Festival permainan tradisional edukasi pelajar Sawahlunto hadapi kecanduan gadget

id pelajar Sawahlunto ,Minangkabau, Jawa, Sunda, Batak,Prodi Seni Karawitan ISI Padang Panjang,UNESCO, Pemerintah Kota Sawahlunto, Provinsi Sumatera Bara

Festival permainan tradisional edukasi pelajar Sawahlunto hadapi kecanduan gadget

Wakil Wali Kota Sawahlunto Jeffry Hibatullah membuka festival permainan anak nagari yang diikuti pelajar SD, Selasa. (Antarasumbar/Yudha Ahada)

Sawahlunto (ANTARA) - Pemerintah Kota Sawahlunto, Provinsi Sumatera Barat mengedukasi pelajar SD untuk menghadapi tantangan kecanduan permainan digital berbasis gadget (gawai) melalui Festival Permainan Tradisional Anak Nagari.

Wakil Wali Kota Sawahlunto Jeffry Hibatullah, di Sawahlunto, Selasa, menyampaikan pemerintah daerah menilai perlu ada langkah nyata dalam melindungi generasi penerus dari risiko adiksi digital yang bisa menggerus nilai luhur budaya lokal.

“Ini adalah investasi untuk masa depan, langkah penyelamatan bagi generasi penerus. Kita jangan sampai lalai membiarkan anak-anak terlalu akrab dengan dunia digital hingga terjebak pada kecanduan,” kata dia.

Festival yang digelar Dinas Kebudayaan, Peninggalan Bersejarah, dan Permuseuman itu diikuti perwakilan dari 22 SD se-Kota Sawahlunto.

Ajang tersebut dinilai oleh juri dari kalangan akademisi dan praktisi kebudayaan.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan, Peninggalan Bersejarah, dan Permuseuman Syukri menyebut para peserta menampilkan beragam permainan tradisional yang dikemas dalam bentuk pertunjukan dengan durasi waktu tertentu.

“Dalam proses menampilkan ini, anak-anak belajar memahami unsur permainan tradisional, mulai dari latihan hingga tampil di panggung. Dari situ, mereka mengenali dan mencintai permainan tradisional yang kaya dengan nilai budaya dan sosial masyarakat,” katanya.

Salah satu juri yaitu dosen Prodi Seni Karawitan ISI Padang Panjang Sriyanto menilai Sawahlunto memiliki keunikan dalam permainan tradisional karena diperkaya keberagaman etnis.

“Di sini berkumpul generasi dari Minangkabau, Jawa, Sunda, Batak, dan lainnya. Ketika anak-anak memainkan permainan tradisional, lahir harmoni yang indah sekaligus menumbuhkan toleransi,” kata dia.

Sriyanto mencontohkan, permainan randai tidak hanya dimainkan anak-anak Minangkabau, tetapi juga Jawa atau Batak. Sebaliknya, kuda lumping tidak hanya dimainkan oleh anak-anak Jawa, melainkan juga Minangkabau.

“Ini mencerminkan akulturasi budaya dengan semangat persatuan atau bhinneka tunggal ika yang kuat di kota heritage warisan dunia versi UNESCO,” ujarnya.

Salah seorang peserta, Aqil, mengaku senang bisa tampil bersama teman-temannya di festival tersebut.

“Aku sebenarnya tidak terlalu percaya diri tampil di depan. Tapi kata ayah, bunda, dan guru aku harus bisa. Teman-teman juga kasih semangat, akhirnya aku berani tampil,” katanya.

Pewarta :
Uploader: Jefri Doni
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.