan menambah lauk lain sebagai variasi masakannya. Berdasarkan hasil penelitian Bank Indonesia, salah satu komponen pembentuk inflasi di Padang berasal dari kelompok bahan makanan yaitu beras dan cabai yang memiliki bobot terbesar. (*/jno)