Pariaman (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Barat (Sumbar) mengungkapkan warga daerah itu masih banyak mengonsumsi telur penyu karena percaya dengan mitos bahwa telur dari reptil laut yang dilindungi itu memiliki banyak manfaat untuk kesehatan.
"Padahal dari segi kesehatan telur penyu kurang baik untuk kesehatan, lebih baik telur ayam, itik dan telur lainnya," kata Wakil Gubernur Sumbar Vasko Ruseimy saat mengunjungi UPTD Penangkaran Penyu di Pariaman, Selasa.
Ia mengatakan warga Sumbar harus sadar dan tidak percaya dengan mitos yang berkembang di tengah masyarakat terkait manfaat mengonsumsi telur penyu.
Ia menyampaikan Pemprov Sumbar memiliki UPTD sebagai upaya pelestarian penyu sehingga bagi warga yang menemukan telur reptil laut itu di pesisir pantai maka dapat mengantarkannya kepada penangkaran penyu.
Telur-telur penyu di penangkaran, lanjutnya ditetaskan lalu dilepaskan ke laut. Konservasi tersebut, kata dia juga terbuka untuk umum sehingga pengunjung dapat mempelajarinya.
"Siswa, mahasiswa bisa belajar. Bisa melepas anak penyu ke laut. Bisa belajar seperti apa penyu itu, umurnya sampai ratusan tahun," katanya.
Dari pantauan atap di penangkaran penyu Pariaman sudah mulai keropos dan terlepas. Namun menurut Vasko kondisi tersebut masih dapat ditolerir karena melihat masih banyak bagian atap yang bagus.
"Sementara kita cek dulu kondisinya karena kita ada skala prioritas, tapi sejauh ini saya lihat masih bagus," ujarnya.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumbar Reti Wafda mengatakan pihaknya sering menerima laporan masih banyak warga yang mengonsumsi telur penyu padahal hal tersebut melanggar hukum.
Meskipun warga yang mengonsumsi telur penyu tersebut melanggar hukum, kata dia namun pihaknya masih menerapkan pembinaan agar warga memiliki kesadaran sehingga tidak mengonsumsi reptil laut itu.
Kepala UPTD Konservasi dan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan DKP Sumbar Wandi Afrizal mengatakan pihaknya mengganti uang transportasi warga yang mengantar telur penyu ke kepada konservasi itu.
"Satu butir itu Rp3.150 per butir," kata dia.
Tapi, tambah dia telur penyu yang diambil hanya boleh di lokasi yang rawan atau lokasi yang membahayakan keberlangsungan kehidupan reptil tersebut.
Sementara itu, Wali Kota Pariaman Yota Balad mengimbau warganya untuk tidak mengonsumsi telur penyu dan jika menemukan telur penyu maka segera jual ke penangkaran penyu terdekat.
"Sosialisasi sudah namun kami terus berupaya agar warga tidak mengonsumsinya," tambahnya.
