Kota Padang (ANTARA) - Seiring terik matahari yang merangkak naik di pesisir Pantai Teluk Buo, Kota Padang, Sumatera Barat, sebuah pemandangan pilu tampak jelas dan menyentak mata.
Seekor penyu dewasa yang diperkirakan berusia 30 hingga 40 tahun tampak tergeletak membusuk dan mengeluarkan aroma menyengat di sekitar kawasan ekosistem yang seharusnya menjadi rumah bagi satwa tersebut.


Kematian biota penjelajah samudera itu menjadi indikasi serius adanya ancaman terhadap populasi penyu dan kesehatan ekosistem pesisir terutama akibat sampah plastik
Hal itu semakin diperkuat dengan sejumlah tumpukan sampah plastik yang tergeletak di sekitar lokasi penyu itu mati. Bahkan dari catatan warga setempat dari tahun 2020 hingga akhir 2024, setidaknya sudah empat ekor penyu yang ditemukan mati dan terdampar di kawasan pantai tersebut.
Ini tidak saja menjadi ancaman serius bagi penyu, tetapi juga menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan ekosistem laut yang meliputi flora dan fauna di dalamnya apabila mengkonsumsi sampah plastik termasuk mikroplastik.

Salah satunya seperti jejeran batu grip atau batu pemecah ombak yang ada di sepanjang pesisir Pantai Padang. Kendati menjadi solusi dan mitigasi dari bencana abrasi yang timbul dalam beberapa tahun terakhir di kawasan itu.
Namun, bukan berarti tidak ada ancaman serius lainnya yang timbul akibat pemasangan batu-batu grip tersebut di sepanjang pesisir Pantai Padang terhadap keberlangsungan regenerasi penyu di Ranah Minang.


Hal itu bukan tanpa alasan, sejak langkah pemodernan batu grip yang dimulai dari kawasan Masjid Al-Hakim hingga ke area Skate Park. Membuat lokasi pantai yang selalu menjadi sarang penyu untuk bertelur berkurang bahkan hilang.
Padahal dalam membuat sarang untuk bertelur, penyu membutuhkan pantai yang cukup luas untuk membuat sarang sedalam 60 sentimeter. Tujuannya agar saat masa inkubasi berlangsung selama 50 hingga 60 hari, telur tersebut tidak terendam air laut yang menyebabkan telur-telur tersebut membusuk.
Meski mampu bertelur hingga ratusan butir dalam satu musim bertelur. Jumlah itu tidak menjadi jaminan populasi biota penjelajah samudra tersebut melonjak.
Sebab, dari ratusan butir telur yang ditetaskan dan berhasil hidup menjadi anak penyu atau tukik, hanya satu hingga dua ekor saja yang dapat bertahan hingga dewasa dan kembali untuk bertelur.
Bergantinya kawasan pantai menjadi jejeran batu grip, secara tidak langsung memaksa para penyu akhirnya beralih ke pulau-pulau kecil di sekitar kawasan itu untuk bertelur.

Pulau konservasi yang sejak tahun 2009 dikelola langsung oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan itu, tidak saja menjadi rumah baru bagi penyu-penyu di Sumatera Barat tetapi juga beragam jenis ikan dan cetacean.
Di Pulau tersebut seluas 7 hektar itu, upaya penyelamatan terus dilakukan berbagai pihak. Salah satunya Komunitas Raja Samudera bersama PT Pertamina Patra Niaga Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) Aviation Fuel Terminal (AFT) Minangkabau di Pulau Bando, Sumatera Barat.


Di Tempat tersebut penetasan tidak saja menggunakan metode konvensional, akan tetapi juga menggunakan alat inkubator khusus bernama Elektronik Katuang atau E-Katuang.
Dimana Alat tersebut tidak saja meningkatkan penetasan hingga 100 persen, tetapi juga dapat melakukan rekayasa genetik atau penentuan jenis kelamin penyu yang akan menetas selama masa inkubasi 50 hingga 60 hari dengan cukup mengatur suhu dan kelembaban pada alat tersebut.
Tentunya agar E-Katuang dapat berjalan optimal 24 jam tanpa henti selama proses inkubasi. Alat tersebut membutuhkan daya sebesar 1.200 volt ampere, yang bersumber dari dua pembakit listrik yakni Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB).


Dimana, PLTS yang menggunakan empat panel surya itu mampu menghasilkan kapasitas listrik hingga 2.300 Watt Peak. Sementara, untuk PLTB tipe H-Darrieus itu, memiliki kemampuan menghasilkan energi listrik hingga 500 Watt.
Penerapan energi bersih dan hijau ini diharapkan menjadi percontohan bagi kawasan konservasi lain, sehingga transisi energi fosil ke energi terbarukan dapat terealisasi dengan maksimal.
Secara umum langkah konservasi ramah lingkungan tersebut terangkum dalam sebuah program Sistem Informasi Pemberdayaan Nagari Berbasis Konservasi atau lebih dikenal dengan Si Rancak Ulakan.
Inovasi sosial ini merupakan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang bertujuan memberikan dampak positif terhadap kawasan konservasi dan lingkungan sekitar.

Aplikasi tersebut lahir sebagai inovasi perbaikan pengelolaan kawasan konservasi berbasis masyarakat melalui informasi bank data flora dan fauna di kawasan itu.
Keunggulan aplikasi tersebut ialah analisis dan monitoring penyu yang dapat dilakukan secara langsung (real time), termasuk promosi paket wisata yang terintegrasi, hingga sarana edukasi penyu dengan teknologi baru.
