
BPS: Kenaikan nilai ekspor Sumbar dipicu industri pengolahan

Kota Padang (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat (Sumbar) menyebut kenaikan nilai ekspor provinsi tersebut periode Januari hingga Mei 2026 yang secara kumulatif mencapai 16,10 persen dipicu oleh industri pengolahan.
"Peningkatan ini terutama didorong sektor industri pengolahan yang mengalami peningkatan 17,02 persen," kata Kepala BPS Sumbar Nurul Hasanudin di Padang, Kamis.
Secara umum, nilai ekspor di provinsi tersebut periode Januari hingga Mei 2026 mencapai Rp21,29 triliun, atau naik 16,10 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sekitar Rp18,26 triliun.
Hasanudin menyebutkan terdapat lima negara yang menjadi tujuan utama ekspor Sumbar sepanjang Januari hingga Mei 2026 yakni India dengan nilai ekspor Rp4,8 triliun, Pakistan Rp3,5 triliun, Myanmar Rp2,3 triliun, Mesir Rp2,3 triliun dan Bangladesh Rp2,1 triliun.
Terkait ekspor Sumbar pada periode tersebut tiga komoditas utama ialah golongan lemak dan minyak hewan atau nabati (HS 15), karet dan barang dari karet (HS 40) serta berbagai produk kimia (HS 38) yang masing-masing menyumbang kontribusi sebesar 83,75 persen, 3,70 persen dan 3,63 persen.
"Jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, ekspor ketiga golongan itu mengalami peningkatan secara nilai dan volume," katanya.
Sama halnya dengan ekspor, nilai impor Sumbar Januari-April 2026 juga mengalami peningkatan sebesar 182,18 persen dibandingkan periode yang sama 2025 dengan andil utama peningkatan impor bahan baku atau penolong.
"Impor bahan baku atau penolong ini secara kumulatif mengalami peningkatan 173,36 persen," sebut dia.
Untuk negara asal impor Sumbar sepanjang Januari hingga Mei 2026 ialah Singapura senilai Rp5,2 triliun, Malaysia Rp2 triliun, Argentina Rp448 miliar, Kanada Rp379 miliar serta Australia Rp130 miliar.
Tiga komoditas utama impor Sumbar pada periode tersebut yakni golongan bahan bakar mineral (HS 27), ampas atau sisa industri makanan (HS 23) dan pupuk (HS 31) yang memberikan sumbangan masing-masing 83,84 persen, 6,21 persen dan 4,36 persen.
"Jadi, neraca perdagangan Sumbar Januari-Mei 2026 mencapai Rp12,58 triliun atau turun sekitar Rp2,6 triliun dibandingkan periode yang sama pada 2025," sebut dia.
Pewarta: Muhammad Zulfikar
Uploader: Laras Robert
COPYRIGHT © ANTARA 2026
