Pemkot Pariaman perkuat keterlibatan sekolah antisipasi KLB campak

id Pemkot Pariaman,Pariaman, Sumbar,Yota Balad

Pemkot Pariaman perkuat keterlibatan sekolah antisipasi KLB campak

Wako Pariaman, Sumbar Yota Balad saat membuka Rakor Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di Pariaman, Senin. Antara/HO-Diskominfo Pariaman 

Pariaman (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Pariaman, Sumatera Barat memperkuat keterlibatan pihak sekolah di daerah itu guna mengantisipasi kejadian luar biasa (KLB) campak seiring dengan temuan peningkatan kasus penyakit menular itu di sejumlah daerah di Indonesia.

"Kita perlu memperkuat komitmen dan sinergi antarpemangku kepentingan karena keberhasilan program P2P (Pencegahan dan Pengendalian Penyakit) tidak dapat diatasi oleh jajaran Dinas Kesehatan sendiri," kata Wali Kota Pariaman Yota Balad saat rapat koordinasi (Rakor) P2P di Pariaman, Senin.

Rakor yang melibatkan kepala SD dan SMP sederajat serta camat se-Pariaman tersebut dilaksanakan karena dinilai menjadi salah satu kunci keberhasilan untuk menjawab tantangan dan permasalahan kesehatan.

Peserta Rakor tersebut dapat menyukseskan cakupan imunisasi campak pada anak usia sekolah yang selama ini menjadi permasalahan lemahnya pencegahan penyakit menular itu.

Yota mengatakan imunisasi pada anak usia sekolah penting dilaksanakan karena sebagai bentuk pertahanan diri dan meningkatkan daya tahan tubuh dari berbagai serangan penyakit termasuk penyakit menular.

Menurutnya melalui forum tersebut dapat dirumuskan langkah-langkah konkret, mengoptimalkan pendataan sasaran, dengan melibatkan kader setempat, dan menciptakan terobosan atau inovasi yang dis

esuaikan dengan kearifan lokal agar masyarakat mau mendatangi dan memanfaatkan fasilitas kesehatan.

“Lakukan sosialisasi secara konsisten dan berkesinambungan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat,” tegasnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pariaman, Nazifah mengatakan saat ini berbagai wilayah di Indonesia terjadi peningkatan kasus campak dan penyakit menular lainnya yang bahkan beberapa diantaranya berstatus KLB.

Menurutnya peningkatan kasus ini tidak hanya menunjukkan tingginya tingkat penularan campak tetapi juga mengindikasikan belum tercapainya kekebalan kelompok akibat cakupan imunisasi yang masih berada di bawah target nasional.

Ia berharap melalui Rakor tersebut terjadi sinkronisasi data antar unit, penetapan strategi respon cepat, optimalisasi peran lintas sektor, serta penguatan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi KLB.

Ia juga berharap melalui Rakor tersebut seluruh pemangku kepentingan memiliki komitmen yang sama dalam melindungi masyarakat dari ancaman campak dan penyakit menular lainnya.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan menyoroti meningkatnya kasus campak di Indonesia yang berkaitan dengan turunnya cakupan imunisasi rutin lengkap dalam beberapa tahun terakhir. Kejadian Luar Biasa (KLB) campak kembali muncul, salah satunya di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Direktur Imunisasi Kemenkes, dr. Prima Yosephine, menyebutkan cakupan imunisasi rutin lengkap di Indonesia pernah mencapai 92 persen pada 2018, namun turun menjadi hanya 87,8 persen pada 2023.

"Tren ini berimbas langsung pada meningkatnya kasus campak. Tahun 2022 tercatat lebih dari 4.800 kasus campak konfirmasi. Jumlah tersebut meningkat pada 2023 menjadi lebih dari 10.600 kasus," katanya.

Pada 2024 menurun menjadi lebih dari 3.500 kasus, namun kembali meningkat pada 2025, di mana hingga Agustus telah tercatat lebih dari 3.400 kasus. Selain itu juga terjadi KLB campak di sejumlah wilayah.

Pewarta :
Editor: Antara Sumbar
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.