Bangui, Republik Afrika Tengah, (Antara/AFP) - Presiden Prancis Francois Hollande, Selasa (10/12), dalam lawatannya untuk meningkatkan moral setelah dua tentara Prancis tewas di Bangui, mengatakan, intervensi Prancis di Republik Afrika Tengah (CAR) berbahaya tetapi penting untuk mencegah pertumpahan darah. Hollande tiba di ibu kota Bangui dari Johannesburg setelah menghadiri satu acara peringatan bagi ikon perdamaian Afrika Selatan almarhum Nelson Mandela. Setibanya di Bangui, pemimpin Prancis itu memberikan penghormatannya kepada dua tentara negaranya yang gugur, di depan keranda-keranda mereka, di satu pangkalan di bandara Bangui. Operasi Prancis untuk memulihkan keamanan di bekas koloninya itu "berbahaya" tetapi "perlu jika orang ingin menghindarkan pembunuhan di sini," katanya. "Saatlah untuk bertindak," kata Hollande. Di Bangui sendiri, hampir 400 orang tewas... Tidak ada waktu untuk menangguhkan," tambahnya, mengacu pada satu hari pertempuran darah pekan lalu. Koban pertama operasi Prancis Senin malam itu menggaris bawahi risiko melibatkan diri dalam misi yang rumit untuk melucuti senjata para gerilyawan yang nakal yang menyeret negara itu dalam kekacauan dan aksi kekerasan antara kelompok Islam dan Kristen. Antoine Le Quinho, 22 tahun dan Nicolas Vokaer, 23 tahun keduaya anggota resimen Parasut VIII yang berpangkalan di Castres di Prancis barat daya, tewas setelah satu pertempuran seru dalam patroli malam hari di Bangui. Prancis mengerahkan 1.600 tentara ke Bangui untuk menghentikan aksi kekerasan sektarian di negara miskin tetapi kaya mineral itu. "Prancis berada d Republik Afrika tengah ini bukan atas keinginan sendiri," kata Hollande. "Prancis datang untuk membela martabat manusia." Dalam satu pernyataan Selasa pagi, ia mengatakan dua personil paratroop setelah mengorbankan nyawa mereka untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa orang. Hollande mengulangi kembali seruannya bagi pemilu diselenggarakan pada pertengahan kedua tahun depan, bukannya pada awal tahun 2015 seperti yang direncanakan sekarang. Dalam kunjungan singkatnya selama empat jam, Hollande berunding dengan Michel Djotodia, presiden sementara negara itu yang memimpin pemberontak seleka yang dimulai 12 bulan lalu. Presiden Prancis itu, yang menuduh mantan pemimpin gerilyawan itu tidak berbuat apapun untuk menghentikan aksi kekerasan sektarian itu, juga bertemu dengan para tokoh agama sebelum meninggalkan Bangui Selasa petang. Presiden AS Barak Obama mengizinkan pengeluaran bantuan militer 60 juta dolar AS bagi Republik Afrika Tengah itu. Gedung Putih mengatakan bantuan itu akan disalurkan kepada Prancis, Uni Afrika dan negara-negara lain yang menyumbang pasukan pada koalisi internasional di CAR. Gerilyawan Seleka merebut Bangui dan menggulingkan Presiden Francois Bozize Maret lalu. Djotodia menjadi warga Muslim pertama menjadi presiden negara itu, tetapi kendatipun sejumlah anggota Seleka tetap setia kepadanya, yang lainnya mulai menteror penduduk dan pasukan pemerintah tidak berdaya menghentikan aksi mereka. Bulan-bulan pembunuhan, perkosaan dan penjarahan terjadi setelah para warga lokal membentuk kelompok relawan Kristen untuk menanggapi itu. Pasukan Prancis di lapangan mendukung kontingen Afrika yang menurut rencana akan meningkat dari 2.500 orang. Kendatipun militer Prancis mengatakan sebagian besar milisi telah dilucuti senjata mereka, tantangan riil adalah untuk mengatasi kemarahan warga Kristen terhadap gerilyawan Seleka dan minoritas Muslim dengan siapa mereka bergabung. Aksi kekerasan dimulai kembali Selasa dengan toko-toko milik warga Muslim di daerah pertempuran kota itu dijarah. Para pemilik toko-toko itu dibawa ke luar dari daerah itu oleh pasukan Afrika untuk keselamatan mereka. (*/jno)