Pariaman, (Antara Sumbar) - Pemeritah Kota (Pemkot) Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar), menyatakan telah menginkubasi 20.021 butir telur penyu sejak awal Januari hingga Juli 2016.
Kepala UPT Konservasi penyu setempat, Citrha Aditur Bahri, di Pariaman, Kamis, mengatakan telur-telur tersebut diperoleh langsung dari berbagai titik di sekitar perairan kota itu.
Ia menjelaskan telur-telur tersebut ada yang dibeli langsung dari masyarakat yang menemukan, dan sebagianya dari hasil pencarian ke lapangan seperti Pulau Kasiak, Pulau Angso Duo dan di sekitar perairan Kota Pariaman.
Dari jumlah butir telur yang telah diinkubasi tersebut pihaknya mengatakan tidak semuanya dapat berhasil menetas.
Diperkirakan dari awal tahun hingga saat ini sekitar 70 hingga 80 persen butir telur berhasil menetas dan sebagian sudah dilepaskan ke laut bebas.
"Pelepasan anak penyu atau tukik tersebut bisa dua macam, oleh pengunjung dan petugas konservasi," ujarnya.
Jika pengunjung atau wisatawan ingin melepaskan anak penyu ke laut bebas maka dikenakan Rp10 ribu untuk setiap ekornya.
Pihaknya mencatat pada saat libur lebaran 1437 Hijriyah 8 hingga 12 Juli tercatat 444 anak tukik sudah dilepaskan oleh wisatawan yang berkunjung ke penangkaran penyu tersebut.
"Setiap pengunjung yang melepas tukik memang dikenakan biaya berdasarkan Peraturan daerah setempat," tambahnya.
Sementara itu Staf UPT Konservasi penyu setempat, Imaldi menyebutkan jika dibandingkan libur lebaran tahun sebelumnya pelepasan anak tukik oleh wisatawan memang terjadi penurunan angka.
Hal tersebut dinilainya akibat para pengunjung harus mengeluarkan biaya lainnya seperti parkir, retribusi masuk dan pelepasan anak penyu.
"Sebelum ada perda tentang pungutan retribusi masuk antusias wisatawan untuk melepaskan tukik sangat tinggi," jelasnya.
Terkait penerimaan telur penyu dari masyarakat kepada pihak UPT Konservasi, pemerintah setempat untuk sementara sudah membatasi.
Hal tersebut dikarenakan setiap tahunnya pihak UPT Konservasi hanya menganggarkan 20.000 butir telur untuk biaya penggantian transportasi kepada masyarakat.
"Kuotanya memang dibatasi, sejak akhir Juni 2016 kami sementara waktu tidak menerima lagi karena biaya penggantian kepada masyarakat sudah habis," tambahnya. (*)