Padang, (Antara) -  Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat (Sumbar), mencatat kota Padang mengalami deflasi 0,92 persen pada April 2016 disebabkan penurunan harga  pada kelompok bahan makanan.


         "Deflasi terjadi pada empat kelompok pengeluaran yaitu  bahan makanan 2,21 persen,  perumahan 0,32 persen, sandang  0,02 persen dan transportasi 1,69 persen," kata Kepala BPS Sumbar, Dody Herlando di Padang, Rabu.


         Ia menyebutkan di  Padang  pada  April  2016  komoditas yang mengalami   penurunan harga sehingga menjadi  penyumbang deflasi yaitu   cabai merah, bensin, beras, tarif listrik, telur ayam ras, apel, daging sapi, jengkol, buncis, bahan bakar rumah tangga dan beberapa komoditi lainnya.


         Sedangkan komoditas yang mengalami kenaikan harga diantaranya bawang merah, jeruk, tomat sayur, petai, rokok kretek, bayam, sepat siam, kangkung, bawang putih, air kemasan, dan beberapa  lainnya, tambah dia.


         Ia menyebutkan dari 23 kota di  Sumatera pada April   2016,  deflasi tertinggi terjadi di  Sibolga 1,79 persen, dan terendah di Kota Bungo 0,12 persen,


    Dody menambahkan  Padang menduduki posisi ke-9 dan Kota Bukittinggi menduduki posisi ke-2 dari seluruh kota yang mengalami deflasi di Pulau Sumatera.


    Ia menjelaskan deflasi adalah suatu keadaan  harga-harga secara umum turun  dan nilai uang bertambah.


         Jika inflasi adalah keadaan yang terjadi akibat  jumlah uang yang beredar di masyarakat terlalu banyak, maka deflasi terjadi karena kurangnya jumlah uang yang beredar, katanya.


         Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumbar, Puji Atmoko menyebutkan inflasi harus dikendalikan karena jika tinggi akan menurunkan daya beli  masyarakat sehingga yang miskin menjadi bertambah miskin.


         "Inflasi yang tinggi akan menyebabkan biaya ekonomi tinggi sehingga tidak kompetitif untuk bersaing," ujarnya.


         Ia menambahkan jika inflasi tinggi maka daya saing menjadi rendah dan kurang menarik bagi investor. (*)