Kemendikbud: Pendidikan Inklusif Jangkau 116.000 Siswa

id Kemendikbud: Pendidikan Inklusif Jangkau 116.000 Siswa

Jakarta, (Antara) - Direktur Pendidikan Khusus Layanan Khusus Pendidikan Dasar Kemendikbud Mujito mengatakan pendidikan inklusif sudah menjangkau 116.000 siswa dari 322 anak berkebutuhan khusus yang ada.

"Pendidikan ini sudah melayani 116.000 siswa baik di sekolah reguler maupun khusus," ujar Mujito usai acara peluncuran Jawa Barat sebagai Provinsi Inklusif di Bandung, Senin.

Pendidikan inklusif adalah pendidikan yang berusaha menjangkau semua individu tanpa kecuali, tanpa melihat fisik, emosional, kecerdasan, mental, dan sebagainya.

Pendidikan inklusif bertujuan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental dan sosial, serta mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang menghargai keanekaragaman dan tidak diskriminatif.

Sistem pendidikan tersebut harus terbuka bagi semua individu. Untuk itu sekolah harus memiliki tiga kriteria yakni ramah terhadap anak, tidak diskriminatif, dan terbuka bagi semua anak.

"Tidak ada lagi orang tua yang malu dengan kondisi anak lantas menyembunyikan. Semuanya mempunyai hak yang sama dalam pendidikan," kata dia.

Menurut dia, anak yang berkebutuhan khusus tidak memerlukan pendidikan sebagai ajang kompetisi tetapi sarana menambah keahlian.

Saat ini, selain pendidikan inklusif dilakukan guru. Pendidikan tersebut juga menerapkan sistem sukarelawan, dimana anak yang sudah lulus mendampingi teman-temannya.

Di Indonesia sudah ada lima provinsi yang menjadi pelopor pendidikan inklusif yakni Jawa Barat, Aceh, Sumatera Selatan, DKI Jakarta, dan Kalimantan Selatan.

Sedangkan jumlah kabupaten/kota yang menjadi pelopor sudah ada 34.

Mujito mengatakan yang terpenting dalam pendidikan inklusif adalah anak dapat berinteraksi dengan teman sebayanya. (*/jno)
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar